Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 84 : Merdu


Hana membiarkan saja Kelana menyentuhkan bibir mereka, pria itu mengecupi bagian bawah dan atas bibirnya secara bergantian dengan lembut, sampai dirinya hanyut dan pasrah saat tangan Kelana membuka tali piyamanya. Pria itu menggigiti puncak bukitnya dari luar lingerie tipis yang dia kenakan, hingga ******* lolos dari bibir.


“Enak?”


Hana mengangguk, dia tidak bisa menolak sentuhan demi sentuhan yang Kelana berikan, wanita itu hanya bisa memejamkan mata dan sesekali menendang dan menekankan kakinya saat ceruk lehernya menjadi sasaran empuk berikutnya. Gelenyar geli menguasai sekujur tubuh hingga menciptakan sensasi yang membuat palungnya berkedut.


Tatapan sayu Hana membuat Kelana semakin bernafsu, pria itu berlutut lalu meloloskan kaosnya. Ia lempar ke sisi ranjang dan kembali menindih tubuh Hana sambil meloloskan kain penutup terakhir yang melekat di tubuh wanita itu.


Tak ingin membuat wanitanya merasa dia hanya menginginkan kenikmatan tanpa ingin memberi, Kelana pun menyentuhkan jemarinya ke palung Hana, mengusapnya lembut hingga sedikit mengguncangnya. Erangan Hana membuatnya semakin bernafsu. Ia tidak tahan lagi dan akhirnya membuka penutup terakhir yang melekat pada tubuhnya. Dengan sekali sentakan dia melesatkan rudalnya ke dalam palung Hana hingga istrinya itu terjingkat.


“Maaf!” ucapnya melihat sorot mata Hana yang sedikit kesal dengan apa yang baru saja dia lakukan, tapi setelahnya wanita itu benar-benar menikmati setiap hentakan yang dia beri, bahkan beberapa kali berganti posisi.


Mereka melakukannya di sofa dan bahkan tepian ranjang, hingga malam itu menjadi sangat panas. Keringat mereka bercucuran seiring dengan bunyi tulang selangka yang beradu merdu. Suara seksi dari bibir yang mensabdakan kenikmatan saling bersahutan. Hingga Hana yang berada di atas tubuh Kelana menjerit seiring dengan tercapainya nirwana. Mereka roboh, dengan tawa dan deru napas yang memburu.


“Kelana kamu benar-benar sesuatu.” Hana menutup matanya dengan lengan sesaat setelah merebah, sedangkan pria yang dia puji nampak menyunggingkan senyum lantas menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


“Apa kamu menyukainya Hunny-ku?” godanya.


“Jelas, satu-satunya peperangan yang selalu aku tunggu adalah menggoyang ranjang bersamamu.”


Kelana mengangguk jemawa, dia mendekap tubuh Hana dan membawanya ke dalam pelukan. Pria itu bahkan melarang sang istri memakai bajunya lagi.


“Tidak usah dipakai dulu, nanti juga dilepas lagi.”


“Mereka pasti maklum, kita masih terhitung pengantin baru,” kata Kelana membela diri.


“Aku pengantin basi, mereka tahu aku sudah tidak perawan, aku ini janda.” Hana mulai rendah diri lagi jika sudah membahas tentang statusnya.


“Jangan merasa rendah diri Hana, kamu harus mendongakkan kepala. Kamu kini adalah istriku, ratuku. Aku akan menjagamu dan tidak akan pernah membiarkan orang lain menghinamu.”


Berbunga-bunga hati Hana mendengar ucapan Kelana yang nampak begitu sangat memujanya. Ia pun mendekap erat tubuh pria itu dan mencurukkan kepala. Namun, tak lama samar terdengar suara isak tangis dan membuat Kelana mengernyit heran.


“Hana, kenapa? apa kamu menangis? hei … kenapa? ada apa?” Kelana bingung, Ingin menjauhkan tubuh tapi Hana malah menggeleng.


“Aku tidak apa-apa, aku hanya bahagia, aku tidak menyangka akan ada yang menyayangiku seperti ini. Terimakasih!”


Isak tangis Hana semakin terdengar keras, hingga Kelana harus mengusap punggungnya untuk menenangkan. “Kenapa jadi begini?”


_


_


_


bersambung