Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 112 : Murka


“Aku sudah bisa menebak siapa orang itu,” ucap Hana.


“Jangan bilang Bagas,” terka Kelana. Ia langsung berdiri dari kursi. Pria itu emosi dan bahkan Hana harus sampai menahan lengannya.


“Apa yang mau kamu lakukan? apa kamu ingin menghajar Bagas? Jangan lakukan itu, aku tidak mau tanganmu menjadi kotor karena menyentuh pria itu.” Hana mencoba menenangkan. Ia melihat kilat kemarahan dan emosi yang meledak-ledak dari suaminya. “Lagi pula itu tadi hanya tebakanku, meski sembilan puluh persen aku yakin Bagas orangnya.”


“Pria sialan itu, aku akan menendangnya dari sini.” Kelana menghempaskan tangan Hana. Ia membuka pintu ruang kerjanya lebar-lebar sampai terdengar benturan keras antara kayu dan tembok.


“Sayang, aku mohon tahan emosimu, jika kamu tiba-tiba menghajar Bagas dan ternyata tidak ada barang bukti, semua orang pasti akan berpikir negatif padamu. Ingat Sayang, berapa ratus laptop dan PC yang ada di kantor ini.” Hana menghadang langkah Kelana. Ia menyesal juga menyulut amarah sang suami dengan menyebutkan nama Bagas tadi. Seharusnya dia tidak berkata seperti itu karena suasana hati Kelana jelas sedang dalam kondisi yang kurang baik semenjak Dinar datang tadi.


“Bagaimana jika Bagas sudah lebih dulu menghilangkan barang bukti, bukankah kamu masih belum mendapat rekaman CCTV,” ujar Hana masih berusaha membuat Kelana meredam emosinya. “Sayang, aku tidak ingin kamu dipandang rendah oleh semua orang hanya karena Bagas. Dia sangat licik meski terkadang bodoh.”


Kelana membuang napasnya kasar, dia bahkan membalik badan dan berteriak sambil memukul udara di depan wajahnya. “Sialan! aku akan menghabisi dia jika benar-benar berani memata-mataimu.”


Hana sedikit bernapas lega, meski berbicara sambil memunggunginya, Hana yakin apa yang dia ucapkan masuk ke dalam pemahaman dan pertimbangan sang suami. Wanita itu pun menubruk punggung Kelana, melingkarkan lengannya ke pinggang pria yang sedang emosi itu.


“Jika benar Bagas, maka aku akan membantumu menghajarnya, tapi aku mohon jangan sampai kamu bertindak bodoh, ini kantor. Kamu pemimpin di sini, jika sampai kamu memukul bawahanmu karena masalah pribadi, reputasimu akan hancur dan jika itu benar Bagas, dia pasti akan sangat bahagia,” ujar Hana. “Aku tahu seperti apa dia, pria itu sangat licik. Aku tidak ingin kamu sampai dirugikan.”


Kelana menyugar rambut masih mencoba meredam emosi. Mereka bertahan dengan posisi Hana memeluk dari belakang selama beberapa menit. Hingga Kelana mulai tenang dan Hana mengendurkan pelukan.


“Aku akan menanyakan ke bagian CCTV, kenapa mereka tidak memberiku kabar,” ucap Kelana. Ia belai pipi Hana sebelum meninggalkan istrinya itu untuk menuju ruang pantau CCTV. Giginya sudah bergemerutuk. Tangannya mengepal kuat dan Hana tahu kalau suaminya itu masih emosi.


Namun, harapan Hana jelas mustahil. Kelana menggebrak meja dan bahkan melempar keyboard yang berada di dalam ruangan itu.


“Apa kalian bilang? Coba ulangi! CCTV di lorong lantai ruanganku rusak. Lalu kenapa kalian tidak bilang sejak awal agar bisa diperbaiki? Ha?”


Semua orang menunduk, mereka takut karena Kelana begitu emosional. Bahkan satu di antara mereka sudah gemetaran.


“Apa kalian sudah tidak ingin bekerja di sini? apa kalian ingin keluar? Jika iya, tulis surat pengunduran diri sekarang juga!” bentak Kelana. Semua orang semakin menunduk, bahkan untuk bernapas pun mereka merasa takut.


Kelana menendang kursi hingga terjungkal. Amarahnya kali ini benar-benar mengerikan. Ia tidak terima ada orang yang mengusik wanitanya, Ia berjalan cepat keluar dari sana, bahkan mengabaikan sapaan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.


“Panggil Bagas ke ruanganku! Sekarang!” titahnya ke salah satu staff yang dia temui.


_


_


 


bersambung