
“Bi ... yang tadi itu, suaminya Bu Lastri ya?” tanya Anyelir meneba-nebak.
Bi Ai pun mengangguk. “Benar, Bu Anye. Beliau adalah Pak Gunadi. Bapaknya Pak Dylan.”
Anyelir pun membulatkan mulutnya. “Ooh ....”
“Saya permisi dulu, ya, Bu Anyelir.” Bi Ai pun pamit untuk keluar namun Anyelir mencegahnya.
“Bi ... saya takut,” ujar Anyelir dengan keringat dingin yang masih menyiram punggungnya.
“Nggak usah takut, Bapak itu sebenarnya baik kok. Cuma ... ya begitu, kalau sedang marah memang seram,” jawab Bi Ai yang sama sekali tak menenangkan Anyelir.
“Justru itu, kan, Bi. Pak Gunadi, kan, sedang marah. Makanya saya takut.” Anyelir masih memegangi Bi Ai.
“Duh, ini tangan Bu Anye sampe dingin begini.” Bi Ai terkekeh.
“Makanya, saya takut.”
“Udah nggak apa-apa. Saya harus ke belakang. Mengondisikan para pelayan di rumah ini. Karena kalau bapak ada di rumah, beberapa hal di rumah ini juga harus berubah.”
Meski Anyelir terlihat keberatan, pada akhirnya Bi Ai tetap keluar dari kamar tersebut meninggalkan wanita yang sedang gugup sendirian itu.
Di saat Anyelir merasa tak enak karena sedang sendirian, pintu kamarnya kembali terbuka. Spontan wanita itu menatap ke arah pintu dengan mata yang berbinar.
“Bi Ai.”
Namun binar matanya itu malah berubah dengan tatapan redup karena yang datang ternyata bukan orang yang ia kira.
“Pa ... pak Dylan?” ujar Anyelir memanggil orang yang baru datang.
“Bapakku ingin menemuimu!” ucap Dylan dengan wajah tanpa ekspresi.
Anyelir mendongak, ia melihat jejak darah pada hidung Dylan. Tentu saja wanita itu langsung refleks mengamati luka yang diperoleh oleh suaminya itu. “Kamu kenapa?” tanya Anyelir sambil meletakkan telunjuknya untuk mengusap wajah tampan itu dengan pelan.
“Singkirkan tanganmu dariku!” titah pria tersebut.
Terkesiap. Wanita itu pun langsung menjauhkan tangannya dari wajah milik sang suami. “Maaf!” Kata itu yang ia ucapkan setelah ia merasa lebih baik.
“Cepat turun! Aku tak mau memanggilmu dua kali!” titah Dylan yang langsung berbalik meninggalkan Anyelir.
“Perasaan saat bertemu tadi, dia tidak memiliki luka itu?” gumam Anyelir. Namun masa bodoh baginya yang langsung berlari keluar kamar dengan langkah yang cepat.
Dengan perasaan khawatir, takut dan was-was menjadi satu, Anyelir pun turun. Sepanjang perjalanan menuju ke ruang tengah di lantai satu, wanita itu terus menerus memelintir jari tengah dan telunjuknya bergantian. Keringat dingin yang tadi keluar dari tubuhnya pun tak mengering karena kini ia malah harus menghampiri pria tua yang membuatnya segan dan takut itu.
Di sana sudah ada Dylan yang berdiri sambil menunduk di depan sang ayah.
Anyelir kali ini telah berdiri di antara posisi Dylan dan Lastri.
“Namamu siapa?” Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Pak Gunadi langsung membuat Anyelir berdebar ketakutan.
“A ... Anyelir,” gugup wanita itu.
“Baik, Anyelir. Karena kau sudah menikah dengan Dylan, perkenalkan aku adalah mertuamu. Gunadi! Panggil aku Pak Gunadi!”
“B ... baik, Pak.” Gadis itu masih menjawab dengan gugup.
“Aku bisa mencari tahu bagaimana latar belakangmu. Tapi ... ceritakan padaku segalanya tentang dirimu dan mengapa kau bisa berada di sini! Aku mendengar semuanya dari mulutmu.” tuntut Pak Gunadi.
“Sa ... saya ....”
Anyelir pun menceritakan tentang semuanya, termasuk tentang penyakit ibunya hingga ia menerima tawaran uang dari Dylan dengan imbalan ia harus mengandung anak dari pria tersebut.
“Maaf, hanya itu yang bisa saya jelaskan.” Anyelir pun menunduk.
