Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 74 : Ajari Aku!


Saat Amanda masih membeku dan tak mengerti dengan kalimat yang dikatakan oleh Ayu, seorang pembantu datang menginterupsi perbincangan mereka. Pembantu itu menyampaikan bahwa ada tamu di bawah sedang menunggu Ayu.


“Siapa?” tanya nenek tua itu. Ayu beranjak dari kursi dan berjalan meninggalkan Amanda yang semakin cepat mengemasi barangnya.


“Apa maksudnya Hana tidak menginginkan Kelana?” gumam wanita yang usianya sudah hampir menginjak kepala tiga itu.


Sesampainya di ruang tamu, Ayu cukup dibuat kaget karena tamu yang datang menemuinya ternyata adalah Tantri. Ia tahu Hana bukan putri kandung wanita ini, dia juga tahu kalau Tantri juga tidak begitu menyukai Hana.


Apa yang dilakukan Ayu sebelum dan sesudah Hana menikah dengan Kelana sejatinya memiliki tujuan agar Tantri tidak mengganggu rumah tangga cucu kesayangannya.


Berbeda dengan Dinar yang menurutnya masih setengah hati menerima Hana, Ayu dengan tulus menerima gadis itu. Tak hanya karena dia dan Hana memiliki masa lalu yang sama yaitu pernah menjadi janda, tapi Ayu menilai Hana wanita yang baik. Tidak perlu menuntut kesempurnaan jika diri kita sendiri tidak lah sempurna, begitu prinsip Ayu.


“Oh … Bu Tantri, ada apa gerangan datang ke sini?” tanya Ayu tanpa basa-basi. Ia duduk di sofa paling besar seolah ingin menunjukkan bahwa rumah itu adalah istana dan dia ratunya.


“Ah … Bu Ayu, apa Anda sehat?” ucap Tantri basa-basi, mengejutkan juga dia tidak langsung menyebutkan apa tujuannya datang ke sana.


“Sehat, sepertinya Anda juga sehat, jadi saya tidak perlu menanyakan kabar ‘kan?”


Ayu menyindir dengan kekehan kecil di ujung kata, nampaknya dia sudah bisa membaca apa yang ingin dilakukan ibu tiri cucu menantunya itu.


“Ah … saya kurang sehat Bu Ayu, kalau wajah saya terlihat fresh, segar ada manis-manisnya itu karena saya memakai riasan agar terlihat sempurna saat bertemu Anda,” ucap Tantri.


Ayu tertawa dan mengangguk, dia pun kembali bertanya maksud tujuan Tantri datang. Ibunda Bunga itu beringsut, dengan mata mengedip mengiba dia berkata, “Apa Anda bisa meminjami kami uang? Bisnis mas Arman sedang tidak bagus belakangan ini dan sering merugi, kami kehabisan modal. Sedih saya.”


Ayu hanya merespon dengan anggukan kepala, setelah itu mendekatkan mukanya ke arah Tantri. “Anda pikir saya bank?”


Beberapa menit kemudian Tantri keluar dari rumah besar itu dengan bibir yang mengerucut. Ia berjalan cepat kemudian membalik badan menatap pintu kediaman Ayu.


“Dasar nenek peyot pelit,” umpatnya karena tak diberikan pinjaman.


Tantri tak sadar bahwa ada sepasang mata yang memerhatikan, dan itu adalah Amanda. Mantan kekasih Kelana itu ternyata belum pergi dari rumah Ayu.


Melalui pintu samping, Amanda keluar dan sengaja menunggu untuk mencari tahu siapa yang datang menemui Ayu.


_


_


_


Sementara itu, Hana dan Kelana benar datang ke rumah Dinar seperti rencana meraka saat mandi bersama tadi. Aneh, Hana berjalan sangat pelan, dua kaki wanita itu bergetar, lututnya lemas. Dia mengalami tremor karena Kelana menggempurnya habis-habisan.


