
“Apa tambak buatan ini bisnis baru Anda?” tanya Arman berbasa-basi, kini dia sudah duduk dengan Ayu dan sedang dilayani oleh beberapa pelayan.
“Bukan Pak Arman, katanya ada sesuatu yang penting di balik acara malam ini,” jawab Ayu. Sejak dulu dia memang begitu ramah ke Arman. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa orang kaya itu sombong, tapi nyatanya banyak orang kaya yang bisa bersikap baik ke orang lain, tidak membanding-bandingkan derajat dan status.
“Itu … apa tidak apa-apa Bu Dinar?” Arman sungkan membahasnya, sejak tadi Dinar masih terus berdebat dengan Tata.
“Ya, dia mereka memang seperti itu sejak kecil, mungkin ini salahku karena saat Dinar baru berumur enam bulan aku sudah hamil Tata. Padahal aku juga tidak pernah membandingkan, bahkan kasih sayang yang aku berikan juga sama, tapi jadinya seperti itu Pak Arman.”
Ayu tertawa, karena tak tahu harus merespon apa Arman pun ikut tertawa.
_
_
“Sudahlah Dinar! Tidak perlu mempermasalahkan baju, kamu undang aku datang, ini itu soft blue, bukan biru telur asin, pakailah kacamatamu dulu,” ucap Tata. Ia memang memiliki mental baja, tak akan dengan mudah menerima hinaan dari sang kakak. Setiap sindirian yang diberikan oleh Dinar, akan di balas dengan sindiran juga.
Begitulah kakak-adik calon nenek-nenek itu. Mereka berdebat hanya karena masalah sepele seperti anak kecil. Ayu tentu saja tidak pernah mengajari kedua putrinya untuk bermusuhan, dia meyakini sudah sifat bawaan Dinar dan Tata, gen dirinya yang bercampur dengan gen suaminya menjadikan dua anaknya yang sudah tidak gadis itu memiliki sifat sama kerasnya.
“Kalau kamu tidak suka aku datang, kenapa kamu mengundangku?” tanya Tata lagi, dia memasang muka masam ke Dinar, tak sabar sudah ingin beraksi mengeluarkan surat sakti. Ya, surat perjanjian Kelana dan Hana yang sudah dia tambal sulam dengan isolasi.
“Karena ada yang mau aku pamerkan ke kamu,” jawab Dinar dengan santai, sepertinya hanya dia saja mahkluk di muka bumi ini yang terang-terangan mengaku ingin pamer.
“Oh … begitu, baguslah aku juga punya hadiah spesial,” ucap Tata jemawa. Ia menyilangkan tangan ke depan dada dan menaikkan dagu.
“Apa? mau ngajak tawuran?”
***
Melihat dua putrinya seperti anjing dan kucing, Ayu akhirnya turun tangan. Ia panggil Dinar dan Tata lalu meminta keduanya duduk, mereka hanya terbagi dalam lima meja, keluarga inti dan teman dekat saja lah yang Dinar undang untuk menjadi saksi keperkasaan putranya.
Bibirnya melengkung manis, setelahnya Dinar meminta semua orang menikmati pesta, bahkan jika minat, setiap orang yang datang boleh mengambil ikan dari tambak buatan itu untuk dibawa pulang.
Acara inti pun dimulai, seperti biasa ada sambutan dari si tuan rumah. Kelana pun berdiri disambut tepuk tangan bak ketua badan eksekutif mahasiswa yang hendak berorasi. Hana tak bisa menyembunyikan tawa, meski belum tahu pasti tapi Hana yakin pesta malam ini adalah bentuk suka cita Kelana dan Dinar atas kehamilannya.
“Terima kasih karena sudah mau memenuhi undangan mama dan aku malam ini, meski pesta ini diadakan di tempat yang out of the box tapi kami harap Anda semua menikmati, karena pesta malam ini adalah bentuk syukur kami atas kehamilan Hana.”
Semua orang seketika membuat ekspresi wajah yang sama, bahagia, kaget dan antusias. Hana sampai menunduk malu dan mengucapkan terima kasih ke setiap orang yang mengucapkan kata selamat. Namun, di antara kebahagiaan Hana dan orang-orang, ada dua mahkluk yang terlihat kesal – Tata dan putranya.
Tata bahkan merasa surat perjanjian yang susah payah dia satukan bagaikan kepingan puzzle itu kini tak berguna. Kehamilan Hana jelas mematahkan isi dari surat itu - yang sudah dia baca bahkan hafalkan isinya bak Dasa Dharma Pramuka.
Tata mengeram, dia maju mundurkan bibirnya bak brutu ayam. Sampai Rafli bertanya kenapa sang mama menjadi begitu kesal.
"Dia pasti bangga mantunya hamil."
“Tapi, bukankah tetap saja Rita akan melahirkan duluan,” bisik Rafli lalu menoleh ke sang istri.
“Iya, tapi rencanaku membuat Dinar kesal gagal kalau seperti ini,” ucap Tata lalu menghentakkan kaki, dia tatap Dinar yang sengaja mengedip-ngedipkan mata ke arahnya.
“Memang apa rencana Mama?” bisik Rafli lagi.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