Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
54. Kehilangan Rumah


‘Aku pinjam sertifikat rumahmu dulu untuk bayar hutang. Lumayan, ini laku seratus juta.’ ~ Nomor tak dikenal.


Pagi-pagi buta Anyelir berlari ke luar dari rumah keluarga Bagaskara. Belum hilang lelah dan kantuknya usai bekerja shift malam di rumah sakit, ia sudah mendapat pesan baru lagi dari nomor tak dikenal yang berbeda. Tapi dapat diduga olehnya, jika orang yang mengirim pesan tersebut adalah Joni, Si Ayah Tiri.


Dengan napas yang terengah-engah, Anyelir mencari bus yang berhenti. Hanya saja, sepagi itu belum ada bus yang beroperasi.


Tapi untungnya, ada beberapa taksi yang berlalu lalang. Perempuan itu menghentikan salah satu dan menaikinya. Dengan perasaan was-was, Anyelir ingin segera sampai ke rumah.


Rumah itu adalah satu-satunya harta yang menjadi milik Anyelir.


Sejak dulu, dia sang ibu tak memiliki rumah dan selalu mengontrak. Setelah ibunya bercerai dengan Joni dan jatuh sakit, Anyelir menjadi istri kontrak Dylan dan mengandung Rio. Dia mendapatkan uang dari Dylan untuk pengobatan ibunda dan sisanya ia gunakan untuk membeli sepetak tanah lalu dibangun rumah di atasnya.


Tidak besar memang, karena membeli tanah di kota besar Jakarta itu sangat mahal. Asal ada tempat berteduh bagi mereka saja sudah sangat bersyukur. Hingga sang ibu tiada, Anyelir menempati rumah itu sendirian dan memutuskan untuk menjadikan tempat tersebut sebagai kenangan.


“Berhenti di gang depan rumah, Pak.”


Anyelir pun turun dari taksi dan segera berlari. Kali ini matahari telah mulai naik ke singgasananya.  Cahaya kuning kebiruan mulai menyirami pagi di atas bumi tempat perempuan itu berpijak. Kaki kecil itu melangkah lebih cepat sejak turun dari mobil karena ia ingin bergegas sampai ke rumah. Dengan harapan, agar ia masih sempat bertemu Joni dan merebut kembali sertifikat rumahnya.


“Miauw, miauw, miauw!” Suara kucing di pinggir jalan menyambut kedatangan Anyelir.


“Hai, Dydy! Maaf aku tak membawa makanan untukmu. Aku harus buru-buru,” sapa Anyelir pada kucing milik tetangga di rumah lamanya tersebut.


Perempuan itu lanjut berlari dan kemudian ia melihat ke arah rumahnya.


Pintu yang tidak terkunci, bagian dalam yang berantakan, lalu jejak sepatu di mana-mana.


Tidak ada Joni!


Pria itu sudah pergi rupanya.


Anyelir memeriksa kunci pintu yang dibobol oleh ayah tirinya tersebut. Bagian gagangnya juga rusak dan engsel bagian atasnya terlepas.


Tapi bukan itu yang penting sekarang, jika semua itu bisa diperbaiki, beda halnya dengan sertifikat rumah. Dia harus bisa menemukan sertifikat rumah tersebut dengan segera.


Dia dapat melihat lemari bajunya berantakan, meja riasnya sudah hancur tak karuan. Perasaannya semakin tidak enak.


Sambil menutup mata, Anyelir mencoba membuka laci yang ada di dalam lemari.


Kosong!


Tidak ada!


Hilang!


Sertifikat rumah itu raib, menimbulkan kepanikan dalam diri Anyelir. Perempuan itu langsung kebingungan dan mengobrak-abrik seluruh isi rumah untuk mencari. Hingga semua benda sudah tak berada pada tempatnya lagi, Anyelir menjadi semakin kebingungan karena isi rumah yang terlanjur sangat berantakan.


Perempuan itu pun mencoba mengambil ponselnya dan mencari nomor baru yang mengirim pesan tadi. Anyelir panik sambil menghubungi nomor itu berkali-kali, hanya saja masih belum ada jawaban.


Wanita itu duduk bersandar pada dinding sambil terus membiarkan isak tangis membasahi wajah cantiknya.


“Halo! Halo!” Akhirnya nomor tersebut dapat dihubungi dan tersambung. “Joni! Kaubawa ke mana sertifikat rumahku ini?” bentaknya langsung tanpa basa-basi.


