
Anyelir pun urung mengangkat panggilan dari Dylan, ia hanya menekan tombol penerima panggilan lalu segera menyerahkan ponsel untuk sang ibu mertua. “Ini, Bu. Saya kembali lagi, ya?”
Lastri langsung menerima ponsel sambil mengangguk.
Entah apa yang dibicarakan oleh Lastri, hanya saja dalam hati Anyelir, perempuan itu berharap agar sang ibu mertua tak membuat suasana hati anaknya buruk lagi. Karena setelah ini Anyelir akan datang ke tempat kerja Dylan, dia takut jika pria tersebut melampiaskan kekesalan dengan menuduh Anyelir mempengaruhi ibundanya.
Sambil memasukkan sedikit demi sedikit kuah sup dalam mangkuk tahan panas dan anti tumpah, Anyelir masih memperhatikan bagaimana Lastri bicara.
Tak lama, Lastri terlihat tengah menelepon sambil menyeruput kuah supnya.
Sluuuurp ....
Suara itu bahkan sampai terdengar jelas sampai dapur, tapi suara pembicaraan Nyonya Lastri sungguh samar tak terdengar jelas, bahkan terkadang sepertinya perempuan paruh baya itu malah seperti sedang berbisik.
“Ibu ... apa sudah?” tanya Anyelir setelah ia membungkus rapi bekal tersebut menggunakan kain ala bekal-bekal yang dibawa orang Jepang.
Lastri menoleh dan memandangi menantunya.
“Ah, sepertinya Anyelir sudah selesai.” Lastri pun langsung mematikan ponselnya dan memberikan pada Anyelir.
“Dia sudah sangat kelaparan katanya.” Lastri terkekeh sambil lanjut memakan sup iga buat sang menantu.
“Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu.” Anyelir pun berlalu dari rumah mewah tersebut bersama seorang sopir pribadi yang khusus untuk mengantar jemput dirinya.
*
Bekal berbungkus kain hijau dengan corak putih tersebut disimpan di samping tempat Anyelir duduk. Melalui kursi penumpang paling belakang, perempuan itu mengamati suasana perjalanannya.
Kemudian, salah satu merek produk kecantikan dan perawatan kulit terpampang di banner tersebut. Dia pun tersenyum dengan hati yang pilu.
Apalagi saat dirinya ingat, jika salah seorang model sekaligus selebgram yang didukung oleh brand tersebut adalah Andin atau bahasa kerennya adalah endorse. Terkadang, perempuan tersebut sering merasa rendah diri, karena merasa dirinya ini siapa dan ingin bersaing dengan siapa.
Meski untuk saat ini, keinginan untuk bersanding dengan Dylan telah luntur, tapi rasa tak percaya diri itu masih ada. Kadang ia sendiri masih bingung, kenapa dia bisa berada di sini? Kenapa tiba-tiba Dylan adalah suaminya? Dirinya masih belum bisa percaya. Terutama sat Dylan melampiaskan amarah padanya, Anyelir benar-benar tak mengerti.
Yang ia tahu hanyalah satu.
Rio, perempuan itu hanya ingin menyembuhkan Rio.
Hanya sang buah hatilah yang menjadi alasannya selama ini, untuk hal yang lain, Anyelir juga tak tahu kenapa bisa seperti itu?
Kenapa tiba-tiba Nyonya Lastri sangat berpihak padanya? Atau ketika Tuan Gunadi tiba-tiba pula menjadi lebih peduli dan mendukung Anyelir ketimbang Andin?
Hal itu semuanya tak ada dalam rencana Anyelir.
Ponsel yang dibawa Anyelir dalam tas mungilnya pun bergetar.
“Pak Dylan?” gumamnya yang kemudian ia mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, ada apa, Pak?” tanya Anyelir.
“Oh, maaf, itu ... karena ....”
“Sudahlah, jelaskan nanti saat di kantorku, sekarang kau bergegas kemari!”
Tanpa kalimat penutup atau sekedar sampai jumpa, pria tanpa akhlak bagi Anyelir itu langsung menutup panggilan.
“Hiiish!” Perempuan itu menatap pada layar ponsel dan rasanya ia ingin memukul layarnya dari benda pipih tersebut karena menampilkan wajah sang suami.
“Pak, bisa agak lebih cepat! Pak Dylan sedang menungguku,” ucap Anyelir memperingatkan pada sopirnya.
“Baik, Bu.” Sang sopir langsung menginjak pedal gas dengan lebih kencang.
*
Orang yang baru saja menelepon Anyelir pun kali ini sedang mondar-mandir sesuka hati. Dia melihat ponsel, tak ada panggilan dari istri keduanya itu. Ia melihat waktu semakin cepat dan sebentar lagi rapatnya akan segera dimulai, sehingga Dylan semakin khawatir jika dirinya tak bisa melihat perempuan berpipi merah dengan bibir bagai buah sakura tersebut.