Ia menyadari jika ucapannya barusan membuat Dylan marah dan semakin membencinya. Lantas jika tidak dijawab dengan jujur, maka ia harus mengarang cerita apa? Anyelir sangat tak pandai berbohong.
Gunadi mengusap ujung kumisnya yang berwarna keabu-abuan.
“Sekarang, Dylan. Kau pilih Andin atau Anyelir?” tanya pria tersebut pada anaknya.
Dylan pun langsung menatap pada bapaknya dan terkejut. Ia tak bisa memilih, keduanya ada untuk tujuan yang berbeda. Jika Andin memang karena dicintai olehnya, sementara Anyelir harus tetap menjadi istrinya karena akan mengandung anak keduanya. Setidaknya menjadi istri selama ia hamil dan sampai urusan kelahiran selesai.
“Aku ... mungkin lebih memilih mempertahankan Andin.” Sudah jelas jawaban Dylan akan seperti itu.
Lirikan mata Dylan bagaikan pisau yang menggores nadinya. Namun ucapan Dylan kali ini, bak belati yang menikam jantung pemiliknya.
Sadar, Anyelir sudah sangat sadar.
Tahu, perempuan itu sudah sangat tahu.
Bahkan sebelum masuk ke rumah ini dia tahu jika hal ini akan terjadi dalam hidupnya. Dylan tidak pernah memilihnya, dia tahu itu.
Dengan sisa-sisa ketegaran, wanita itu masih mencoba tegak berdiri di depan keluarga sang suami.
“Kau dengar itu, Anyelir? Tak ada gunanya kau berada di rumah ini!” tegas Gunadi yang tak ingin anaknya menjadi pria penggores hati perempuan.
Nyonya Lastri segera menatap khawatir sekaligus iba pada menantunya yang satu ini.
“Saya di sini karena Rio. Bukan untuk mendapatkan perasaan dari Pak Dylan,” jawab jujur Anyelir meski dalam tenggorokannya mulai tercekat.
“Pak, Rio sedang sakit. Bisakah tak perlu kita bahas mengenai masalah ini? Yang penting kita bisa mendapatkan obat untuk Rio. Pasti bapak sudah mendengar, kan, bagaimana Rio harus diobati?” sela Dylan yang mencoba bicara.
Gunadi mengembuskan napasnya perlahan, namun wajahnya terlihat sangat serius dengan sorot mata yang menyiratkan rasa tidak setuju pada ucapan anaknya. Dia tak berkata apa-apa, tapi langsung menuju ke sudut ruangan tempat stik golf tersimpan.
“Sepertinya aku harus menghukummu untuk menyadarkan dirimu dari keputusan egois yang kaubuat!” Pria itu berkata dengan menggebu-gebu dan mengangkat stik golf yang ada di dekatnya, lalu mengarahkannya pada Dylan.
“Bapak, Bapak, jangan!” Lastri mencoba menenangkan suaminya.
Sementara itu, Anyelir menutup wajahnya sendiri karena merasa takut.
“Memang apa salahnya, keluarga Ibu dan juga bapak mengharapkan seorang anak? Sementara wanita yang kucintai tidak mau melahirkan seorang anak. Aku bisa apa? Aku menerima istriku apa adanya, tapi kalian? Tuntutan kalian yang terpaksa menjadikan aku sebagai pecundang!” Kali ini Dylan pun membentak pada kedua orang tuanya. Baru kali ini dia berkata dengan nada tinggi pada mereka.
“Kurang ajar!” Gunadi makin tak bisa membendung amarahnya. Ketika stik golf terangkat, ia merasakan ada sesuatu yang menghantam bagian dadanya. Pria itu pun mengurungkan niat untuk memukul Dylan.
“Mungkin di mata kalian aku adalah pria tukang selingkuh, bukan?” Dylan masih melanjutkan apa yang ia bicarakan karena belum menyadari apa yang terjadi pada Gunadi. “Seandainya keluarga kalian tidak menuntutku untuk memiliki seorang anak, maka aku tak akan menyeret Anyelir kemari.” Pria itu terengah-engah karena merasa kesal, meski nada bicaranya kali ini sedikit lebih rendah dari yang sebelumnya.
Sementara itu, Anyelir pun akhirnya membuka wajahnya dan bertepatan dengan itu, stik golf di tangan Gunadi terjatuh. Pria tua bertubuh tinggi besar itu mendadak terjatuh sambil memegangi dadanya.
“Pak Gunadi!” teriak Anyelir sambil buru-buru mendekati mertua laki-lakinya tersebut.
Dylan mendengar jeritan Anyelir dan dia pun ikut menoleh. “Bapak?”