
“Fuuuu ....” Andin mengembuskan asap dengan aroma tembakau saat ia berdiri seorang diri di balkon apartemennya.
Tiba-tiba saja, sudut bibirnya tersenyum ke atas seakan mengingat sesuatu hal yang ia tidak suka.
‘Aku harap kau tak perlu ikut campur dengan apa yang terjadi pada keluargaku. Kau sendiri yang menginginkan pergi dari hidupku.’
Dia pun menggerus ujung batang rokok yang masih seperempat tersebut di atas asbak, untuk mematikan apinya. “Dylan, Dylan, ketika istrimu sedang ada masalah dan dihujat oleh media kau malah menghubungiku dan memohon agar aku berkenan mengadakan konferensi pers. Tapi sekarang? Apa? Haha, jadi ini yang namanya habis manis sepah dibuang?”
“Aku sudah bilang apa, lebih baik kau tak perlu terlibat lagi dengan pria itu,” timpal seseorang yang tiba-tiba saja ada di belakangnya.
Andin terkejut, ia berbalik dan langsung melihat siapa yang datang? Dia berpikir sejak tadi hanya ada dirinya di apartemen ini.
“Sejak kapan kau datang?” ujar Andin sambil mengeluarkan satu batang rokok lagi dan hendak menyalakannya.
Pria yang baru datang dengan gaya metroseksual itu pun langsung menyambar dengan cepat rokok dan pemantik api dari tangan Andin. “Aku baru saja datang, terburu-buru karena aku dengar dari pelayan jika kau sedang merokok di balkon.”
Andin mengangkat sebelah sudut bibirnya sambil melempar bungkus rokok ke atas meja. Dia memutar bola mata dan membuang pandangannya dari pria tersebut.
“Bukankah aku sudah bilang, jangan merokok sebelum iklan-iklan yang berkaitan dengan bibirmu usai!” Dia mengacungkan telunjuknya tepat di depan hidung Andin.
Kemudian dengan cepat, perempuan itu mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna merah dari dalam tasnya.
“Vape juga dilarang!” Pria itu merebut juga benda tersebut.
“Ya! Eros! Kau membuat aku gila!” Wanita itu meradang sambil mengentakkan kakinya.
“Hei, Andin! Kalau kau jadi gila, lantas aku apa? Sinting? Depresi? Bipolar? Hah! Talita yang akan marah padaku jika kondisi tubuhmu tidak prima saat bekerja.” Eros tidak pernah kalah bawel jika berhadapan dengan Andin.
Suasana langit semakin redup karena senja mulai menyelimuti Singapura. Andin pun berbalik dan meninggalkan balkon untuk masuk ke apartemennya.
Eros segera mengeluarkan berbagai benda dari dalam tasnya, lalu ia simpan di nakas. “Ini pelembab bibir, masker bibir, scrub bibir juga. Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, maka dari itu aku membawanya,” ujar pria tersebut.
Namun sayang, ia tak mendengar sahutan dari perempuan yang ia ajak bicara.
Brak! Tit tit tit tiiit.
Sebuah gebrakan pintu apartemen diiringi bunyi kuncinya terdengar, sontak Eros pun mendongak.
“Andin! Ya! Andin!” teriaknya. Bukannya istirahat dan mendengar saran dari asisten manajernya, ternyata Andin malah keluar dari apartemen.
“Hiiish! Aku yang jadi semakin gila!” gerutunya sambil kembali memasukkan benda-benda kecil itu ke dalam tasnya. “Dia akan pergi ke mana? Wanita gila itu! Memang membuat orang naik darah!”
*
Rumah sakit dengan aroma obat yang sangat familiar dengan indra penciuman. Di sinilah, suami Anyelir menghabiskan waktunya selama dua hari terakhir.
Beruntungnya, kondisi Gunadi lebih baik dan telah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Jika tidak ada masalah, satu minggu lagi bapak dari Dylan Bagaskara itu bisa dibawa kembali ke Indonesia.
“Hai, Sayang?” sapanya terhadap dua wajah yang terbentang di layar dengan penuh kerinduan.
“Papa?” Rio melambaikan tangan dan tersenyum tipis. Ia begitu berbinar setiap melihat pria itu datang dan mengajaknya bicara meski hanya sekadar melalui telepon.
“Bagaimana keadaan kakek?” tanya anak kecil tersebut.