Tok tok
Tera mengetuk pintu dan membuat Dylan menoleh. Kali ini matanya langsung tertuju pada perempuan cantik yang sudah tak pernah memakai kacamatanya lagi di belakang sang sekretaris.
“Pak Dylan, ini Bu Any ....”
“Hei, kau.” Ucapan Dylan memotong ucapan Tera. Ingin dia bersungut, namun itu adalah bosnya sendiri. Maka dari itu, lebih baik dia pergi saja dari kantor sang bos.
Anyelir langsung menunduk seraya menghampiri Dylan.
“Apa, Pak? Maksudnya?”
Karena merasa dia telah salah mengungkap pertanyaan, Dylan langsung mengganti pertanyaannya. “Maksudku, sejak kapan kauganti memakai lensa. Kau jadi terlihat sangat-sangat jelek!” Dia mengucapkan hal tersebut tanpa menatap pada Anyelir.
“Itu ... ini ....”
“Kenapa, kau pikir akan terlihat lebih cantik karena memakai soft lens?” sindir Dylan dengan cara yang agak aneh.
Anyelir menggeleng. “Ini supmu!” Perempuan itu langsung menyodorkan kantung bekal pada Dylan.
Dylan mengambil bekal itu lalu menyimpannya di atas meja tamu miliknya.
Saat Dylan hendak membuka kain penutup, Anyelir pelan-pelan berbalik dan hendak pergi diam-diam dari sana.
“Mau ke mana kau?” tanya Dylan agak keras pada perempuan tersebut.
Anyelir terkejut, ia pikir bisa pergi dengan mudah, tahu-tahunya ... Dylan malah mencegahnya. “Aku ... harus pulang.”
“Diam di sini!”
“Tapi ....”
Dylan menatap Anyelir tanpa berkata apa-apa, hal tersebut membuat Anyelir jadi bingung dan salah tingkah.
“Baiklah,” jawab perempuan itu karena mendadak otaknya bingung. Bukan karena ia takut pada kemarahan Dylan, tapi kali ini karena ia tak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Siapkan untukku!” Dylan yang tadinya hendak membuka makanannya sendiri, mendadak ingin dibukakan oleh Anyelir.
Anyelir pun menurut saja saat itu. Ia membuka kain penutup bekal, lalu mengeluarkan semua kotak itu di meja. Perempuan itu menyiapkan satu per satu hingga akhirnya Dylan bisa tinggal memakannya.
“Kau juga membawa sendoknya dari rumah?” tanya Dylan.
Anyelir mengangguk tanpa bersuara.
Dylan pun mulai memakan nasi dan sup iga yang masih hangat itu di depan Anyelir.
Perempuan itu menatap suaminya dengan perasaan yang sedikit bingung. Pria ini katanya tak pernah makan bekal makanan yang dia bawa dari rumah? Tapi sekarang dia sangat lahap memakan bekal dariku?
“Ah, tidak, Anyelir! Jangan pernah bawakan dia bekal lagi kecuali dia memintanya. Salah-salah, dia akan membuang bekal buatanmu!” Anyelir berbicara dalam hati untuk memarahi dirinya sendiri karena sempat berpikir untuk membuat bekal bagi Dylan.
Drrrt ... drrrt ....
“Dari siapa?” Dylan langsung bertanya begitu mendengar ada bunyi getaran ponsel milik perempuan di hadapannya.
Anyelir membuka tas mungilnya dan melihat ada panggilan. “Oh, ini Dokter Rian.”
“Jangan diangkat!” titah Dylan langsung.
Anyelir pun terkejur sambil mengerutkan dahi. “Bagaimana jika ini penting?” elak Anyelir.
“Kalau begitu biar aku yang angkat!” Dylan langsung merebut ponsel dari tangan Anyelir.
“Hai, ada apa? Ini aku yang mengangkat, Anyelir sedang bersamaku!”
Anyelir mengerucutkan bibir sakuranya itu karena merasa jika Dylan sangat aneh.
“Oh, biarkan saja. Besok aku yang ambil!” Pria itu langsung mematikan ponsel tersebut, persis dengan cara saat ia mematikan panggilan dengan Anyelir tadi.
Drrrrt ... drrrrt ....
Getaran kembali terdengar dari sumber suara lain, mungkin itu ponsel milik Dylan yang ada di meja kerjanya.
“Tolong ambilkan,” pinta Dylan sambil memberikan kembali ponsel Anyelir sementara dirinya melanjutkan makannya.
“Ini dari Bu Andin,” ucap Anyelir.
Dylan langsung terperanjat dari tempat duduknya. Ia terkejut, karena Andin telah membuka lagi kontaknya dan tidak memblokir.
Pria itu langsung mencari tempat yang agak jauh dari Anyelir untuk berbicara dengan calon mantan istrinya tersebut.
“Giliran Bu Andin yang nelpon, dia mojok. Padahal Dokter Rian meneleponku pasti karena ada urusan pekerjaan yang penting. Dasar egois!”