
“Itu … “
Tata menoleh, dia mengeluarkan selembar kertas dari tas yang ada di pangkuan. Mata Rafli seketika membola. Dia dorong surat itu masuk ke dalam tas Tata lagi. Ia mengambil gelasnya yang berisi air mineral sebelum berbisik –
“Berikan padaku nanti!”
Terlepas dari persaingan yang dilakukan Tata dan Dinar, pesta malam itu sangat menyenangkan. Bahkan beberapa tamu berusaha memancing sendiri ikan yang ada di kolam. Begitu juga Arman, dia bahkan mengajari Ayu cara memancing yang benar.
Hana hanya duduk sambil menikmati hidangan, begitu juga dengan Kelana, Dinar juga Tata. Rafli dan istrinya sibuk juga ingin membawa pulang beberapa ikan untuk dibagikan ke pembantu.
“Hei … mana katanya mau memberikan kejutan?”
Hardikan Dinar ke sang adik membuat Hana menoleh, dia memang tidak bisa bicara dengan nada suara halus ke Tata, suaranya seperti kakak kelas yang ingin mengajak tawuran adik kelas. Untung mereka sama-sama janda, jika tidak sudah barang tentu Dinar akan dijadikan bulan-bulanan Tata. Namun, meski sama-sama janda mereka punya perbedaan. Dinar janda ditinggal mati sang suami, sedangkan Tata memilih bercerai karena tidak ada kecocokan ukuran. Maksudnya ukuran dalam segi penghasilan, papa Rafli sangat pemalas, kalau Ayu bilang hanya modal terong Belanda.
“Kejutannya ketinggalan di rumah, besok aku kirim saja ke apartemen Hana dan Kelana,” ujar Tata. Ia diam saja saat Dinar tertawa mencibir.
Bahagia hati Dinar melihat kekalahan telak sang adik kandung. Ia bahkan langsung bersikap baik ke Tata, tapi bukan untuk membuat adiknya itu senang melainkan semakin geram. Dinar memberikan ikan bandeng yang sudah selesai di bakar chef ke Tata, dia bahkan pindah duduk agar bisa memilah daging ikan banyak duri itu agar sang adik bisa makan dengan enak tanpa perlu sibuk membuangi duri.
“Makan yang banyak Ta, kamu butuh asupan gizi. Ikan bandeng bagus lho, banyak vitamin,” ucap Dinar dengan tawa dan sorot mata yang menyebalkan bagi Tata. Namun, meski begitu Tata masih mau menerima dan bahkan membuka mulut saat Dinar hendak menyuapkan daging ikan ke dalam mulutnya.
“Oh … ya kita ‘kan sama-sama akan punya cucu, besok kalau cucuku lahir aku akan memintanya memanggil aku ‘Buna’ - Ibunya mama Hana gitu, bagaimana bagus ‘kan?” Dinar menoleh Hana dan Kelana dan keduanya tertawa, Kelana bahkan langsung membisikkan sesuatu ke telinga sang istri dan nampak begitu mesra.
“Nah … kalau kamu besok dipanggil ‘buta’.”
“Ini sudah nggak ada durinya Ta,” ujar Dinar sambil menunjukkan daging yang dia pipil.
“Kenapa aku harus dipanggil ‘buta’, apa kamu mau menghina?” tanya Tata, mukanya sudah masam karena tahu sang kakak selalu saja memiliki cara membuatnya kesal.
“Ya bukan Ta, jangan terus berburuk sangka padaku wahai adikku sayang,” ucap Dinar. “Kalau aku ‘buna’ kan sudah aku bilang tadi kepanjangan dari ibunya mama Hana. Lha … mantumu itu ‘kan bernama Rita, bukankah jadinya kamu dipanggil ‘buta’ apa aku salah?”
Kelana dan Hana saling lirik, sedangkan Tata sudah bersungut kesal karena ucapan Dinar barusan. Ia pun berucap, “Tidak perlu mencarikan nama panggilan untuk cucuku, aku tak sudi menerima nama yang kamu buatkan.”
_
_
_
Bersambung dulu ya
selamat bersih²
jangan lupa senyum