Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 82 : DP


“Bukankah yang Mama bilang benar? Dulu, kamu juga merebut Bagas dari Hana, lantas kenapa tidak kamu lakukan lagi? merebut suaminya?”


Bunga terbeku, dia heran dengan ucapan Tantri yang malah mengomporinya untuk menjadi pelakor lagi. Masih terngiang dalam ingatannya dulu saat dia mengambil Bagas dari Hana, awalnya Tantri mengingatkan bahwa perbuatannya itu tidak benar, tapi akhirnya wanita yang melahirkannya itu mendukung karena kebahagiaannya jelas nomor satu. Namun, kini saat Tantri memintanya kembali menjadi pelakor, Bunga merasa geram.


“Apa Mama bangga punya anak yang suka merebut suami orang?” tanya Bunga yang sudah bersedekap dengan muka emosi.


“Ya tidak, tapi jika suami orangnya kaya seperti Kelana sih gas aja.”


Bunga geleng-geleng kepala, dia tak menyangka Tantri malah mendukungnya mengulangi perbuatan yang tidak baik. Jujur saja, dia sangat mencintai Bagas, meski pernah terpikir untuk menggoda Kelana tapi Bunga masih waras, tidak seperti sang mama yang sangat mata duitan.


_


_


Malam harinya seperti biasa Bunga menyambut kedatangan Bagas sepulangnya pria itu dari kantor, dia tidak memasak dan hanya membeli dua bungkus nasi goreng untuk dihidangkan sebagai makan malam. Dengan penuh ketelatenan Bunga membantu sang suami melepas kemeja, lalu memasukkannya ke dalam keranjang cucian. Bagas yang hendak masuk ke dalam kamar mandi pun tertahan karena Bunga tiba-tiba melingkarkan tangan ke pinggangnya.


“Mas Bagas aku kangen,” ucapnya dengan nada manja.


Bagas terbeku, gelenyar aneh terasa merayap di dada. Ada sedikit rasa benci ke Bunga karena godaan wanita itu lah yang membuatnya sampai berpaling dari Hana. Namun, tak bisa Bagas pungkiri, dulu Hana memang kurang merawat diri sedangkan Bunga seperti sekuntum mawar yang sedang mekar-mekarnya, kerlingan mata dari wanita itu saja bisa membuatnya meleleh bak lilin yang menyala.


“Aku mau mandi,” jawab Bagas lugas.


“Mas Bagas ranjang kita dingin lho, Mas udah nggak pernah menghangatkannya. Apa aku ada salah sampai Mas begitu? Aku sudah tidak pernah berbelanja barang yang tidak perlu, aku juga sudah belajar memasak dan bahkan aku … “ Bunga menjeda kata, dia longgarkan pelukan lantas berpindah ke depan Bagas.


“Bahkan aku mau hamil, aku ingin kita punya anak.”


Bagas tak bisa menimpali, dia hanya bisa menatap wajah Bunga yang menatapnya sendu. Jujur dia bingung dengan perasaannya sendiri, bagaimana bisa dia mencintai dua wanita dalam satu hati.


“Mas Bagas sudah bosan ya sama aku?” tanya Bunga dengan ekspresi pilu.


Akhirnya Bagas pun memilih untuk mengeluarkan jurus buayanya, pria itu berlutut di depan Bunga sambil meraih ke dua tangan sang istri.


“Bukan begitu, tapi aku sedang banyak pikiran. Aku harus mendapat sekretaris pengganti untuk pak Kelana. Bunga, apa kamu tidak ingin menjadi sekretarisnya?” tanya Bagas si musang berbulu ayam. Ia sedang melancarkan aksi merayu, pikirannya sungguh licik. Pria itu ingin membuat Bunga menjadi sekretaris Kelana dan menjebak keduanya agar Hana segera meninggalkan sang suami.


“Dengan kamu bekerja, kita bisa lebih sering bersama. Berangkat ke kantor, makan siang, pulang ke rumah lalu makarena alias enaa enaa.”


Bunga tergelak, tak semudah itu dia mengiyakan permintaan Bagas. Namun, dia juga tidak begitu pintar untuk bisa menebak isi kepala suaminya.


“Kalau akau bekerja apa Mas Bagas tetap akan memberiku nafkah?”


Pertanyaan Bunga dihawab Bagas dengan anggukan kepala cepat. “Tentu saja, bahkan nafkah batin akan aku berikan setiap hari,” janji pria itu.


“Kalau begitu aku minta DP, sekarang mas berikan aku nafkah batin. Sekarang!” tegas Bunga. Tangannya bahkan sudah mencoba melepaskan kancing piyamanya.


_


_


_


Scroll ke bawah👇