
Duduk berhadapan dengan dokter tampan dan masih muda yang satu ini bukanlah hal yang biasa untuk Anyelir. Ini adalah pertama kalinya, ia dipanggil dan diajak bicara empat mata di ruangan dokter ini.
“Ada apa, Dok?” tanya Anyelir saat dirinya masuk ke ruangan serba putih tersebut.
Terlihat Dokter Rian sedang melepaskan jas snelly miliknya dan menggantungkan di sebuah gantungan yang ada di sana.
“Maaf mengganggu waktumu, silakan duduk.” Dokter pria itu pun kini berhadapan dengan Anyelir.
“Tidak apa-apa.”
“Sebenarnya, aku tidak mau ikut campur dengan urusan keluarga, apalagi ini ada di jam kerja. Tapi ... aku akan pergi sebentar lagi, jadi ... mumpung masih ada waktu, aku ingin bertanya tentang beberapa hal padamu. Itu juga, jika kau tak keberatan,” ujar Rian mengawali pembicaraan mereka.
“Tentang ... apa, memangnya?” Anyelir tidak bisa semata-mata menjawab jika dirinya tak keberatan, semuanya tergantung dengan topik yang akan dibicarakan.
“Yang kemarin. Itu tentang ... kau dan Dylan, kawanku.” Rian memberitahu pada Anyelir jika dirinya dan Dylan itu berteman.
“Oh ....” Anyelir mengangguk.
“Jadi kau tak keberatan?” tanya Rian memastikan sekali lagi.
“Tergantung pertanyaannya,” timpal Anyelir sejujurnya.
“Baiklah. Aku dengar kalian menikah. Apa itu benar?” Rian langsung menanyakan pada hal yang menjadi intinya.
Sepersekian detik, Anyelir berpikir sejenak. Namun pada akhirnya ia mengangguk perlahan. “Iya, Dok.”
Dokter Rian pun mengembuskan napasnya dengan agak kencang. “Baiklah jika memang begitu. Aku mendengar kabar ini dari keluargaku, kebetulan ... keluarga kami juga menjadi kolega bisnis. Tapi, apa kau merahasiakan pernikahan kalian? Kulihat kau tak memberitahu pada kawan-kawanmu.”
Anyelir terdiam kali ini. Ia bukannya tak ingin untuk memberitahu, namun ada banyak hal yang dirinya tak ingin menjelaskannya pada kawan-kawannya.
“Maaf jika pertanyaanku tidak nyaman.” Rian pun meralat ucapan sebelumnya. “Sekali lagi, jika kau tidak nyaman kau boleh tak menjawab. Aku akan bertanya lagi, apa kau hamil? Mengandung anak Dylan? Sehingga pernikahanmu dirahasiakan?”
Wanita itu pun membelalak dan menggelengkan kepala. “Ah, tentu tidak!” sangkalnya. Dirinya memang tidak sedang mengandung anak dari Dylan.
“Lalu ... kenapa kau menikah secara sembunyi-sembunyi dengannya. Karena, ketika perayaan hari jadi perusahaan orang tuaku, Dylan dan Andin datang secara terpisah dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hubungan mereka pun menjadi gosip banyak orang karena terlihat jika ada keretakan dalam rumah tangganya. Jujur, aku ... sangat, sangat tidak berharap jika kau menjadi perusak hubungan mereka. Tolong jawab aku jika prasangkaku salah,” tuntut Rian kali ini.
Dari raut wajah dokter muda tersebut, terlihat ia sangat peduli pada rumah tangga sang sahabat juga terhadap Anyelir. Sepertinya, dia menilai Anyelir sebagai wanita baik-baik yang tak mungkin melakukan hal keji semacam merusak rumah tangga orang lain.
Kali ini Anyelir menggeleng lagi perlahan. “Aku tidak tahu.”
Rian pun menatap iba pada wanita di depannya. “Apa maksudmu?”
Anyelir hanya diam. Secara teknis, dirinya memang tidak merusak rumah tangga Dylan dan Andin. Namun, karena saat ini ia harus mengandung adik untuk Rio, maka dari itu ia terpaksa harus kembali lagi dalam kehidupan keluarga Bagaskara itu.
“Dan satu lagi, kenapa Rio memanggilmu ‘mama’? Apa secepat itu kau menyingkirkan Andin dengan memanfaatkan Rio dan merebut hatinya?” tanya Rian sekali lagi.
