Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 130 : Mau Coba Merayu?


Pagi itu agak jengah juga Hana harus menyaksikan Bunga berada di ruangan Kelana. Adik tirinya itu sudah jelas mendapat pekerjaan sebagai sekretaris suaminya. Meski begitu, Hana tetap mencoba bersikap profesional, dia bahkan salut ke sang suami yang tanpa dia minta melakukan sandiwara dengan berpura-pura terkejut karena mendapati Bunga yang terpilih menggantikannya.


“Wah … jika ini hubungan pernikahan bukankah namanya turun ranjang?”


Hana dan Bunga mendelik, tapi Kelana malah tertawa terbahak-bahak. Ia merasa bersemangat sekali untuk segera membuat adik iparnya yang jahat itu kalang kabut. Mata Hana pun menyipit, curiga juga dia kepada Kelana tapi saat suaminya itu mengerlingkan mata genit padanya barulah Hana sadar bahwa Kelana sedang melancarkan aksi.


“Tapi bukankah kalian memang seperti itu? Bagas dulu suami Hana lalu pisah kemudian menikah dengan kamu – Bunga, ya benar. Betul itu betul, bisakan disebut turun ranjang?” Kelana terkekeh lagi. Bunga yang melihat tingkah atasan merangkap iparnya itu pun dibuat heran.


“Ya sudah Hunny langsung saja beri tahu dia apa yang harus dikerjakan. Jangan lupa jelaskan juga secara detail apa yang tidak aku suka,” ucap Kelana lagi. Ia mendominasi, mungkin karena Bunga masih sungkan untuk merespon, sedangkah Hana bingung kenapa suaminya jadi aneh seperti ini.


Ke dua wanita itu akhirnya keluar dari ruangan meski dengan kening yang sama-sama terlipat halus. Setelah menutup pintu Hana dan Bunga pun saling pandang. Meski saling mengenal, mereka bertingkah seolah orang asing. Bagi Hana hal ini jauh lebih baik dari pada Bunga sok kenal dan sok dekat padanya. Gatal dia jika Bunga seperti itu, bagi Hana adik tirinya itu tak jauh beda dengan ulat bulu.


“Sebanyak ini?”


Bunga kaget dan seketika mulutnya terkunci karena Hana sudah melotot padanya.


“Kamu pikir apa? mau kerja tapi leha-leha, tidak mungkin juleha,” ucap Hana. Ia sengaja mengambil kursi dan meletakkannya tepat di depan meja yang dulu miliknya tapi kini otomatis menjadi milik Bunga.


“Karena kita hanya berdua jadi aku tidak perlu berbicara formal padamu dan kamu juga boleh bersikap biasa padaku, ayo ambil kertas catat apa yang akan aku katakan!” titah Hana.


Bunga merasa Hana berlagak seperti seorang bos besar, dia pun pada akhirnya berkata, “Berhenti memerintahku layaknya bos!”


Bunga pun mau tak mau melakukan apa yang Hana minta, hampir setengah jam dia mencatat banyak hal yang diucapkan Hana. Dan parahnya kebanyakan menurutnya hanya mengada-ada.


“Pak Kelana tidak suka jika sekretarisnya bau matahari jadi jangan sampai kamu lupa mengganti bajumu setiap hari.”


“Hah … apa dia juga memeluk dan mengendus sekretarisnya?” ketus Bunga. Ia meletakkan pulpen di tangannya dengan kasar.


Hana tertawa di dalam hati, ini lah yang dia cari. Bunga menunjukkan siapa dirinya. Dengan ekspresi sombong Hana membenturkan punggung ke kursi. Ia bahkan menyilangkan kaki dan menekuk tangan ke depan dada.


“Jika iya, apa kamu ingin mencobanya? Merayu suamiku?”


_


_


_


Scroll ke bawah 👇