Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 21 : Tujuh Bulan


Hana dan Kelana tampak berpakaian rapi hari itu, keduanya hendak menghadiri acara tujuh bulanan Rita—istri Rafli, sepupu kesayangannya dalam tanda kutip. Saat sampai di rumah Rafli, tempat itu sudah dipenuhi banyak orang yang menghadiri acara itu.


“Kalian datang juga.” Rita menyambut Hana dan Kelana ketika pasangan suami istri itu mendekat untuk menyapa.


“Tentu saja, tidak ada alasan untuk kami tidak datang,” balas Hana, kemudian mencium pipi kiri dan kanan Rita. Hana memberi selamat dan doa, begitu juga dengan Kelana.


“Kalian nikmatilah hidangannya dulu, selagi menunggu acara dimulai,” kata Rita sambil menunjuk ke arah stand makanan yang tersedia di sana.


Hana mengangguk dengan senyum lebar di wajah, lantas mengajak Kelana pergi mencicip beberapa makanan. Wanita itu tampak mencoba beberapa menu, sedangkan Kelana hanya menemani dan menikmati segelas jus.


“Wah ... makanmu banyak sekali, tambah gendut kamu nanti." Dinar datang kemudian meledek menantunya itu untuk sekadar menggoda.


Hana yang sedang mengunyah makanan seketika berhenti mengunyah dan menatap piring yang dipegang kemudian ke perutnya. Dia memang sejak tadi sudah banyak makan, mungkin semua menu sudah dicoba.


Dinar tertawa melihat ekspresi wajah Hana, sebelum kemudian mengusap lengan menantunya itu dengan lembut.


“Tenang saja, meski kamu gendut, Kelana tidak akan menceraikanmu,” seloroh Dinar diakhiri gelak tawa.


Hana menggelembungkan pipi, sedangkan Kelana yang mendengarnya pun juga ikut tertawa.


“Idih … Mama, kalau Kelana menceraikanku, nanti aku kurusin badanku lalu cari suami lain,” timpal Hana dengan nada candaan.


Kelana langsung merangkul pundak Hana, kemudian menyipitkan mata. “Berani kamu, hem ….”


Dinar tergelak melihat tingkah putra dan menantunya itu. Sedangkan Hana hanya bisa nyengir kuda saat mendengar ucapan sang belahan jiwa.


“Ya sudah, kalian nikmati hidangan yang ada. Mama mau kepoin persiapan prosesi acara mantunya si Tatang. ” Dinar pun meninggalkan anak dan mantunya.


Hana melirik Kelana yang masih merangkul pundaknya, kemudian menyendok makanan dari piring dan menyodorkan ke arah pria itu


“Mau?”


Kelana membuka mulut, lantas makan dari suapan Hana.


“Enak,” ucap Kelana dengan mulut penuh.


***


Kelana dan Hana berdiri di dekat Rafli yang akan memecah kelapa, melihat dengan jelas sepupunya itu akan melakukan ritual puncak tujuh bulanan yang ditunggu-tunggu.


Rafli mulai mencoba memecah saat master ceremony mulai memberi instruksi agar memulai acara itu. Namun, ternyata beberapa kali Rafli gagal melakukannya, membuat semua orang yang melihat terheran-heran.


“Emang mecah kelapa susah, ya?” tanya Hana berbisik pada Kelana.


“Nggak juga,” jawab Kelana dengan nada mencibir.


Kelana yang tidak sabar karena sang sepupu tak kunjung berhasil memecah kelapa, memilih mendekat dan mengambil golok dari tangan Rafli, dia berhasil memecahkan buah itu dalam sekali hentakkan.


Terang saja apa yang dilakukan Kelana membuat Rafli terkejut, termasuk semua orang yang melongo dan menatap suami Hana itu tak percaya


“Mudah lho, kamu kok lama bener mecahnya.” Tanpa rasa bersalah, Kelana malah meledek Rafli.


“Kelana! Kenapa kamu yang pecahin? Memangnya calon bapaknya siapa!” teriak Rafli emosi.


Kelana bingung, kemudian garuk-garuk kepala.


Hana juga terkejut melihat suaminya malah memecah kelapa itu, lantas mendekat dan berbisik, “Sayang, kok kamu yang pecahin?”


“Lah, salah siapa dia tidak bisa-bisa sejak tadi.” Kelana bicara sambil menunjuk Rafli.


Dinar yang melihat itu memegangi kepala, sungguh putranya itu tidak tahu apa-apa tentang sakralnya ritual tujuh bulanan itu.


“Seharusnya yang mecahin kelapa itu aku, Kelana! Tidak bisa! Kamu harus carikan lagi kelapa yang sama, biar diulang ritualnya!” geram Rafli.


Kelana dan Hana menoleh Rafli, mereka mengedip tanpa dosa melihat wajah sepupunya itu merah padam menahan amarah.


_


_


_


Yang belum ikut GA ditunggu sampai Minggu ya 🥰