Anyelir mengangguk dan memberi senyuman. “Nenek sudah melewati masa kritis. Tapi ia masih belum sadarkan diri lagi,” jawab perempuan yang sedang memangku anaknya tersebut.
“Aku merindukan kalian,” ucap Dylan yang terdengar begitu tulus.
Wanita dalam layar ponsel itu pun tampak tersipu sambil menggigit bibirnya.
“Aku juga merindukan papa,” jawab Rio yang mewakili ibunya. Sepertinya, Anyelir terlalu malu untuk mengatakan itu secara langsung pada suaminya.
“Rio, ini jusnya, Nak.” Terdengar suara Bi Ai memanggil Rio, kemudian anak kecil itu pun turun dari pangkuan ibunya.
Lalu dalam layar tersebut kini tinggal perempuan dengan rambut panjang di bawah belikat dan bibir sakura yang selalu menjadi penyebab rindu bagi Dylan untuk selalu ingin segera pulang.
“Anu ... aku ....” Anyelir mendadak gugup, ada yang ingin katakan pada sang suami tapi terlalu sulit untuk diungkapkan.
“Aku juga tahu kamu rindu,” timpal Dylan sambil tersenyum nakal memperlihatkan lesung pipinya.
Wanita itu sedikit menggembungkan pipi sambil menahan senyumnya. “Bukan itu ....”
“Kamu tidak rindu padaku?” tanya Dylan dengan nada sedikit kesal sambil memutar bola matanya. Dia sedang berakting untuk marah.
Anyelir menggeleng. “Aku ... merindukanmu,” jawabnya lirih. “Tapi ... ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” jawab Anyelir. “Ini ... penting,” ujarnya dengan wajah murung.
“Penting? Kalau begitu kenapa kau terlihat sedih jika ini penting,” timpal Dylan. Dia semakin melebarkan matanya untuk menatap layar di ponsel tersebut.
“Aku ... merasa bersalah pada Bapak,” ucap perempuan tersebut sambil terlihat berkaca-kaca.
Dylan mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Apa karena aku yang mengabari bapak tentang kondisi ibu dan itu ... membuatnya terkena serangan jantung lagi.” Wajah murung Anyelir tampak menggemaskan bagi Dylan.
Pria tersebut pun menggelengkan kepala. “Bapak juga perlu tahu kondisi ibu. Memangnya kalau tidak mengatakannya, apakah bapak tidak akan tahu dari orang lain?”
Anyelir terdiam. Dia berpikir sejenak dan kemudian menjawab. “Dia akan tetap tahu.” Dia berkata dengan suara lirih bahkan hampir tidak terdengar. Dylan hanya bisa menebak dari gerakan bibirnya.
“Lalu ... apa kau pikir jika bapak mendengar dari orang lain, maka bapak tidak akan terkena serangan jantung? Dia akan tetap sehat dan bersikap biasa saja?” Kali ini Dylan berusaha meyakinkan istrinya.
“Tapi ... tetap saja, aku bahkan berpikir setidaknya aku memberitahu pada bapak setelah dia sampai di Indonesia saja. Kenapa aku beritahu dia saat itu juga,” sesal perempuan itu sambil menunduk.
Dylan melihat pada Anyelir dan perempuan itu tampak sangat menggemaskan. Hidungnya yang kemerahan karena menahan tangis, lalu bibir sakura yang mengerucut dan pipi semerah apel dengan kantung mata yang menahan air mata. “Kamu sangat berbakat,” ucap Dylan tanpa secara spontan tanpa berpikir dahulu.
“Berbakat apa?”
Pria itu sadar jika ia keceplosan, lalu ia meremas kedua pelipisnya sambil tersenyum dan berkata, “Kamu berbakat untuk membuat orang lain cepat merasa rindu.”
Seketika Anyelir tersenyum dengan pipi yang lebih merah dari kulit buah tomat. Namun saat itu juga ada seseorang yang kembali masuk ke dalam kamar wanita tersebut dan mengatakan sesuatu dengan berbisik. Dylan tak dapat mendengar apa kata orang itu.
Perempuan itu pun langsung terperanjat dan berpamitan pada sang suami untuk menyudahi telepon mereka. “Aku ... harus ke kamar mandi. Sudah dulu, ya.”
Tanpa menunggu jawaban dari Dylan. Anyelir mengakhir teleponnya dan seketika layar ponsel Dylan kembali ke bagian beranda.
“Siapa yang datang ke kamarnya?”