
“Kamu bodoh atau apa sih Bunga? kenapa kamu menusuk Bagas?”
Sepasang ibu dan anak itu baru saja selesai berdebat di dalam sel tahanan. Tantri sangat emosional, sedangkan Bunga duduk dengan kaki tertekuk, lututnya dia peluk di depan dada. Ia sangat menyesal sudah melakukan perbuatan itu ke Bagas. Bunga sadar akibatnya dia pasti akan jauh lebih lama mendekam di balik jeruji besi.
“Bunga, Mama tidak bisa membiarkanmu seperti ini, kamu masih punya masa depan! Mama akan mengusahakan apapun asal kamu bisa bebas dari sini.” Tantri mengguncang lengan putri kesayangannya, tapi Bunga hanya diam dan tidak memberi respon apa-apa. Hingga Tantri memukul pundaknya bertubi-tubi, barulah wanita itu buka suara.
“Aku sudah tidak punya masa depan, Ma. Aku juga tidak punya siapa-siapa selain Mama, jadi meski di dalam penjara, aku rela asal aku masih bisa melihat Mama.”
“Bunga!”
Air mata Tantri berlinang membasahi pipi, dia terduduk tak percaya mendengar ucapan Bunga yang begitu tulus mencintainya. Tantri menunduk meratapi masa lalu. Ia seolah baru sadar bahwa bagaimana anak tumbuh adalah buah dari didikan orangtua. Bunga yang seperti ini membuat Tantri merasa bahwa dia salah mendidik sang putri. Semua yang terjadi adalah kesalahannya, Tantri meratap dan perlahan Bunga mendekat untuk memeluk.
"Tenang saja Ma, kita akan selalu bersama!"
_
_
“Dia sepertinya tumbuh dengan cepat, lihat perutmu sudah menonjol seperti ini!”
Kelana memeluk Hana dari belakang saat wanita itu sibuk membuat omelet untuk sarapan, tangannya memutar mengusap perut sang istri dari luar, sementara bibir Kelana sudah mengecupi pundak dan pipi Hana.
“Aku sudah tidak sabar ingin merasakan tendangannya,” ujar Hana, dia menolehkan muka sengaja menutup mata dan memajukan bibir. Kecupan hangat pun dia dapat dari Kelana. Pria itu gemas sampai mencubit hidungnya.
“Katakan padaku jika dia menendangmu!” Kelana melepas pelukan, dia duduk di kursi lalu menyambar teh yang sudah Hana buatkan beberapa menit yang lalu.
“Apa kamu juga ingin merasakan tendangannya?” tanya Hana sembari meletakkan piring berisi omelet di depan Kelana.
“Tidak, aku mau memarahinya karena kurang ajar, masa mamanya ditendang.”
Hana terbahak. Alih-alih duduk seperti biasa di seberang Kelana, Hana malah meletakkan piring omelet miliknya. Dia melingkarkan tangan ke leher Kelana dan mengecup pipi belahan jiwanya itu dengan cara menekan kuat-kuat.
“Hem … aku akan mengingatnya, tapi bersiaplah terus-terusan bertengkar dengan mama nanti.” Hana menyeringai, tapi Kelana tak diam saja. Ia memasukkan omelet ke dalam mulut dan berkata-
“My kid my rule Hunny, anakku aturanku.”
Hana geleng-geleng kepala, dia sudah bisa membayangkan betapa rusuhnya nanti saat Dinar bertengkar dengan suaminya karena perbedaan pendapat dalam memperlakukan sang buah hati.
“Siang ini aku berencana melihat kondisi Bagas, dia mendapat lima luka tusukan dari Bunga, tapi hanya satu yang dalam. Apa kamu mau ikut?” tanya Kelana, sekadar berbasa-basi untuk melihat reaksi sang istri.
“Tidak, aku hari ini sibuk menyiapkan printilan untuk acara syukuran pindah rumah kita lusa nanti. Aku juga sudah ada janji dengan bu Dewan dan gengnya,” jawab Hana. Ia sudah memutuskan untuk tidak akan lagi peduli dengan Bagas.
“Sepertinya kamu sudah sangat akrab dengan mereka.”
“Tentu saja! apa kamu tahu Sayang? setiap malam Jumat mereka mengadakan turnamen,” ucap Hana antusias.
“Turnamen? Turnamen apa?”
“Panjat suami!”
“Uhuk …. “
_
_
_
Keselek garpu mas Kelana 🤣