
“Apa? hamil?”
Kabar dari Bunga membuat Bagas tak percaya, dia merasa tak senang dengan kabar kehamilan Hana. Wajahnya bahkan berubah sinis dan dengki. Sampai Tantri menyindirnya dengan kata-kata yang agak menohok sanubari.
“Kenapa? apa kamu kaget karena dia bisa hamil? kalah saing? Halah Bagas … Bagas, hampir empat tahun saja Bunga belum bisa kamu buat hamil.”
Bunga agak tak enak hati mendengar ucapan Tantri, tapi mau bagaimana lagi, Bagas juga sepertinya memang tidak ingin memiliki anak darinya, bukan kesiapan finansial dan mental yang menjadi kendala mereka, tapi menurut Bunga juga keinginan, mungkin Bagas memang tidak ingin anak darinya.
Tunggu! darinya? jadi jika anak yang terlahir dari rahim wanita lain Bagas mau? Bunga mendelik.
“Tidak, aku ikut bahagia mendengar kehamilan Hana karena aku tahu Hana memang menyukai anak kecil.” Bagas tak ingin berdebat, meskipun kata-kata Tantri tidak bisa begitu saja dia buang dari dalam hati.
_
_
“Soal yang kemarin, mamamu sudah gila melakukan hal yang buruk ke Hana di tempat umum.”
Bagas mengancingkan kemeja, pria itu mematut diri di depan cermin sambil menatap Bunga yang duduk di meja rias dari pantulan kaca pagi itu. Bunga nampak tak merespon karena sedang memoles lipstick ke bibir.
“Lalu, apa jika tidak di tempat umum boleh?” sinis Bunga. “Apa kita mau melakukan itu lagi? melenyapkan bayinya, jika dulu bayi yang dikandung Hana milikmu saja kamu tega, apalagi sekarang milik pria lain,” sindir Bunga, sisi iblisnya muncul dan membuat Bagas sedikit ngeri.
“Aku tidak suka melihat dia mendapatkan apa yang dia inginkan begitu saja,” imbuhnya sambil menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangan.
Bagas hanya termenung, dia tak mau melakukan hal yang sama. Meski hatinya terasa tak rela juga. Pria itu memang masih menaruh rasa suka ke Hana, terlebih kini mantan istrinya itu menjadi wanita yang sangat cantik, berkelas dan membuat semua orang segan.
***
“Berangkat sana!”
Hana mengusir Kelana yang sejak pagi menempel bagai anak koala. Pria itu memeluk pinggang, meletakkan dagu di pundak dan ikut berjalan kemana pun Hana melangkah.
“Siapa bilang aku mau makan seafood? Aku cuma bilang mau makan ikan, tapi aku tidak bilang mau seafood.” Hana menoleh Kelana, pipinya yang begitu dekat dengan wajah pria itu membuatnya tak bisa menghindar saat sebuah kecupan menempel di sana.
“Melepas baju? Apa kamu mau telanjaang di depanku?”
Kelana tertawa, dia angkat kepala dan melepas kungkungan tangannya. Pria itu tak sabar pergi ke dokter kandungan setidaknya untuk bertanya apakah dia boleh melakukan peperangan bersama Hana dengan kondisi istrinya hamil muda.
“Nanti mesin rudal bisa karatan kalau tidak digunakan,” candanya.
“Bisa diberi oli,” jawab Hana.
“Nah … kenapa kamu tidak memberinya, aku rindu dengan lidah tornadomu.”
“Sayang ini masih pagi, bisa tidak ditunda sampai nanti malam?”
“Yes!” Kelana menekuk siku, dia tertawa dan mencium pipi Hana bertubi-tubi. Pria itu bahkan hampir melupakan keinginan sang istri untuk makan ikan. “Oh … ya kamu mau makan apa? katanya ikan, kalau tidak mau seafood lalu kamu mau apa?”
Hana tersenyum malu-malu, dia tunjuk-tunjuk dada Kelana sambil menggoyang-goyangkan bagian atas tubuhnya.
“Aku mau makan tambak-food.”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