
“Kamu nguping?”
“Ti-ti-tidak, aku sedang mencari kancing bajuku yang jatuh,” jawab Bagas yang salah tingkah karena ketahuan menguping. Pria itu menunduk seolah sedang mencari barang yang hilang. Ia berpura-pura memungut sesuatu dan setelahnya berjalan cepat pergi ke kamarnya dan Bunga.
“Dasar! Bilang saja kamu penasaran dengan apa yang aku lakukan dan Hana,” gerutu Kelana. Ia menuruni anak tangga menuju ruang makan. Tangannya seketika meraih ponselnya yang memang masih berada di atas meja dan menyalakannya.
Kelana mengecek beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari grup alumni kampusnya. Salah seorang temannya akan menikah dan mengirimkan sebuah undangan dalam bentuk video.
“Haruskah aku datang bersama Hana? Haruslah, dia kan istriku.” Kelana tertawa, dia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri dalam satu waktu.
Sudah mendapat apa yang dia cari, Kelana pun memutar tumit untuk kembali ke kamar. Namun, alangkah terkejutnya dia melihat sosok pria tua yang sudah berdiri di belakangnya.
“Astaga Papa! Kenapa belum tidur?” Kelana mengurut dada mendapati Arman. Mertuanya itu malah tersenyum lalu memintanya menemaninya berbincang sebentar.
_
_
Arman mengajak Kelana duduk di ruang keluarga, tapi sebelum itu dia mengambil sesuatu dari dalam lemari pajangan. Sebuah album foto yang nampak sudah usang. Pria itu pun duduk di sebelah Kelana dan mulai membukanya.
“Ini!” Kelana kaget melihat foto anak kecil yang tersenyum lebar sambil memegang sebuah permen kapas.
“Hana. Dia cantik ‘kan?”
“Sangat,” jawab Kelana. Ia meraih album itu dari tangan Arman agar bisa melihatnya lebih dekat. “Hana memang sudah cantik sejak kecil,” pujinya.
“Hem … dia cantik, pintar dan yang pasti sangat baik hati. Papa ingat, suatu ketika dia rela tidak jajan selama satu minggu penuh, Hana sengaja menyimpan uang jajannya untuk diberikan ke pemulung yang selalu mengambil botol bekas di sekolahnya sambil menggendong anaknya yang masih bayi.”
“Tapi, ada satu sifat jelek Hana. Dia sangat keras kepala.”
Kelana seketika menoleh Arman, mertuanya itu malah mengangguk dan tersenyum. “Dia ingin balas dendam ke Bunga dan Bagas, papa tahu itu.”
Sontak kalimat Arman itu ditanggapi Kelana dengan ekspresi bingung. “Tidak mungkin,” ujar Kelana. Ia sengaja berdusta karena tidak mungkin berkata ke Arman kalau dia sudah tahu dan malah membiarkannya.
“Hana pernah keguguran, dia berkata bahwa penyebabnya adalah Bagas dan Bunga. Saat itu dia tidak mau diceraikan, dan tiba-tiba saja ada perampok yang masuk ke dalam rumahnya. Perampok itu tidak mengambil apa-apa, hanya memukuli dan menendangi perutnya dengan brutal sampai dia pingsan dan pendarahan,” jelas Arman panjang lebar.
“A-a-apa?” Kelana tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar, kepalanya bahkan menggeleng seolah menolak informasi itu. Jika yang terjadi sampai seperti itu, kini jelas baginya kenapa Hana benar-benar menaruh dendam.
“Lalu, kenapa Papa tidak membelanya?”
Pertanyaan Kelana cukup membuat Arman mati kata, pria itu hanya mendesau. Pundaknya turun seolah tertimpa beban yang sangat berat.
“Papa pengecut dan tidak memiliki keberanian, terlebih tidak ada bukti bahwa Bunga dan Bagas yang melakukannya, meski begitu Hana yakin itu perbuatan Bagas. Saat siuman setelah pingsan, Hana mendengar Bagas menelepon Bunga dan berkata kalau dia keguguran, jadi tidak akan ada lagi alasan mereka untuk bersama.”
“Sungguh kejam.” Kelana menggeleng tak percaya, dia usap potret Hana yang tersenyum sambil memegang satu bucket bunga. “Jika begitu, aku benar-benar akan membantunya menghancurkan si Bagas kampret itu,” gumam Kelana di dalam hati.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