
Kelana memegang kedua ketiak Hana dan buru-buru meminta sang istri untuk bangun. Sementara itu, ibu-ibu yang sedang senam hampir semua menoleh. Bahkan sang instruktur sampai terjengkang ke belakang melihat betapa tampannya paras Kelana. Selama ini dia tidak pernah menjumpai daun segar seperti itu di blok kamboja, adanya daun kering meranggas seperti Pak Dewan dan Pak Roma. Untuk melirik yang lain dia takut karena istri-istri mereka garang melebihi singa. Apalagi Bianca, bisa dikunyah-kunyah dia.
“Ayo pulang! itu buburnya sudah ada,” ucap Kelana menyembunyikan rasa sungkannya. Ia merasa reaksioner sampai tidak sadar tingkahnya sangat berlebihan. “Jangan melakukan gerakan sembarangan, ingat! ada bayi kita,” imbuhnya menutupi rasa malu.
Hana pun tesenyum canggung, dia menganggukkan kepala berulang untuk berpamitan ke tetangga dan sang instruktur senam. Begitu juga dengan Kelana yang sudah mengeratkan tangan di lengan sang istri ingin bergegas menyeretnya pulang.
“Apa kamu tadi dengar yang si traveling itu bilang?” tanya Bu Erin sekata-kata. “Dia bilang ‘asetku’, apa jangan-jangan dia mau menjadikan anaknya tumbal pesugihan? Kenapa dia bilang aset?”
Salah kaprah, tapi ibu-ibu lainnya hanya terdiam merenungi ucapan salah satu anggota geng mereka. Bianca dan Mina pun saling pandang, setelah itu Mina mengibaskan tangan di depan muka.
“Heh … Bu Erin, mungkin bukan begitu. Bisa jadi maksudnya aset untuk meneruskan tahta dalam keluarga.”
Semua orang mengangguk. Padahal maksud aset dari ucapan Kelana jelas bukan anak, melainkan pintu menuju surga dunianya.
_
_
Kelana cemberut, sedangkan Hana menunduk sambil menikmati bubur ayam yang sedikit pahit karena dimakan dalam kondisi dimarahi begini. Tak pernah dia duga suaminya juga bisa cerewet seperti sang mama. Kelana memberikan alasan dari A sampai Z kembali lagi ke A.
“Baru ditinggal sebentar beli bubur kamu sudah ingin mencederai aset milikku,” sembur Kelana.
“Astaga! aku tidak bermaksud sayang! Jangan galak-galak padaku!” Hana mengkerut, dia suapkan satu sendok bubur ke dalam mulut sambil melirik Kelana yang duduk di depannya. “Lagi pula kenapa kamu malah memikirkan aset bukan bayi kita?”
“Apa kamu hanya memikirkan kenikmatanmu sendiri?”
“Bukan! bukankah bayi juga dibuatnya lewat sana, jadi kamu harus menjaganya.” Kelana berbicara dengan volume suara yang sangat kecil dan nyaris tak terdengar. Ia merasa alasannya memang sungguh konyol. “Ah … pokoknya kamu tidak boleh melakukan gerakan seperti ibu-ibu tadi, aku takut nanti kamu kena saraf kecepit.”
“Brrtt … “ Hana tak bisa menahan tawa. Sepertinya dia sekarang paham kalau Kelana juga pintar sekali bersilat lidah dan menyembunyikan maksud sebenarnya.
Puas menikmati sarapan seperti apa yang dia mau, suasana hati Hana pun riang gembira. Ia dan Kelana memilih duduk di tepian kolam renang. Hana baru saja bercerita banyak tentang masa kecilnya yang sangat manis, begitu juga Kelana. Pria itu mengenang bagaimana dia selalu dimanja sang nenek dan membuat Rafli sedikit membencinya.
“Rafli mengajak kita pergi liburan, babymoon bersama, apa kamu tidak ingin menerimanya? Lumayan berjalan-jalan di pulau Lepa melihat penyu,” ujar Hana.
“Memang kamu yakin bisa melihat penyu di sana? kamu tahu dengan jelas Hunny, tidak ada pantai yang masih alami di negara ini.”
“Mana aku tahu jika tidak memastikannya sendiri.”
_
_
Ayuk kita piknik ke Lepa geng 😜😜