Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
50. Ancaman Beruntun


Anyelir berbalik dan terkejut melihat adanya Dylan telah berdiri tepat di belakangnya.


“Apa yang ada di ponselmu?” tanya pria tersebut.


Spontan perempuan itu menyembunyikan ponsel ke belakang tangannya. Dia tak mau Dylan tahu segala sesuatu tentang Joni apalagi perkara hutang tersebut.


“Dari Rian, bukan?” tuduh Dylan dengan mata tajam.


Anyelir menggelengkan kepala. Untuk apa Dokter Rian mengiriminya pesan? Begitu batin Anyelir. Tak ada kepentingan antara dirinya dengan pria tersebut. Kecurigaan Dylan benar-benar tak masuk akal.


“Kemarikan ponselmu!” paksa Dylan dengan wajah arogannya.


Padahal tadi malam hubungan mereka sempat tidak baik-baik saja, tapi sekarang Dylan bukannya membujuk, tapi malah mengintimidasinya. Pria macam apa yang ada di depannya ini?


“Tidak usah,” timpal Anyelir sambil tetap menyembunyikan ponsel itu di belakang punggungnya.


“Kemarikan atau tidak!” ujar Dylan yang masih dipenuhi penekanan.


Anyelir dengan segera berbalik dan menghapus pesan tersebut sambil membelakangi Dylan.


“Hei! Hei! Kau sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dariku, ya!” Pria itu pun menjadi semakin curiga padanya.


“Ini bukan dari siapa-siapa!” elak Anyelir yang menggenggam ponselnya.


“Kalau bukan dari siapa-siapa, kenapa kau sembunyikan ponselmu dan mencoba menghapus pesan tadi.” Dylan menyudutkan Anyelir di balik pintu.


“Itu ... itu ....” Anyelir juga bingung harus menjawab apa. Pasalnya, Dylan tak tahu masalah ayah tirinya yang bernama Joni ini.


Tanpa menunggu lama, Dylan pun merampas ponsel yang sedang digenggam oleh Anyelir.


“Eh, hei, kenapa kauambil ponselku?” protes Anyelir yang malah mendapat tatapan tajam dari suaminya.


“Diam di sana!”


Dylan pun mengotak-atik ponsel tersebut dan memeriksa pesan yang datang.


Untungnya tadi Anyelir sempat menghapus pesan tersebut, sehingga Dylan tak dapat menemukannya.


Namun, karena Dylan memang cemburu pada satu nama, sehingga pria tersebut langsung membuka ruang percakapan antara  sang istri dan juga sahabatnya yang menjadi dokter tersebut. Kecurigaannya sudah mencapai level tertinggi, sehingga ia pasti langsung memeriksanya.


Tapi sayang, pria itu tak menemukan segala sesuatu yang aneh dalam percakapan mereka. Sehingga dia semakin mencurigai sang istri.


“Yang kauhapus barusan adalah pesan terbaru dari Rian, kan? Kau menyembunyikan percakapan kalian, kan?” tuduh Dylan.


Anyelir menggeleng bukan karena mengelak, tapi karena memang dirinya tidak berkirim pesan dengan seniornya tersebut.


“Lantas, kenapa riwayat pesan kalian hanya ada dua hari yang lalu?” tanya Dylan penuh kecurigaan.


Anyelir pun mengerutkan dahinya. Apa dirinya harus setiap hari saling berkirim pesan dengan pria lain? Kenapa dengan Dylan dan segala tuduhan tak masuk akalnya?


“Jangan pernah berpikir untuk bisa dekat dengan Rian atau aku akan ....” Dylan tak melanjutkan kalimatnya, ia sendiri tak tahu apa yang akan ia lakukan jika Anyelir dekat dengan sahabatnya tersebut.


“Akan apa?” Perempuan itu juga jadinya penasaran dengan kalimat Dylan yang selanjutnya.


“Aku akan ....”


Keduanya terdiam sejenak, sambil meremas ponsel milik Anyelir, Dylan menatap wajah cantik di depannya itu. Bibir semerah buah sakura yang ada di depannya seakan menarik Dylan untuk melakukan sesuatu.


Dan ....


Cup!


