
“Kelana jangan bengong!” Dinar menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. “Pak satpam! Tangkap orang ini! dia tadi hampir mencelakai menantuku.”
Tantri gemetaran, dia takut digelandang ke pos keamanan. Tangannya mengguncang lengan Bunga dan putrinya itu juga bingung harus berbuat apa. Memohon pada Hana tak sudi dia lakukan, tapi jika mamanya dibawa petugas, sebagai anak Bunga tidak rela.
“Pak, ini salah paham! Kami itu keluarga,” ujar Bunga. Ia tatap Hana seolah meminta kakak tirinya itu membela atau sekadar mengiyakan ucapannya.
“Keluarga dari Bangladesh?” sindir Dinar, dia menekuk kedua lengan ke depan, mukanya benar-benar menjengkelkan seperti tatangga yang tidak senang melihat tetangganya membeli barang baru.
“Pak, tidak perlu dipermasalahkan, saya tidak apa-apa,” ucap Hana. Tantri dan Bunga seketika lega, tapi tidak dengan Dinar yang langsung menatap nyalang sang menantu.
“Hana!” suara Dinar melengking. Ia menatap bergantian sang menantu juga putranya. Wanita itu ingin Kelana mendukung keinginannya, orang yang sudah berniat buruk pada Hana bagi Dinar adalah musuh yang patut dibasmi.
“Biarkan saja Pak! istri saya tidak apa-apa,” ujar Kelana pada akhirnya.
Tantri dan Bunga pun mengangguk dan tersenyum aneh. Keduanya bergegas kabur dari sana karena takut jika Hana dan Kelana berubah pikiran. Sedangkan Dinar, dia marah dan memukul lengan putranya karena tak berani memukul Hana, dia yang takut calon cucunya kenapa-napa merasa tidak didukung.
“Dasar bodoh, apa kamu pikir Mama bohong? Mama melihat sendiri dia ngedorong Hana, kalau tadi sampai terjadi hal yang buruk, Mama tidak akan sungkan menyeret dia ke penjara.” Dinar menggebu, amarahnya tak tertahan. Ia pun pada akhirnya meninggalkan Kelana dan Hana untuk masuk ke dalam. Dinar memutuskan berbelanja untuk melupakan kedongkolan hatinya.
_
_
Sepanjang perjalanan pulang, Kelana memilih diam. Ia membuat Hana yang duduk di sampingnya merasa serba salah. Bahkan setibanya di apartemen, pria itu tidak memperbolehkan sang istri membawa belanjaan.
“Aku bantu!”
“Tidak perlu!”
Kelana seperti orang yang marah, Hana pun berjalan lemah di belakang prianya itu. Tangannya mengusap perut yang masih datar. Ia terus menunduk sampai tak sadar Kelana berhenti dan kepalanya menerjang punggung sang suami.
“Maaf,” lirih Hana. Ia kini benar-benar bingung harus berbuat apa. Harapannya memberitahu Kelana tentang kehamilannya gagal total. Mungkin benar kalau dia harus menjauhi Tantri dan Bunga, dua orang itu terus saja menjadi biang kesialan.
Kelana meletakkan belanjaan di atas pantry, setelahnya mengambil air minum di dalam kulkas. Hana terbeku di dekat meja pajangan, dia memandangi punggung Kelana yang menenggak air dalam botol dengan cepat, seolah sedang mencoba memadamkan api di dalam dirinya.
“Sayang,” panggil Hana lembut. Ia kaget karena suaminya itu malah meremas botol air mineral yang baru dihabiskan. Kelana berjalan ke arahnya hingga dia secara impulsif mundur ke belakang sampai terantuk meja pajangan.
“Hunny, siapa aku?” tanya Kelana dengan kedua tangan berada di kanan dan kiri Hana, mengurung tubuh wanitanya dengan tatapan mata tajam memindai wajah.
“Kenapa tanya? Kamu suamiku, Kelanaku,” jawab Hana meski sedikit takut jika Kelana akan membentak atau memukulnya. Memukul? Ya siapa tahu.
“Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu tengah mengandung calon anak kita?”
“Aku ingin memberi kejutan.” Hana tak punya alasan lain, dia memilih jujur dari pada urusan ini semakin runyam.
“Ya, dan aku benar-benar terkejut,” sambung Kelana.
“Apa kamu marah?”
_
_
_
Bersambung dulu
Mau liat komen donk Kelana marah atau enggak? aku akan ikutin jawaban terbanyak dan kalau marah diapain, kalau nggak marah diapain Hananya hehehe