Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 22 : Baperan


Setelah membuat keributan berujung marahnya Rafli, Kelana masih saja tidak merasa bahwa dirinya salah. Sedangkan Hana harus menahan malu karena sikap suaminya yang aduhai kekanak-kanakan. Rafli memilih mendiamkan Kelana. Kelapa tak didapat dan ritual sudah tidak sakral lagi jika diulang.


“Rafli, woi … Rafli, apa kamu mau marah sampai nanti?” Kelana mengejar sang sepupu, semua keluarga yang melihat pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Akankah ada the next Kelana dan Rafli nanti? Tak apa setidaknya mereka tidak sampai merebutkan wanita yang sama.


“Maafkan suamiku ya Rita!” Hana tak enak hati, dia sentuh lengan Rita. Wanita itu tersenyum dan berkata tidak apa-apa.


“Hanya saja Rafli memang mengidamkan prosesi tuju bulanan seperti artis-artis, bahkan mulai dari event organizer sampai makanan dia yang memilih sendiri, jadi anggaplah wajar jika dia bersikap seperti itu,” ungkap Rita,


Ya, Hana maklum. Dia malah semakin tak enak hati karena penjelasan Rita. Ia berharap Kelana meminta maaf dengan tulus dan Rafli bisa memaafkannya.


“Ayolah, jangan marah seperti anak kecil. Aku akan berada dalam masalah kalau kamu bersikap seperti ini,” bujuk Kelana. Dia menempelkan telinga ke pintu kamar Rafli dan Rita, karena sepupunya tadi masuk, membanting pintu dan menguncinya.


“Pergi kamu dari rumahku!” teriak Rafli dari dalam. Kelana mengembuskan napas dari mulut, tak menyangka sepupunya akan semarah ini, tak terlintas juga di dalam benaknya kalau perbuatannya ternyata menghancurkan acara.


“Baiklah aku pergi, besok aku beri kamu lima persen saham pabrik gula. Jangan marah lagi, ok!” bujuk Kelana, dia mengangguk penuh keyakinan sebelum memutuskan pergi dari depan kamar sang sepupu.


“Lima persen, tidak bisakah kamu naikkan sedikit lagi,” gerutu Rafli di dalam kamar.


_


_


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Hana memerhatikan wajah suaminya. Kelana bersikap biasa seolah tak memiliki dosa. Wanita itu penasaran kira-kira jika posisi Kelana dan Rafli dibalik tadi,seberapa besar kemarahan yang akan ditunjukkan Kelana. Hana yakin sang suami pasti akan naik pitam dan sama sekali tidak mau memaafkan.


“Kenapa memandangku seperti itu? apa kamu juga mau menyalahkan aku?” selidik Kelana.


Kelana tertampar dengan ucapan Hana. Dia memajukan bibir lalu berdecak seolah menyesalkan apa yang terjadi, baginya Rafli terlalu berlebihan. Untuk apa juga marah sampai mengunci diri di dalam kamar,


“Semua keturunan nenek Ayu sepertinya baperan,” ujar Hana. Dia memandang ponselnya sibuk melihat-lihat foto baju bayi di tokopakedi. Hana tak sadar Kelana meliriknya dengan raut wajah tak terima.


“Jadi kamu mau mengatakan bahwa aku ini baperan?” tanya Kelana, matanya menyipit dan lagi-lagi melirik sang istri.


“Hem … apa aku salah, bukankah kamu memang begitu.”


Kelana tergelak, dia tak menyangka Hana akan meyindirnya seperti ini. Ia memilih mengangguk mengiyakan, setelahnya menakut-nakuti. “Hati-hati kamu sedang mengandung keturunan nenek Ayu juga.”


“Ya, aku sadar. Maka dari itu aku akan mensugestinya sejak dalam kandungan kalau dia tidak boleh baperan, harus sayang dengan sepupunya nanti, jujur saja aku tidak ingin ada Kelana-Rafli dan Dinar-Tata lagi.” Hana memutar bola matanya setelah berucap seperti itu, membuat Kelana gemas dan mencubit pipi gembulnya.


“Untung wanita idamanku dan Rafli berbeda,” ujar Kelana.


_


_


_


Hai 🤗 Extra part sampai 30 ya, pemenang #GAhunny aku umumkan malam ini di IG