Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 154 : Kertas Perjanjian


“Kamu tahu ‘kan terkadang kita bisa sangat bucin pada orang?”


Kelana mendekap erat tubuh Hana, dia berniat meskipun wanita itu nanti memberontak setelah dirinya jujur, dia akan tetap memeluknya seperti ini.


“Hem … kamu ingin bilang kalau dirimu sangat bucin ke Amanda sampai memberinya hutang, begitu?” terka Hana. Tubuhnya mulai bergeser, Kelana yang benar-benar tidak ingin istrinya lepas dari pelukan pun semakin mengeratkan tangan.


“Aku memberinya apa pun, semua,” ungkap Kelana. “Saat menjadi kekasihnya aku bahkan tidak segan membiayai pengobatan adiknya ke luar negeri.”


“Dia dokter, apa dia tidak bisa membiayainya sendiri?” sergah Hana, dia mengangkat kepala sehingga sedikit mendongak untuk melihat wajah Kelana. Wanita itu bingung, karena dia pikir semua orang yang berprofesi sebagai dokter pasti kaya raya.


“Amanda bukan dari keluarga kaya, dan saat itu dia belum menjadi dokter spesialis seperti sekarang, pada intinya memang aku memaksa untuk membantu, tapi aku tidak pernah ingin menagihnya dan sekarang dia memburuku ingin mengembalikan uang itu.” Setelah menutup mulutnya, Kelana menyisir wajah Hana, mata bening dan paras ayu wanita itu membuat dada Kelana kembali berdesir.


“Apa kamu tidak percaya padaku?”


“Kamu ternyata baik hati.” Hana menipiskan bibir, dia belai pipi sang suami dengan sebelah tangan dan mengusapnya lembut berulang. “Aku beruntung bisa menemukanmu setelah badai hidup yang aku alami,”ucapnya. Hana menjeda lisannya sebelum berkata lagi, “Dia bilang mendapat nomorku dari nenek, apa kamu pikir nenek tahu soal ini?”


“Apa yang tidak nenek tahu, dia itu seperti anggota badan intelejen khusus. Mungkin jika aku tidak memusnahkan kontrak kita yang berisi kesepakatan menjadi suami istri abal-abal, nenek pasti sudah mengetahuinya.”


Hana sedikit tak percaya untuk yang satu ini, dia merasa Kelana begitu cermat sampai memusnahkan lembaran kertas berisi perjanjian yang akhirnya membawa mereka sampai sejauh ini. Namun, dia sendiri masih belum memusnahkan miliknya, lembaran perjanjian itu ….


“Tidak!”


Hana berteriak ketakutan. Kelana bahkan sampai merapat dan enggan menoleh ke belakang, takut-takut jika di belakangnya ada penampakan. Pria itu memandangi wajah sang istri lisannya sedikit terbata bertanya ada apa.


“Astaga, aku pikir apa. Tenang saja! aku akan meminta bagian sarpras perusahaan untuk mengganti meja kerjamu, lagi pula jika Bunga menemukannya dia pasti sudah berkoar-koar dan mengancammu sekarang.” Kelana mengusap bagian belakang rambut Hana dan mendekapnya kembali.


"Tenang saja! aku pastikan kecemasanmu tidak akan terjadi. Aku malah akan memberikanmu hadiah yang besar, aku akan membuat si kampret mantan suamimu itu mengakui kesalahannya.”


Hana mengangguk, hatinya sedikit tenang. Ia percaya dengan apa yang diucapkan Kelana baik soal Amanda atau pun janji pria itu mengganti meja kerja Bunga. Hana pun bertanya soal rencana Kelana, apa dia yakin akan berhasil menjebak Bagas.


“Aku yakin, aku akan membuat pria itu dengan mudah mengakui perbuatan jahatnya.”


“Kamu tidak akan memukulnya ‘kan, jangan lakukan kekerasan padanya.” Hana menatap sendu, dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk ke Kelana.


Sebenarnya Hana takut jika sampai Kelana melukai Bagas, dia yakin apa yang akan diperbuat mantan suaminya itu, jika tidak menuntut pasti akan memeras. Reputasi Kelana sebagai seorang pebisnis tidak bisa dia pertaruhkan hanya sebagai alat balas dendam, ditambah mengingat ribuan orang dan keluarganya yang menggantungkan hidup ke perusahaan. Jika sampai pucuk pimpinan mereka terkena masalah, bukankah roda perputaran bisnis juga akan tersendat?


“Tenang saja Hunny! Aku tidak berniat membunuhnya, aku hanya ingin dia mengaku dan menyesali perbuatannya, aku berniat membuatnya malu. Bukankah itu balasan yang paling bagus untuk Bagas? Pria yang tidak bisa menjaga kemaaluannya.”


_


_


Scroll ke Bawah 👇