Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 25 : Kelahiran Normal


Malam itu Rita dan Rafli sedang makan bersama, kandungan Rita sudah masuk sembilan bulan, wanita itu mulai kesusahan dalam melakukan aktivitas, bahkan mengambil makanan di meja saja harus berjuang keras karena terkadang terhalang perutnya.


“Mau nambah?” tanya Rafli saat melihat Rita berhenti makan.


“Ini saja masih banyak.” Rita menunjukkan piring yang penuh, tidak tahu Rafli sekedar basa-basi atau tidak sadar kalau dirinya belum makan sesuap pun.


“Kenapa nggak di makan?” tanya Rafli.


Rita menarik napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan.


“Rasanya malas, seperti tidak nafsu,” jawab Rita. Meletakkan sendok di atas piring, lantas mengusap perutnya yang besar.


Rafli ikut berhenti makan, ditatapnya wajah Rita yang tampak pucat. Rafli kemudian mengulurkan tangan dan mengusap perut sang istri.


“Apa dia baik-baik saja? Wajahmu juga tampak pucat,” ucap Rafli dengan raut muka cemas.


Rita hanya mengangguk, kemudian mengembuskan napas panjang seolah sedang mengatur napas yang terasa sesak.


“Ada apa?” tanya Rafli saat melihat Rita bergerak.


“Rasanya mulas, aku mau rebahan,” jawab Rita sambil meringis menahan pergolakan di perut.


Rafli mengangguk, kemudian membantu Rita bangun. Dia menemani istrinya berjalan menuju kamar, hingga Rita memekik kesakitan.


“Aduh!” Rita sedikit membungkuk dan memegangi perut.


Rafli sangat terkejut dan langsung menahan lengan Rita karena istrinya tampak ingin jatuh. Dia panik melihat Rita yang kesakitan.


“Ada apa?” tanya Rafli dengan wajah penuh kecemasan.


“Perutku semakin mulas,” jawab Rita dengan suara lirih. Rita memekik saat ada dorongan terasa dari dalam perut.


“Apa ini sudah waktunya melahirkan?” tanya Rafli semakin panik.


Rita menggeleng, seharusnya beberapa hari lagi baru lahir.


“Kita ke rumah sakit saja untuk memastikan,” kata Rafli kemudian.


***


Rafli akhirnya membawa Rita ke rumah sakit, itu karena sang istri semakin mengeluh kesakitan karena kontraksi yang terjadi semakin sering.


“Sudah pembukaan enam,” ucap bidan yang memerika Rita begitu masuk ke ruang UGD.


“Sudah mau lahiran?” tanya Rafli dengan wajah panik. Satu tangan menggenggam telapak tangan Rita, istrinya itu terus merintih.


“Iya, Pak. Kita tunggu sampai pembukaan sembilan, karena ketubannya pun belum pecah,” jawab bidan itu. “Sekalian menunggu dokter kandungannya tiba,” imbuh petugas medis itu, lalu meninggalkan Rita dan Rafli di ruang pemeriksaan sebelum dipindah ke ruang bersalin.


Rita tampak terus menarik napas panjang dan mengembuskan kasar dengan mulut. Kontraksi semakin sering dan terasa begitu kuat. Dia sampaing mencengkram genggaman tangan suaminya.


“Apa sakit?” tanya Rafli sambil meringis melihat sang istri yang terus mengambil napas dan membuang kasar.


“In-ni di lu-ar pre-diksi.” Rita bicara terbata, menahan agar tidak mengejan karena dorongan dari calon bayinya.


Rita berpikir jika melahirkan tidak akan semenyakitkan itu prosesnya. Dia sering melihat video tahap-tahap ibu melahirkan yang tampak lancar dan tidak kesakitan. Ternyata Rita dibohongi oleh video yang hanya mengedukasi agar calon ibu tidak takut melahirkan.


“Apa mau cecar saja?” tanya Rafli karena cemas dan kasihan melihat Rita kesakitan.


Rita menggelengkan kepala, sesakit apa pun yang dirasakan, dia menolak untuk melahirkan secara cecar.


Rafli menunggu Rita di ruangan itu sambil menunggu pembukaan ke sembilan. Hingga tiba-tiba Rita seperti mengejan, dengan tangan meremas lengan Rafli.


“Sayang, sakit!” pekik Rafli yang kena remas.


“Bayinya mau keluar!” Rita bicara sambil menahan dorongan dari dalam, hingga terdengar sesuatu pecah dan air tampak mengalir dari paha Rita ke ranjang.


_


_


_


Sengaja part ini kasih Rafli-Rita yang lahirannya normal 😜 tunggu part kelahiran baby ebong ya