Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 7 : Kedatangan Huru Hara


Tata buru-buru turun sesaat setelah helikopter yang ditumpanginya mendarat sempurna. Ia berjalan mendekat ke arah di mana putra dan menantunya berada tadi. Wanita itu sungguh riang gembira, berbeda dengan Dinar yang berjalan malas bahkan memegang kipas portable di tangan. Dinar sejatinya tidak ingin ikut Tata mendatangi sang putra ke Lepa, tapi apa hendak dikata, adiknya itu menakut-nakuti dan berkata-


“Bagaimana kalau Rafli dan Kelana bunuh-bunuhan.”


Sungguh terdengar sangat mengerikan di telinga Dinar. Wanita itu pun memalingkan muka melihat putranya baik-baik saja dan malah sepertinya sedang bersenang-senang sampai kejar-kejaran berdua dengan sang sepupu saat dia melihatnya dari kejauhan tadi.


Sementara itu, kedatangan salu helikopter malah membuat Lucky garuk-garuk kepala. Ini lah yang membuatnya sebagai ketua pengelola forum pariwisata Lepa ketar-ketir. Orang kaya datang seenaknya ke sana tanpa melakukan reservasi, jika sudah tidak ada pondok yang tersedia mau tidur di mana? masa di atas pohon kelapa.


“Mama!”


“Bubar,”gumam Lucky di dalam hati menyadari siapa dua wanita yang berpakaian bak noni Belanda yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.


“Wah … apa kalian sungguh menikmati liburan? di sini memang tidak ada sinyal ya, Mama sampai bingung menghubungi,” ujar Tata. Ia tersenyum dan mengusap perut Rita.


Melihat perhatian sang adik ke menantu, Dinar hanya melongos dan memasang muka jelek menghina. Ia merasa sangat kegerahan, dan saat melihat kelapa di meja Dinar sampai susah payah menelan saliva.


“Aku mau kelapa juga,” ucapnya.


Hana yang tahu mertuanya sedang kehausan pun mengambil miliknya yang belum sama sekali dia minum, dia mempersilahkan Dinar duduk masih dengan gurat kebingungan. Bagaimana bisa dua calon nenek-nenek itu bisa tiba-tiba ada di sana.


“Mama takut terjadi sesuatu yang buruk ke kalian, kenapa tidak bisa dihubungi?apa tidak ada menara baskomsel di sini?” Tata memutar kepala, bahkan tiang listrik pun sepertinya tidak terlihat.


“Anda bisa naik ke bukit Asmara, di sana ada sinyal,” ucap Lucky.


“Bukit apa?” Tata meminta penegasan, dia merasa salah dengar. Bahkan menunjuk-nunjuk telinganya.


“Apa kamu budek? Bukit Asmara , Tatang,” sembur Dinar, mulutnya yang sudah kembali basah dan tubuhnya yang sudah mendapat asupan mineral dari air kelapa membuat wanita itu kembali pada mode garangnya.


“Bukit Asmara? Apa bukit itu digunakan oleh penduduk pulau untuk indehoi?” Tata penasaran, begitu juga dengan yang lainnya. Semenjak tiba di pulau Lepa tidak sekalipun Lucky menyinggung soal bukit itu.


“Bukan, hanya saja ada mitos bahwa pria dan wanita yang masih lajang jika pergi ke sana berdua mereka bisa menjadi jodoh, tapi nyatanya semua itu hanya mitos,” kata Lucky.


“Jadi hanya yang lajang, janda gimana? Duda-duda?”


Semua orang menoleh ke arah Dinar, entah kenapa wanita itu begitu antusias setelah mendengar penjelasan dari Lucky. Ia pun salah tingkah karena sadar sudah terlalu berlebihan menunjukkan rasa girangnya saat mendengar kata ‘jodoh’.


“Kenapa melihatku seperti itu, apa aku tidak boleh bertanya? Lagi pula jika aku menemukan tambatan hati lagi bukankah tidak salah? sah-sah saja ‘kan?” ucap Dinar lantas memalingkan muka karena mendapati Kelana menatapnya dengan sorot curiga.


“Mama, apa Mama berpikir untuk menikah lagi? Hei … aku tidak akan merestui,” ketus Kelana.