Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 142 : Gengsinya Gede


Bunga memutuskan mendahului Hana dan Kelana menuju ruang perawatan Arman. Di sana, dia melihat sang papa tiri terbaring lemah karena harus menjalani operasi hari itu. Bunga pun berbasa-basi dengan menanyakan keadaannya sebelum duduk santai di depan Tantri yang lahap menyantap sarapan.


“Nanti setelah Papamu keluar dari sini, Mama mau spa, mau pijet, pegal semua badan,” ucap Tantri dengan mulut penuh makanan, dia tak menghiraukan Arman yang mendengar ucapannya. Wanita itu malah dengan santainya menawarkan apakah sang suami mau makan atau tidak, padahal Tantri tahu kalau Arman dilarang memasukkan apa pun ke dalam tubuh.


Tepat setelah Tantri menutup mulutnya, pintu ruangan itu terbuka. Hana masuk bersama Kelana diikuti dua orang perawat. Salah satu perawat itu menjelaskan bahwa Arman akan dipindah kamar.


“Pindah kamar? Kenapa?” tanya Tantri kebingungan.


“Kami pindahkan papa ke kamar VVIP agar lebih nyaman,” ucap Kelana. Pria itu mendekat dan menanyakan bagaimana keadaan sang mertua. Ia juga berucap agar Arman tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit.


Arman mengangguk, sebenarnya dia bukannya tidak memiliki biaya. Pria tua itu ternyata sengaja menyembunyikan tabungan agar tidak dikuras habis oleh Tantri. Arman sengaja tidak bercerita agar istrinya yang mata duitan itu tidak terus merong-rong dirinya. Di dalam hati Arman berniat mengembalikan semua biaya perrawatan ke menantunya nanti saat kondisinya sudah pulih.


“Papa jangan berpikir macam-macam ya, sekarang aku pengangguran jadi aku bisa menemani Papa,” ucap Hana. Ia menatap Kelana dan pria itu tersenyum lebar.


“Hana sekarang jadi ibu rumah tangga, aku memintanya mengurus rumah saja,” imbuh Kelana.


Keromantisan dan kehangatan tiga orang itu membuat Bunga membuang muka, dia sebal dan bahkan iri. Suasana hatinya semakin kacau saat Tantri menyuruh-nyuruhnya dari mulai mengambilkan minum, tisu bahkan membuang sampah sisa makan.


“Cckkk …. “


Bunga berdecak sebal. Wanita itu berdiri ke luar kamar perawatan dengan bersungut-sungut, tapi tak Bunga duga Hana menyusul. Kakak tirinya itu berniat mengembalikan uang yang dibayarkan oleh Bagas semalam.


“Kembalikan duit Mas Bagas! kamu pikir kita tambang uang, seenaknya saja. Kami menganggap itu hutang,” sewot Bunga.


Hana tersenyum ironi, dia tak percaya, Bunga bahkan sudah menagih meski belum ada satu kali dua puluh empat jam dari pembayaran yang dilakukan oleh Bagas. Hana pun mengurungkan niat untuk langsung mengembalikan uang mantan suaminya. Wanita itu memilih untuk lebih dulu mengerjai sang adik tiri.


“Hei Bung, apa kamu tahu? semalam suamiku sudah ingin mengembalikan uang itu ke Bagas, tapi dia menolak dengan alasan dia juga menantu Papa, kamu pikir siapa yang tidak mau mengembalikannya?” hina Hana. “Aku tahu suamimu itu kere tapi gengsinya gede.” Mulut Hana berubah tajam setajam mulut tetangga julid.


“A-a-apa?”


“Kalau berani kamu tagih sendiri ke suamiku, semalam dia ingin menggantinya tapi ditolak Bagas.”


Hana dengan sengaja menubrukkan lengannya ke lengan Bunga. Ia berniat mengajak bicara adik tirinya itu baik-baik untuk mengembalikan uang, tapi nyatanya Bunga memang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Hana pun memilih untuk berjalan menjauh, dia berniat menuju kantin rumah sakit untuk mencarikan roti dan kopi suaminya. Ia ingin melihat apakah Bunga berani menagih uang itu ke Kelana.


“Dia benar-benar matre, semata-mata duitannya aku, tapi aku masih bisa sedikit berempati pada orang. Dasar Bunga bangkai.” Hana menggerutu.


_


_


Bersambung dulu