
Bagas pun takut, bahkan keringat dingin sudah mengalir di pelipisnya. Ia berharap Kelana dan Hana tidak tahu perihal kamera pengawas yang dia pasang di bawah meja kerja Hana. Jika sampai mereka tahu, tamat sudah riwayatnya. Dan sebelum semua itu terjadi, dia berharap sudah bisa menjadikan Bunga sekretaris baru Kelana.
_
_
Malam harinya, Hana nampak merasakan sesuatu yang berbeda dari sikap Kelana. Suaminya itu keluar dari kamar mandi, mengganti baju lalu berbaring di ranjang tanpa berbicara satu patah kata. Hana pun memilih untuk mendiamkan saja. Ia melakukan rutinitas malam seperti biasa. Membersihkan wajah, memakai skin care lalu ikut berbaring di samping sang suami. Bedanya Hana mengenakan piyama panjang, tidak seksi seperti biasanya. Dan karena Kelana memunggunginya, Hana pun melakukan hal yang sama.
Susah sekali mata Hana terpejam, dia bahkan sengaja mematikan lampu utama. Namun, tetap saja belum juga bisa terlelap. Bagaimana bisa terlelap jika dia tidak melakukan kebiasaannya mengusap dada teman tidurnya.
Akhirnya Hana pun memberanikan diri, biarlah Kelana pikir dia agresif yang terpenting dia bisa tidur malam itu. Hana membalik badan, dia meringsek ke arah sang suami lalu melingkarkan tangan ke tubuh Kelana. Perlahan namun pasti, wanita itu mengusap lembut dada Kelana sambil menenggelamkan wajah ke punggung pria itu.
“Belum tidur?” tanya Kelana.
“Kamu sendiri juga belum tidur, kamu ‘kan tahu aku tidak bisa tidur jika tidak membelai-belai seperti ini,” jawab Hana. Ia hampir menghentikan gerakan tangan tapi Kelana lebih dulu memegang tangannya.
“Sejak pulang tadi kamu hanya diam, apa masalah kamera yang kita temukan di bawah meja itu membuatmu sangat kesal?tapi kenapa mendiamkan aku?” Hana akhirnya menghidupkan kembali lampu.
Hening. Kelana tak lantas menjawab pertanyaannya. Bahkan sampai dia duduk pun, suaminya itu masih berbaring memunggungi.
“Aku hanya sedang berpikir, beginilah aku jika terlalu overthinking,” ucap Kelana. Akhirnya dia mau membalik badan dan menatap mata Hana. “Apa yang orang itu cari, apa dia mau mengintipmu? Atau jangan-jangan ingin mencari tahu tentang kita? bagaimana jika itu Mama atau nenek Gayung.”
Hana terdiam, dia mencoba mencerna ucapan sang suami sebelum memberikan tanggapan.
“Jika memang dia yang melakukannya, aku akan benar-benar memecatnya saat itu juga, lihat saja nanti!” geram Kelana. Ia seketika salah tingkah karena Hana menyipitkan mata seolah curiga padanya. “Kenapa?” tanyanya heran.
“Apa karena ini kamu bersikap seperti ini? diam dan langsung ingin pergi tidur.”
Kelana menggeleng, dia ragu bagaimana mengatakannya. Ia takut Hana akan marah jika dia berkata jujur.
“Sebenarnya malam ini temanku mengadakan pesta dan aku lupa. Aku sudah janji akan datang.” Kelana nyengir, dia bahkan menegakkan badan karena Hana semakin memandangnya dengan tatapan menyelidik.
“Oh … jadi kamu tadi mau berpura-pura cepat tidur, agar bisa pergi diam-diam?” tuduh Hana.
“Iya, dan aku lupa kalau kamu tidak bisa tidur sebelum mengusap-usap dadaku.” Kelana menggaruk bagian belakang kepala. Ia menunduk bahkan memasang ekspresi jenaka agar Hana tidak marah. “Aku jujur Hunny, bukankah itu baik?”
Hana memutar bola mata malas, dia pun merebah dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas leher. “Pergi lah, aku tidak mau menjadi istri yang terlalu posesif,” ucapnya. “Biarkan aku mengusap-usap bantal saja seperti dulu saat belum punya suami,” sindirnya.
_
_
Scroll ke bawah 👇