Suara di seberang disertai dengan suara orang batuk dan membuang cairan dari hidung. Anyelir bergidik sejenak begitu mendengarnya. “Aku jual ke seorang saudagar. Tenang saja, dia bilang rumah itu tidak akan diapa-apakan. Kau masih bisa menebusnya kalau sudah punya uang,” jawab pria tersebut dengan enteng.


Namun orang yang di seberang sana masih menganggap enteng dan tak peduli dengan kesulitan Anyelir. “Kaujual saja perhiasanmu pemberian dari keluarga Bagaskara itu sebagian Bisa kau gunakan hasilnya untuk menebus rumah tersebut.”


Anyelir menganga tak percaya mendengar jawaban bodoh dari seorang Joni melalui telepon.


“Sudah ya, jangan telepon lagi. Ini aku kirim kontak saudagar yang membeli rumahmu!”


Setelah itu, telepon pun terputus dan Joni mengirimkan sebuah kontak baru untuk disimpan oleh Anyelir. Itu adalah kontak milik saudagar yang membeli tanah Anyelir.


Perempuan itu pun jatuh dan lemas. Ponselnya tergeletak di atas lantai, sementaranya dirinya merosot hingga terkulai di atas lantai rumahnya.


Kenapa dirinya tak bisa lepas dari pria tak tahu diri yang dulu sempat menipu ibunya. Penyakit sang ibu mulai sering kambuh semenjak menikah dengannya, bahkan setelah mereka bercerai pun sang ibu dan Anyelir masih harus berurusan dengan Joni.


Mulai pedagang yang menagih hutang ataupun rentenir yang meminta pembayaran beserta bunganya. Anyelir sebenarnya sudah muak dengan perilaku sang ayah tiri.


Anyelir pun melihat pada kontak saudagar yang diberi oleh Joni.


“Pak Wira.”


Dia membaca nama kontak pemberian Joni itu. Wanita tersebut pun segera menelepon pria bernama Wira dan mencoba bernegosiasi untuk membatalkan transaksi jual beli yang tidak sah itu.


Berulang kali, Anyelir mencoba menghubungi. Akan tetapi kontak tersebut sama sekali tak mengangkat panggilan darinya.


Akhirnya Anyelir berinisiatif untuk mengirimkan pesan agar dibaca oleh pembeli rumahnya tersebut.


‘Mohon maaf, saya Anyelir. Pemilik sah rumah yang dijual oleh Joni. Bisakah kita bicarakan lagi transaksi jual beli tersebut? Karena saya tidak bermaksud untuk menjualnya.’ ~ Anyelir.


Perempuan itu pun kemudian tergeletak di atas lantai lalu memejamkan mata sampai ia pun lelap tertidur.


Sampai sekitar pukul sembilan, Anyelir pun bangun dan merasa lemas karena ia belum sarapan. Nyonya Lastri dan Bi Ai berulang-ulang menelepon nomornya, akan tetapi tak diangkat karena Anyelir sempat tidur sebelumnya.


Perempuan itu pun keluar dari rumahnya dalam keadaan berantakan dan mata yang sembab. Ia tak bisa lagi berpikir bagaimana cara dirinya untuk mendapatkan rumahnya. Uang seratus juta bukan jumlah yang kecil dan cukup sulit untuk ia dapat. Apa yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan lagi rumahnya?


*


Dengan langkah putus asa, Anyelir berjalan kaki dari rumahnya menuju ke arah halte bus.


Perempuan itu melamun sepanjang jalan, menatap pada jendela bus yang membawanya pergi. Dalam hati, ia berharap semoga pria bernama Wira itu mau bernegosiasi dan membatalkan transaksi.


Tubuhnya kini semakin lemas disertai dengan keringat dingin. Wajah Anyelir terlihat kusam dan juga sayu karena ia sedang bersedih.


Bus pun berhenti di halte dekat rumah keluarga Bagaskara, Anyelir pun turun dan berjalan kaki menuju ke rumah mewah yang letaknya beberapa meter dari sini.


Drrrt drrrrt


Ponsel Anyelir bergetar dan perempuan itu segera membukanya.


Pria yang membeli rumahnya itu ternyata telah membalas pesannya.


‘Tidak ada negosiasi ulang. Jika mau membicarakan lagi, datanglah ke Hotel Anggrek sambil membawa uang tebusan atau jika kau tidak memilikinya, cukup bawa tubuhmu saja kemari.’ Wira.