Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 124 : Lolos


Karena tidak ingin mengurusi pekerjaan kantor di rumah, Hana baru membahas e-mail dari bagian HRD Ke Kelana pagi itu. Dan tepat seperti yang dia duga ada nama Bunga Tantria dia salah satu daftar kandidat yang lolos. Hana tertawa-tawa, semakin kentara saja apa yang ada di dalam pikirannya. Bagas memang berniat menjadikan adik tirinya itu sekretaris Kelana, tapi motif dari mantan suaminya itu belum tertebak dengan jelas. Apakah murni untuk bekerja, memata-matai kehidupan rumah tangganya atau yang paling ekstrim Bunga ingin menjadi pelakor.


“Sepertinya aku sudah bisa menebak siapa yang akan menjadi sekretarismu,” ucap Hana. Kelana yang masih menatap deretan nama-nama calon sekretarisnya yang lolos pun tak menjawab.


“Dia pintar juga, nilai tes tertulisnya tertinggi.” Kelana menunjuk data yang sedang dia amati, Hana pun sudah tahu akan hal itu dan hanya mengedikkan bahu. “Haruskah kita melanjutkan tes wawancara atau cukup sampai di sini, langsung saja mengangkat adik tirimu itu sebagai sekretarisku?”


“Ngadi-ngadi,” jawab Hana cepat. Panas juga hatinya mendengar Kelana memuji Bunga pintar, bahkan menawarkan untuk otomatis membuat wanita itu menjadi sekretaris.


Mendapati ekspresi sang istri yang aneh, Kelana pun tertawa. Ia berkata Hana sangat lucu jika mulai cemberut seperti itu, tapi menyeramkan jika benar-benar marah. Pria itu merinding saat Hana tidak mau disentuh bahkan menghindar kalau sedang marah, seperti belut listrik – sudah lah licin masih bisa menyakiti. Membayangkan Hana selicin belut, Kelana pun semakin melebarkan mulut untuk tertawa.


“Apa kamu bahagia membayangkan Bunga menggantikan aku?” ketus Hana. Ia putar bola mata malas dan menyambar berkas di atas meja. Kelana pun sontak kaget, secepat kilat dia cekal pergelangan tangan Hana untuk menahan wanita itu pergi dari ruangannya.


“Hei …kenapa berubah haluan? Bukankah kamu akan senang kalau dia menjadi sekretarisku? Seperti sekretaris sebelum dirimu, aku akan membuatnya tidak betah memiliki atasan sepertiku.” Kelana mengangguk meyakinkan, sedangkan Hana masih terdiam tak menjawab.


Hana tiba-tiba saja ingat Kelana sempat berbicara pada Bagas ingin melakukan acara gathering dengan bagian HRD. Namun, jika bertanya sudah pasti dia akan ketahuan menguping pembicaraan saat itu. Hana pun mencoba mencari topik lain agar bisa merembet ke sana.


“Aku ingin pergi liburan.”


“Ke mana? ayo kita liburan, bahkan sore ini jika kamu mau kita bisa terbang ke Prancis atau Spanyol,” jawab Kelana dan jelas itu bukan lah jawaban yang diinginkan Hana.


Ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba, Kelana melonggarkan cekalan tangan dan mulai membahas perbincangannya dengan Bagas beberapa hari yang lalu. Hana berpura-pura terkejut dan terus mendengarkan penjelasan sang suami. Ia bahkan bertanya kenapa Kelana melakukan hal itu.


“Agar aku bisa menghajarnya di luar, entah kenapa aku yakin mahkluk seperti Bagas itu pasti akan membuat kekacauan dengan sengaja. Lebih dari itu, aku ingin mencari bukti yang lebih jelas apa memang dia yang memasang kamera tersembunyi di bawah meja kerjamu,” ungkap Kelana.


“Jangan bilang kamu ingin membuatnya mabuk dengan sengaja agar dia mengaku, atau kamu ingin membuat dia melakukan kesalahan agar bisa menghajarnya?” tebak Hana.


Seringai dari Kelana seperti menjawab rasa penasarannya soal yang satu ini.


“Membuat dia mabuk dengan sengaja? Dia akan mabuk dengan sendirinya Hunny, lihat saja nanti!”


_


_


_


Scroll ke bawah 👇