Dylan mencium bibir Anyelir cukup lama. Pria itu hanya sekedar mengecup tanpa menggerakkan yang lainnya apalagi menerobos dan melilit indra pengecap milik Anyelir. Meski sangat ingin melakukannya, tapi Dylan harus menahan karena saat ini bukanlah waktu yang tepat. Setidaknya dia telah menunjukkan hukuman yang pantas untuk sang istri jika wanita itu mencoba-coba untuk dekat dengan pria lain.


Wanita itu mematung merasakan rasa lembap yang seakan masih mengulum bibir sakuranya. Bahkan aroma maskulin dari parfum milik Dylan semakin menempel di tubuh wanita tersebut karena posisi mereka yang sangat berdekatan tadi.


Dylan pun meninggalkan Anyelir dan ia segera berangkat untuk ke kantor.


Perempuan itu juga menyusul ke luar dari kamar Dylan menuju ke kamar anaknya untuk melihat apakah Rio sudah bangun atau belum?


Saat mereka berjalan di koridor lantai dua, Dylan berbalik dan melihat Anyelir yang berjalan di belakangnya.


“Nanti malam kau berangkat jam berapa?” tanya Dylan pada istri keduanya yang hendak bekerja shift malam sebagai dokter jaga tersebut.


Anyelir pun menjawab. “Pukul enam, tapi aku akan berangkat sejak pukul lima.”


“Kau akan menginap?” tanya Dylan lagi penuh dengan nada posesif.


Anyelir mengangguk.


Setelah itu, Dylan tak berkata apa-apa lagi dan langsung pergi meninggalkan Anyelir.


*


Matahari semakin tinggi, Rio dengan senang hati belajar bersama ditemani sang ibunda. Dia menggambar dan menempel kertas warna-warni bersama Anyelir. Nyonya Lastri juga berada di samping mereka. Perempuan paruh baya itu merasa bahagia karena hari ini menantu tengah ada di rumah. Suasana baru untuk rumah mereka, karena sejak kemarin Anyelir pergi setiap pagi dan pulang ketika petang.


“Mama, lemnya habis,” ujar Rio sambil menunjukkan batang lem stik miliknya. Ternyata pasta lengket yang ada di sana telah tandas digunakan oleh anak itu untuk menempelkan kertas.


“Biar mama ambilkan lagi.”


Perempuan itu pun langsung berdiri dan meninggalkan anaknya.


Sang bocah melakukan pekerjaan lain selagi menunggu lemnya yang baru datang kembali. Dia pun menggambar berbagai macam benda dan mewarnainya.


“Kenapa mama cukup lama?” tanya Rio.


Nyonya Lastri menggeleng. “Mungkin mama sedang mencari lemnya dulu.”


“Mama lupa menyimpan lem?” tanya Rio lagi dengan nada polosnya.


Sebagai nenek, Lastri mengangguk lagi untuk menghibur Rio. “Iya, sepertinya.”


Rio pun terkekeh sambil melanjutkan goresan pensil warnanya ke gambar yang lain.


“Untuk gambar robot yang ini dan ini, aku ingin mewarnainya pakai kertas warna saja.” Rio menyimpan pensil warna miliknya ke dalam tempat pensil berbentuk lingkaran dengan warna biru.


“Iya, kalau begitu lebih baik Rio gunting-gunting saja dulu kertasnya sambil menunggu mama kembali kemari membawa lem,” usul Lastri agar Rio tidak bosan sang menunggu sang ibunda.


Rio mengangguk sambil terus menggunting kertas warna-warni menjadi potongan-potongan kecil.


Sementara itu, di lantai dua, Anyelir yang sedang menggenggam lem malah melihat ke ponselnya terlebih dahulu.


Wanita tersebut merasa kaget ketika nomor baru yang pagi tadi mengancamnya itu kembali mengiriminya pesan.


Pesannya berisi ancaman sama seperti sebelumnya. Untuk itu, wanita dengan rambut sepunggung itu menjadi lebih gelisah karena kini pengancamnya membawa-bawa anak dan suaminya.


Saat Anyelir sedang mencoba menghapus pesan berisi ancaman tersebut, dia mendapat pesan baru lagi.


Kali ini pesan tersebut berupa sebuah potret dan Anyelir pun mengunduh gambar tersebut.


“Ini ... mobil Dylan?” gumam Anyelir saat melihat pelat nomor yang sangat ia kenal itu.


Lalu pria misterius itu kembali mengirim pesan untuk Anyelir.


‘Aku sedang mengendarai truk yang ada di belakang mobil suamimu ini!’