
Tanpa sepengetahuan Bunga dan Bagas, Tantri pergi ke luar rumah. Ia berniat bertemu dengan orang yang rela dibayar untuk melakukan perintahnya. Wanita itu ingin membuat Hana celaka, persis seperti keinginan Bunga yang sebenarnya hanya emosi sesaat.
Sedangkan Kelana juga baru saja kembali dari kantor polisi bersama Rudi Tabuti untuk melaporkan Bunga dan Bagas. Ia benar-benar serius untuk menjebloskan dua orang itu ke balik jeruji besi. Meski harus mengerjakan segala sesuatunya seorang diri, dia lebih tenang karena setidaknya masalah yang selama ini menjadi beban pikiran istrinya sudah teratasi. Hanya menunggu waktu pasangan jahat itu jatuh terpuruk.
Hana sangat menikmati acara memanjakan diri di salon. Meski terus saja berdebat tapi Dinar dan Tata juga tak terbawa emosi. Kini setelah manicure - pedicure, kedua wanita itu menambah perawatan, dan pijat relaksasi menjadi pilihan mereka. Hana tak turut serta, dia memilih menunggu sambil duduk di sofa, memerhatikan Dinar dan Tata yang masih berada di satu ruang dengannya sambil berbalas pesan dengan Kelana.
[ Kata Pak Rudi, kamu harus siap jika diminta datang untuk memberi keterangan]
Hana mengiyakan apa yang disampaikan sang suami, dari pada membahas itu dia lebih tertarik untuk tahu apakah Kelana sudah makan siang atau belum.
[ Aku, Mama dan tante Tata ingin makan di tempat biasa, apa kamu mau ikut? Sebentar lagi mereka selesai ]
[ Boleh, kabari saja kalau kalian sudah menuju ke sana ]
Kelana memandangi benda pipih di tangannya, sejenak dia berpikir haruskah mengangkat sekretaris baru? tapi dari pada kandidat lain yang lolos tes sebelumnya. Bagaimana jika Hana saja yang menjadi sekretarisnya lagi? tapi istrinya itu sedang mengandung, kesehatan Hana dan calon anak mereka jelas yang paling utama. Namun, Kelana tetap saja berharap dan membayangkan, pasti akan menyenangkan jika bisa berada di dekat sang istri sepanjang waktu.
_
_
Dima-diam, Tantri memberi tahu ke preman bayarannya siapa target yang harus dihabisi. Wanita jahat itu ternyata berubah pikiran. Dia tidak mengincar Hana melainkan Kelana. Tantri berpikir jika Hana mati, Kelana masih bisa menikah lagi. Pria yang menurutnya sangat angkuh itu tidak akan pernah merasakan penderitaan karena kaya raya. Namun, jika dia menghabisi Kelana, Hana otomatis juga akan ikut mati, karena wanita itu pasti akan terpuruk dan lebih mudah menyingkirkannya jika sang pelindung tidak ada.
“Dia biasanya pulang jam lima sore atau paling lambat jam tujuh malam, putriku bilang dia tidak pernah mau lembur di kantor, dengan alasan ada kehidupan pribadi yang harus dijaga kelangsungannya.” Tantri menjelaskan pada preman bayaran yang disewa. Mereka berada di satu mobil yang memang dibawa si preman untuk mengintai target.
Mereka masih membicarakan tentang rencana jahat itu, dan Tantri tiba-tiba menunjuk-nunjuk mendapati Kelana berjalan keluar lobi perusahaan. Wanita itu berucap, “Itu dia! Kamu harus bisa membuat pria itu celaka.”
Preman itu tersenyum miring dan membuang puntung rokok keluar dari jendela mobil. Keahliannya dalam mengambil pekerjaan haram tak perlu diragukan lagi. Preman itu menarik sudut bibir. Sebuah ide jahat terlintas di dalam pikiran.
“Bagaimana jika tabrak lari? Aku tidak yakin akan membuatnya terbunuh, tapi cacat seumur hidup bukankah itu cukup? Bayarannya kecil.”
“Tidak, aku mau kamu menghabisi nyawanya, kamu mau minta tambahan berapa? Akan aku usahakan mencari uang yang kamu minta asal pekerjaan yang kamu lakukan lancar dan tidak ada satu pun orang yang curiga,” kata Tantri menegaskan.
“Kalau begitu, aku akan melakukannya. Mana uang yang kamu janjikan?” tagih preman itu.
Tantri bergegas merogoh tasnya, dia keluarkan amplop berisi uang terakhir yang dia miliki lantas memberikannya pada preman itu. “Ini baru DP, jika dia mati aku akan menambahnya lagi, asal jangan sampai orang-orang curiga, apa lagi berurusan dengan polisi.”
Preman itu tersenyum miring dan bahkan mencium uang yang diberikan oleh Tantri. “Siap! Tapi sebaiknya kamu tidak ikut saat aku melancarkan aksi, jika ada yang mengenalimu kamu pasti akan dicurigai, meski dibayar jauh lebih murah tapi aku professional, aku tidak akan membiarkan identitas klien terbongkar.”
_
_
_
Aku Up banyak dan nyantol babnya kemarin 🤧🤧