Anyelir kembali menggeleng. “Bukan begitu. Rio memang anakku,” jawab Anyelir kali ini yang semakin membuat Dokter Rian tercengang.
“Ha?” Pria itu bertanya-tanya.
Hanya saja kali ini, Anyelir berdiri dari posisinya dan ia pun permisi pada dokter muda di hadapannya.
“Saya hanya bisa menjawab sejauh itu, Dok. Maafkan saya. Permisi!” Anyelir pun meninggalkan ruangan Rian dengan mata yang memerah.
*
Anyelir telah kembali dari tugasnya sebagai ko-as di rumah sakit. Dia langsung pulang ke rumah Bu Lastri karena seorang sopir menjemput dari tempat kerjanya.
Namun yang jadi masalah sekarang adalah sepasang ibu dan anak laki-lakinya yang mencegat Anyelir di ruang tengah sebelum ia masuk kamar. Apalagi raut wajah keduanya sangat berlawanan. Jika sang ibu begitu ramah melihat kedatangan Anyelir, maka sang anak laki-laki justru membuang muka dan bersikap dingin karena kedatangan wanita itu.
“Anyelir, duduklah. Ada yang ingin ibu bicarakan.” Lastri menarik salah satu lengan Anyelir dengan perlahan agar menantunya itu mau duduk dan membicarakan sesuatu dengannya.
“Ada apa, Bu?”
“Jadi begini ... karena kita harus segera memberikan obat untuk Rio, maka dari itu ... ibu sangat berharap kau dan Dylan untuk segera melaksanakan program bayi tabung lagi. Bagaimana?” Lastri sama sekali tidak masalah dengan bagaimana proses yang akan dilalui oleh pasangan ini. Ia hanya mementingkan bagaimana hasilnya nanti. Yang penting, Rio mendapatkan adik dan memiliki obatnya.
“Emm ... itu artinya, kita harus cek kesehatan terlebih dahulu,” jawab Anyelir tanpa menunjukkan keberatan.
“Jadi kau tidak keberatan jika kalian melakukannya sesegera mungkin?” tanya Nyonya Lastri lagi.
Anyelir menggeleng. “Saya tak masalah.”
“Walau nanti kau harus cuti?”
Anyelir menjawab lagi dengan penuh keyakinan. “Benar, Bu. Saya tak masalah.”
Lastri pun kali ini bernapas dengan lega.
“Ya sudah, kalau begitu. Ibu lega jika kau setuju. Kau boleh masuk kamarmu sekarang,” ucap Lastri pada Anyelir.
Wanita itu pun pamit untuk masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, ia meletakkan barang-barangnya dan duduk di depan cermin. Melepaskan kacamata dan juga ikat rambutnya. Anyelir menyadari penampilannya memang tidak menarik seperti Andin, mantan istri Dylan.
“Ah, Anyelir. Kenapa kau berpikir untuk menggantikan posisi Andin, itu tidak penting sekarang. Yang terpenting adalah kesembuhan Rio. Tak peduli meski Pak Dylan tidak mencintaimu!” Wanita itu berbicara sendiri pada bayangannya dalam cermin.
Sesaat setelah ia berbicara sendiri, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
“Anyelir! Kita harus bicara!”
Wanita itu pun terkejut karena kedatangan Dylan secara tiba-tiba.
“Ya ampun! Kenapa Anda tidak mengetuk pintu dahulu?” protes Anyelir pada pria yang berdiri di balik pintu kamarnya itu.
“Kita harus bicara!” ulang Dylan tanpa peduli dengan protes Anyelir sebelumnya.
“Ada apa, Pak?” timpal wanita tersebut tanpa menatap pada lawan bicaranya.
“Bisakah kita menunda program bayi tabung? Aku ... masih butuh waktu untuk mencari Andin,” ucap Dylan.
Dalam hati Anyelir menggerutu. Karena apa pun yang dilakukan oleh Dylan, segalanya masih serba Andin. Tapi ... Anyelir bisa apa, dia hanya orang ketiga dalam hubungan mereka. Meski ia tak tahu apa penyebab istri pertama Dylan itu pergi, namun Anyelir yakin jika dirinyalah penyebab yang sangat kuat dalam kepergian Andin.
“Itu ... terserah Anda.”