“Apa mau aku gendong?” tanya Kelana yang nampak jemawa karena berhasil menaklukkan Hana. Pengalaman boleh tidak ada, tapi di medan perang siapa yang paling kuat dia pasti yang akan menang, begitu moto yang Kelana tanamkan.


Kelana pun mengalungkan tangan Hana ke lengannya, mereka berjalan pelan menuju teras rumah di mana pembantu sudah menunggu dan nampak tidak sabar. Jika dia sedang menggoreng ikan di dapur mungkin saat Kelana dan Hana tiba di depan pintu, ikan yang digorengnya sudah berubah menjadi abu. Namun, jelas itu hal mustahil dan tidak akan pernah terjadi karena pembantu di rumah Dinar berjumlah lebih dari satu.


“Tuan, Nona silahkan!” ucap pembantu itu memersilahkan dengan sopan, tapi tak lama keningnya mengernyit melihat Hana. Ia beranggapan wanita itu sedang bermanja-manja.


“Buatkan teh hangat dan berikan Nona beberapa makanan manis yang ada di kulkas!” titah Kelana ke pembantu lantas meminta Hana duduk di sofa.


Kelana menggaruk rambut kepala, tak menyangka juga bahwa perbuatannya bisa membuat Hana sampai seperti ini.


Saat keduanya masih terdiam di ruang tamu, Dinar muncul dengan penampilan anggun, Hana pun iseng bertanya ke mana mertuanya itu akan pergi, tapi Dinar menggeleng cepat sambil membenarkan letak cincin berlian yang ada di jari manis tangan kiri.


“Apa tidak boleh terlihat cantik meski tidak pergi ke mana-mana,” jawab wanita itu. Ia menatap heran Hana karena menantunya itu hanya tersenyum tipis.


“Kenapa kamu? apa kamu sakit?” tanya Dinar.


“Hanya sedikit lelah karena …. “ Hana menjeda kata, dia menatap Kelana. Pria tersangka utama yang membuatnya K.O itu malah memasang muka innocent.


Dinar pun tertawa, tanpa dikatakan dia sudah tahu apa yang terjadi. Ramuan Mak War yang dia berikan memang memberikan efek yang cukup dahsyat, dia sengaja tidak memberitahu Hana bahwa ramuan itu juga bisa membuat senjata si pria semakin kokoh bak semen dua roda.


“Ya sudah sana istirahat di kamar! tumben juga kalian datang. Mama malah takut tiba-tiba akan terjadi gempa bumi karena kalian ke sini di hari kerja,” ucap Dinar.


“Kalian pasti terlambat bangun karena semalaman sibuk bercocok tanam, dan akan menjadikan kunjungan ke rumah orangtua sebagai alasan. Hah … aku jelas tahu. aku juga pernah muda.”


Hana pun hendak bangkit, tapi bersamaan dengan itu dua pembantu datang membawakan banyak makanan yang diminta Kelana tadi. Secangkir teh manis, cake red velvet, brownies, macaron dan juga donat dengan toping glaze warna-warni.


Hana menelan ludah, tapi berapa kalori yang akan tertimbun jika dia mencicipi semua kue itu? Hingga mata Hana membola, dia menatap Dinar dengan sorot mata antusias.


Mungkinkah Dinar makan semua ini dan masih tetap kurus? Apa ada ramuan lain yang mertuanya punya selaian Mak War? Ramuan yang bisa membuat badan tetap kurus meski banyak makan misalnya?


“Ma!”


Dinar dan bahkan semua orang kaget karena Hana memanggil dengan suara lantang.


“Apa?” tanya ibunda Kelana itu sambil mengusap dada karena kaget.


“Ajari aku!"


“Ajari?”


Dinar bingung tapi sejurus kemudian tersenyum aneh, dia mengira menantunya itu ingin diajari cara berkembang biak yang baik dan benar.


"Oh... baiklah... baiklah, ayo ikut Mama!"