Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 163 : Sudah Bangun


“Sayang!”


Hana seolah ingin Kelana menghentikan aksi, tapi nyatanya dia malah mengangkat dan mendorong panggulnya hingga pria itu lebih leluasa menghisap kacang merahnya. Kelana sudah gila, seolah bahagia melihat sang istri belingsatan, lidahnya semakin mengguncang di bawah sana. Hingga tak lama tubuh Hana melenting dan membuat banjir bandang.


Dengan dada yang masih naik turun, Kelana tak memberi kesempatan Hana untuk istirahat. Ia kembali menjelajah, menyusuri lekukan tubuh sang istri yang aduhai, sapuan lidahnya ke leher dan belakang telinga Hana membuat wanita itu kembali menggeliat. Desaahan dan eraangan nyaris memenuhi ruangan, hingga rudal Kelana melesat menghantam palung marihana. Mereka berperang untuk memenangkan kenikmatan.


Namun, sayangnya tak mereka sadari saat melempar recorder dari kantong Hana tadi, jari Kelana tanpa sengaja menekan tombol ‘on’. Recorder itu pun menyala sejak tadi dan bodohnya dua manusia yang setiap hari dimabuk asmara itu tak menyadari, kalau benda berbentuk hampir mirip kunci mobil sport itu mati kehabisan daya setelah satu jam lebih merekam bunyi-bunyi percintaan mereka.


***


Pagi harinya, Hana yang lebih dulu bangun tak berniat beranjak, dia memiringkan tubuhnya, meringkuk lalu menatap wajah damai Kelana yang masih terlelap. Ia tak berani menyentuh pria di sebelahnya yang semalam begitu luar biasa dan membuatnya sampai mengibarkan bendera tanda menyerah kalah. Hana tersenyum, Rasa syukur tak henti-henti dia panjatkan karena dirinya bisa menjadi wanita yang sangat dicintai Kelana. Hana tersenyum sendiri, seperti orang bodoh, seperti remaja yang baru saja mengenal cinta.


“I love you,” ucapnya lembut.


Mendapati pergerakan dari suaminya, Hana sengaja memejamkan mata, tapi sayang Kelana lebih dulu melihat, pria itu menyunggingkan senyum dan memeluk tubuhnya erat dengan mata yang masih terpejam.


“Jam berapa ini?” suara lengket Kelana membuat Hana semakin mengeratkan kelopak mata. Tak ada jawaban, Kelana menundukkan kepala dan membuka netra, dia tahu bahwa Hana sedang berpura-pura tidur karena kelopak mata wanita itu nampak berkedut.


“Aku tahu kamu sudah bangun, apa masih mau berpura-pura?” tanya Kelana lagi, tapi tetap nihil. Hana bersikap seolah dia tidak mendengar ucapan sang suami.


“Oh … aku akan menggelitikimu kalau kamu masih berpura-pura,” pekik Kelana.


Tak hanya ancaman karena tangan pria itu sudah menjelajah pingangnya, Hana menggeliat dan menendang-nendang, mereka tertawa dan bahkan Hana sampai meminta ampun agar Kelana menghentikan aksinya.


“Ampun! Ampun Pak, saya kapok! Tidak akan saya ulangi,” ucap Hana.


Kelana pun berhenti, dia dekap erat pinggang Hana dari belakang. Tubuh wanita itu sudah melorot ke bawah dan kepalanya kini tepat berada di dada Kelana. Keduanya terdiam beberapa detik, sebelum Hana mengawali perbincangan pagi dengan sesuatu yang mungkin bisa merusak kemesraan mereka, tapi mau bagaimana lagi, dia cemas juga.


“Bagas, dia tidak mati ‘kan?”


_


_


“Kepalaku pusing,” ujar Bagas bahkan sebelum Bunga menanyakan keadaannya.


“Bagaimana tidak pusing kalau kamu mabuk sambil manggut-manggut dan pecicilan, untung hidungmu tidak patah, kecelakaan karena mabuk sepertinya tidak di cover asuransi tahu, apa kamu ingin membuatku susah?” sewot Bunga.


“Ma-ma-mabuk?” Bagas memijat kening, dia mencoba mengingat kejadian yang dialaminya semalam, pria itu mengaduh saat merasakan nyeri di hidung. “Pak Kelana, di mana Pak Kelana?” tanya Bagas dengan netra membola.


“Sama sepertimu dia juga mabuk, dia yang memintaku membawamu ke sini.”


“Mabuk? Mana ada orang mabuk bisa memerintah orang dengan sadar.” Bagas menerka.


“Benar juga!” Bunga menimpali, dia mengangguk-angguk sebelum saling tatap dengan Bagas dan mata mereka melotot sempurna.


“Jangan-jangan!”


_


_


_


Scroll ke bawah 👇