Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 37 : BPH


“Jadi, Mas Arman memberikan Hana warisan? Pantas dia bisa bertahan hidup selama ini.” Tantri sewot pagi itu.


Pada awalnya Tantri hanya membahas tentang Hana yang berubah, hingga kembali dengan penampilan yang berbeda. Namun, ujung-ujungnya Arman jujur, bahwa dulu dia memberikan rumah peninggalan almarhumah sang istri untuk Hana.


“Itu kan memang rumah ibunya, jadi aku berikan ke Hana. Lagi pula apa kamu tidak berpikir, aku tidak membela putriku sendiri padahal putrimu merebut suaminya itu juga demi kamu.” Akhirnya Arman mengungkapkan apa yang dipendam selama ini.


Jelas ucapan Arman membuat Tantri terperangah, hatinya panas, dia merasa dibohongi selama ini. Cita-cita Tantri adalah menguasi semua harta Arman, untuk itu perginya Hana tiga tahun lalu seperti menjadi berkah tersendiri baginya.


Namun, kenyataan bahwa Arman memberikan rumah ke Hana membuat dadanya bergemuruh. Terlebih, usaha Arman sedang dalam masalah, sehingga Tantri pusing karena memiliki banyak hutang.


Wanita itu bingung bukan kepalang, hingga sebuah ide muncul di otak. Tantri pun meninggalkan Arman begitu saja dan berniat pergi ke perusahaan tempat Hana bekerja.


***


“Lihat! apa memang seperti itu pekerjaan mereka? bisa-bisanya berdiri dan diam seperti patung,” cicit Hana.


Setelah keluar dari ruang kerja Kelana tadi, wanita itu kembali dengan pekerjaannya. Ia tidak peduli dengan Nila dan dua pengawal yang terus saja mengawasi gerak-gerik dan tingkahnya.


Diam-diam, Nila tetap menilai perilaku Hana. Bahkan saat Hana melepas sebelah sepatu dan memakai kakinya untuk menggaruk betis, Nila langsung menulis catatan di buku.


Mereka benar-benar mengerjakan pekerjaan masing-masing, sampai seorang satpam datang dan menghampiri Hana.


“Mba Hana!” panggil satpam yang heran karena ada tiga orang di sana dengan penampilan rapi.


“Iya Pak.” Hana berdiri - kaget kenapa satpam tiba-tiba memanggil namanya.


“Siapa itu mba?”


Sang satpam malah penasaran dengan Nila dan kawan-kawan sampai mengesampingkan tujuannya datang.


“Entah Pak, saya juga tidak kenal,” ucap Hana dengan lirikan tajam ke arah tiga orang itu.


Si satpam pun memindai penampilan tiga orang itu kemudian menebak,” apa pengawal Pak Kelana?”


“Iya,” jawab Hana tanpa ingin repot-repot menjelaskan lebih detail siapa tiga orang yang berada tak jauh dari mereka itu. “Ada Apa Pak? apa ada yang penting?” tanya Hana penasaran.


“Ah … itu, begini Mba Hana di bawah ada wanita yang ingin bertemu, sudah saya minta ke resepsionis tidak mau, malah meminta saya untuk langsung memanggilkan Mba Hana saja, kalau tidak dia mengancam akan membuat keributan,” ucap si satpam.


“Apa masih muda?” Hana menduga mungkin saja Bunga yang datang.


“Tidak, wanita itu paruh baya. Mungkin seumuran bu Dinar.”


Alis mata Hana nampak berkerut, dia belum bisa menebak siapa wanita paruh baya - yang ingin bertemu sampai susah payah pergi ke tempatnya bekerja. Wanita itu menutup laptop dan berjalan mengekor satpam untuk turun ke lobi, bersamaan dengan itu Nila dan dua pengawal saling tatap. Mereka mengangguk lalu mengikuti Hana.


Si satpam heran saat tiga orang itu ikut masuk ke dalam lift, apa lagi melihat tubuh dua laki-laki yang memiliki postur lebih tinggi dan besar darinya. Sang satpam pun merasa tersaingi, hingga ikut-ikutan berdiri tegap dan sedikit membusungkan dada.


***


Sesampainya di lobi, rasa penasaran Hana terjawab, Ia melihat sosok ibu tirinya berada di sana. Ekspresi Hana berubah menjadi malas, meski begitu dia juga ingin tahu apa tujuan wanita itu ingin bertemu.


Namun, kali ini Nila tidak mencatatnya. Ia menunggu reaksi lawan bicara Hana yang tak lain adalah Tantri.


“Beginikah caramu memperlakukan orang tua? Aku ini ibumu, bisa-bisanya kamu bertingkah kurang sopan,” kata Tantri dengan sedikit emosi.


Nila pun bergegas menulis di catatannya bahwa Hana bersikap kurang baik ke wanita yang merupakan ibunya, tanpa tahu bahwa Tantri hanyalah ibu tiri.


“Katakan apa tujuanmu datang? Aku tidak punya banyak waktu.” Hana membuang muka, dia mengamati suasana sekitar, tidak baik juga jika harus bertengkar dengan nenek sihir ini di depan banyak orang.


“Beri aku uang!”


“Hah … apa? uang?” .


Hana tertawa mengejek. Mengingat hubungannya yang buruk dengan Tantri, bagaimana bisa wanita itu dengan entengnya meminta uang?


“Bukankah ayahmu sudah memberikan rumah dan beberapa harta benda milik ibumu, jika ayahmu tidak melakukan itu, jelas sekarang kamu sudah menjadi gembel,” ketus Tantri. Ia tak peduli dengan keberadaan satpam dan beberapa orang yang mungkin saja bisa mendengar ucapannya.


Nila bingung, hingga menoleh dua pengawal di belakangnya. Dua pria itu mengedikkan bahu secara bersamaan seolah menjawab bahwa mereka juga tidak paham dengan situasi yang terjadi sekarang.


“Cepat beri aku uang!”


“Kamu kira aku BPH, Bank Perkreditan Hana? Enak saja kamu meminta uang padaku, aku ini bukan ATM berjalan," sembur Hana dengan muka merah menahan darah yang mulai mendidih karena marah.


“Bukannya kamu juga mau menikah dengan pemilik perusahaanmu ini, uangmu pasti banyak.”


Hana tersenyum miring, dia tidak menyangka Tantri benar-benar menyebalkan. Jika putrinya Bunga bangkai, maka wanita ini bisa disebut benalu. Hana tahu kalau Tantri sebenarnya hanya ingin hidup nyaman dan mengincar harta ayahnya.


“Aku menikah karena saling mencintai dan menyayangi, bukan karena harta. Aku dan kamu jelas beda, kamu mungkin menikahi ayahku demi harta, tapi aku menikah dengan Pak Kelana karena cinta,” ujar Hana.


Kalimatnya barusan membuat seseorang yang berdiri di belakang Nila dan dua pengawal tersenyum, sampai bergumam di dalam hati.


“Cih … bukannya dia tadi bilang ingin meracuniku?”


_


_


_


_


_


Selamat menjalankan ibadah puasa buat yang menjalankan


Like+komen jangan lupa 😘