
Kelana duduk di depan kemudi, di sampingnya Hana juga melakukan hal yang sama seperti apa yang sedang dia lakukan yaitu menatap lurus ke luar jendela, setelah terdiam beberapa menit mereka tiba-tiba saja tertawa bersama. Keduanya terbahak-bahak mengingat bahwa rambut Marko ternyata baru selesai dicangkok dan Hana menariknya dan hampir membuat pria itu botak lagi.
“Dia benar-benar konyol,” ucap Kelana, dia menoleh dan bersamaan dengan itu Hana pun menoleh.
Pandangan mereka yang bersirobok membuat mereka terdiam. Namun, dengan penuh keberanian Hana mengulurkan jemarinya untuk menyentuh sudut bibir Kelana yang terluka dan bahkan sempat mengeluarkan darah tadi karena pukulan dari Marko.
“Maaf membuatmu terluka, pasti sakit,” ujar Hana, sementara itu Kelana hanya diam saja. Pria itu terus memperhatikan wajah Hana dan meraih pergelangan tangan wanita itu.
Hana pun salah sangka, dia pikir Kelana tidak suka disentuh seperti itu. Ia pun menarik tangan dan mengucapkan kata maaf, setelahnya hanya keheningan yang tercipta di antara mereka sampai tiba di apartemen Kelana.
Hana memilih langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju, dia bahkan mengambil selimut dari lemari dan satu buah bantal. Hana hendak keluar, dia ingin tidur di sofa ruang tengah seperti beberapa malam yang sudah dia lalui belakangan ini.
Sementara itu, Kelana hanya diam saja. Pria itu membiarkan Hana melakukan apa yang diinginkan. Ia duduk di tepian ranjang dan terdiam. Hingga berpikir haruskah dia mengatakan perasaannya ke Hana sekarang juga? Tapi jika wanita itu menolaknya bukankah hanya malu yang akan dia dapat?
Kelana menggeleng, dia melepas kemeja dan berganti dengan setalan rumah, setelahnya pria itu mengambil sesuatu dari dalam laci dan keluar mendekat ke Hana yang baru saja meletakkan ponsel ke meja dan hendak berbaring. Hana jelas kaget, dia pun duduk kembali. Terlebih Kelana mengulurkan sesuatu kepadanya, yang ternyata sebuah salep untuk luka.
“Bantu aku mengobati lukaku!” pinta Kelana, dia langsung duduk menyerong ke arah Hana.
Di dalam hatinya, Hana tertawa bahagia. Ia merasa mungkin saja apa yang diucapkan Kelana soal mencintainya tadi benar. Hana pun mengoleskan salep itu pelan ke sudut bibir Kelana dan kembali berterima kasih karena Kelana sudah membelanya tadi.
“Dia memang pantas mendapat pelajaran, seenaknya saja melecehkan perempuan,” ucap Kelana.
Rasanya ingin sekali Hana memperlama kegiatannya mengobati bibir sang atasan, tapi Kelana pasti akan curiga karena luka itu hanya di sudut bibir dan berukuran sangat kecil.
“Sudah.” Hana menutup salep itu dan meletakkannya ke meja. Ia terdiam, sungguh canggung, apa lagi dia tahu Kelana terus menatapnya.
“Apa kamu tidak ingin menanyakan sesuatu?" tanya Kelana memecah keheningan di antara mereka.
“Bertanya apa?” Hana menoleh sekilas, hingga memalingkan muka lagi karena pipinya memerah menahan malu.
“Soal alasanku melakukan itu.”
“Aku sudah dengar tadi, kamu bilang mencintaiku.” Hana tertawa bodoh, sebelum lanjut berkata, ”Aku tahu itu bukan alasan yang sebenarnya karena tidak mungkin kamu mencintaiku. Kamu melakukannya karena aku istrimu, mana mungkin seorang Kelana Pramudya membiarkan istrinya dilecehkan, bukankah itu akan merusak nama baikmu sendiri.”
Kelana terbeku, sepertinya pikiran Hana terhadapnya memang seperti itu. Ia dianggap kaku, dingin dan mungkin tidak pernah bisa merasakan apa yang namanya cinta.
“Aku melakukannya karena memang menyukaimu, aku menyukaimu Hana.”
“A-a-apa?”
Hana tak percaya, dia bahkan mengerjab beberapa kali dan menggelengkan kepala, merasa bahwa apa yang dia dengar barusan sama sekali tidak benar.
“Kamu bercanda, jangan membuatku gede rasa, karena sejujurnya aku juga mulai menyukaimu," ucap Hana.
Wajah Kelana berubah semringah, dia bahkan melukis senyuman dan malah membuat Hana menjauhkan badan karena takut.
“Ya, aku menyukaimu,” ulang Hana setelahnya dia memejamkan mata.
“Hana gila! dia akan semakin menindas dan mengolok-olokmu setelah ini.”
Namun, tiba-tiba mata Hana terbuka tatkala sebuah benda kenyal yang dia yakini adalah bibir menempel pada bibirnya.
"Kelana!"
“Itu stampel pengesahan,” ujar Kelana.
“Stampel? Pe-pe- pengesahan apa?” tanya Hana kebingungan, dia bahkan menyentuh bibir, rasanya sungguh berbeda jauh dengan wedding kiss yang dia dan Kelana lakukan saat resepsi pernikahan.
“Pengesahan kalau mulai sekarang, kamu hanya boleh menyukaiku dan aku hanya boleh menyukaimu.”
“Jadian?” goda Hana dengan senyuman lebar.
“Hah … apa?”
Otak Kelana tiba-tiba saja menjadi lambat, hingga dia mengangguk saja dan membuat Hana tertawa. Pria itu semakin bingung saat Hana menarik selimut kemudian memeluk bantal.
“Kalau begitu aku bisa tidur di ranjang karena kita sudah jadian.”
“Apa maksudmu? Hana, kita ini suami istri,” jawab Kelana dan membuat Hana terdiam. “Kita bahkan boleh melakukan yang lebih dari itu.”
“Apa maksudmu?” tanya Hana yang otaknya mulai liar membayangkan sesuatu.
“Kita bahkan halal bercinta."
_
_
_
_
Love + komen + poin
😜