Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 96 : Kamera


Sepanjang perjalanan pulang, Dinar hanya diam. Ia merasa kalah telak karena setelah pemeriksaan tadi, sang dokter memberikan wejangan yang cukup panjang kali lebar kali tinggi seperti rumus mencari volume balok kepadanya.


Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan sesuatu yang salah dengan organ reproduksi Hana, sehingga Dokter menyarankan agar Dinar bersabar. Namun, dokter juga memberikan masukan ke Hana agar tidak melakukan hubungan suami istri terlalu sering.


“Saya sudah mengatakan hal ini ke suami saya Dok, tapi dia tidak percaya bahkan tidak mengindahkan apa yang saya ucapkan.” Begitu Hana membalas ucapan dokter tadi.


Dinar pun mengantar Hana kembali ke perusahaan, setelah itu pergi dari sana. Wanita tua itu sedang mencoba berdamai dengan diri sendiri, agar bisa menerima kekalahannya dari sang adik yang sebentar lagi akan mendapatkan cucu.


“Hah … dasar Mamanya Kelana, dia kira hamil itu bisa dadakan kek tahu bulat?” gerutu Hana. Ia pun memutar tumit masuk ke dalam gedung perusahaan. Bibirnya bersenandung riang sepanjang langkah, bahkan dia dengan ramah membalas sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya.


Sunyi. Hana berdiri memandangi pintu ruang kerja Kelana. Wanita itu sudah melangkah dan hampir memegang gagang pintu, tapi seketika mengurungkan niatnya. Hana memilih duduk di meja kerjanya dulu untuk membetulkan make up di wajah. Ia memulaskan lipstick ke bibirnya setelah itu meratakan bedak. Namun, tanpa sengaja Hana menyenggol lipstiknya hingga terjatuh. Ia pun mau tak mau menunduk untuk mengambil benda itu, saat akan menegakkan punggungnya kembali, Hana kaget mendapati sesuatu menempel di bawah mejanya.


“Apa ini?” Hana sampai berjongkok dan memundurkan kursi. Mulutnya mengaga lebar mendapati sebuah kamera tersembunyi di sana.


“Siapa yang menaruh kamera seperti ini di bawah mejaku?” Hana membekap mulutnya sendiri.


Wanita itu masih berjongkok di bawah meja saat Kelana keluar, suaminya itu heran dengan apa yang sedang dia lakukan di sana.


“Hunny … ap –“


Kelana seketika bungkam, pria itu mengernyitkan dahi mendapati Hana meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya sendiri. Perlahan Hana menggeser badan dan mendekat, secepat kilat wanita itu menarik lengan Kelana untuk masuk ke dalam ruangannya.


“Ada apa? kenapa kamu seperti orang yang baru melihat penampakan seperti itu?” tanya Kelana.


Hana bingung harus menjawab apa, tatapan matanya fokus ke meja kerja suaminya lalu berjalan mendekat ke sana. Ia melakukan hal yang sama seperti tadi, berjongkok untuk melihat bagian bawah meja Kelana.


“Hunny, aku bertanya padamu, kamu sedang cari apa?” Kelana sedikit membentak karena Hana seperti tak mau mendengarkannya.


Wanita itu berjalan cepat dan berdiri tepat di depan sang suami. Hana memindai wajah Kelana lebih dulu sebelum berucap-


“Sepertinya ada kamera mata-mata di bawah meja kerjaku.”


“Apa?” Kelana sontak terkejut. Ia bahkan hampir keluar untuk mematikannya sendiri, tapi Hana menghalangi.


“Jangan! sabar!”


“Aku harus memeriksanya, kamera apa itu dan bagaimana bisa berada di bawah mejamu, siapa yang ingin memata-matai dirimu.” Muka Kelana sudah berubah menjadi merah menahan amarah. Pria itu tak bisa ditahan dan Hana pun akhirnya hanya bisa pasrah saat suaminya itu berjongkok dan langsung mencopot benda itu.


“Sialan! siapa yang berani memata-matai istriku.” Kelana menggenggam benda itu dengan gigi yang bergemerutuk.


_


_


_


Bersambung