Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 38 : Size


Beberapa menit yang lalu


Kelana memanggil Hana untuk masuk ke ruangannya. Namun, sang sekretaris tidak menyahut sama sekali. Ia sampai mengulanginya lebih dari tiga kali tapi tetap tak mendapat jawaban. Kesal, Kelana keluar dan sudah bersiap untuk memarahi Hana, mulutnya yang sudah terbuka lebar terpaksa dia katupkan karena sosok wanita itu tidak ada di tempatnya.


Seketika Kelana menatap lift yang nampak turun ke bawah, dia pun mencebikkan bibir dan bergegas menyusul. Ia ingin menarik kuping Hana karena tidak ada saat dia butuhkan.


“Saat di kantin aku tidak bisa melakukannya, tapi sekarang aku akan benar-benar melakukannya,” ucap Kelana dengan semangat enam sembilan.


Kelana mengabaikan sapaan beberapa bawahan yang berpapasan dengannya, hingga dia menghentikan langkah saat melihat Hana, dan tiga orang yang terus membuntuti wanita itu bak ekor berdiri di dekat pintu masuk.


“Siapa wanita itu?” gumam Kelana saat melihat sosok Tantri. Perlahan Kelana pun mendekat dan memilih berdiri di belakang dua pengawal yang berbadan tegap.


Kelana mencuri dengar perbincangan Hana dan Tantri, sampai dia tahu bahwa Tantri adalah ibu tiri Hana.


“Aku menikah karena saling mencintai, bukan karena harta. Aku menikah dengan pak Kelana karena cinta.”


Kelana yang awalnya ingin marah dan menarik telinga Hana tiba-tiba saja tersenyum, tapi dengan cepat dia mengubah ekspresi wajahnya, Kelana mengingat jelas wanita itu mengancam ingin memberinya racun tadi pagi.


“Cinta apa? kalau kamu cinta kamu tidak mungkin terus-terusan menggoda Bagas,” ucap Tantri yang mulai balas menyerang pertahanan Hana.


“Aku? menggoda Bagas? mana mungkin? Jelas calon suamiku lebih tampan, kaya, dan … “ Hana berbisik ke telinga Tantri. Kelakuannya membuat semua orang penasaran tak terkecuali Kelana.


“Kamu!” Tantri seketika marah, dia hampir mengayunkan tangan ke pipi Hana tapi dengan cepat dihalangi oleh satpam.


“Ada apa ini?”


Semua orang menoleh dan kaget, terutama Hana yang tahu dengan jelas pemilik suara yang sering meneriaki dan memakinya itu.


“Pak Kelana!” lirihnya.


“Siapa dia? Apa ada masalah?” tanya Kelana sambil mensejajarkan diri tempat di samping Hana. Wanita itu sampai heran. Kelana nampak sangat keren di matanya.


“Dia ibu tiri saya,” jawab Hana masih dengan pandangan yang tertuju pada wajah Kelana.


“Ah … apa ada masalah?” Kelana berpura-pura tak tahu menahu. Tantri pun tidak bisa menjawab, sedangkan Hana sungkan untuk mengungkapkan, bahwa niat ibu tirinya datang hanya untuk meminta uang.


“Maaf Pak, hanya masalah keluarga,” ucap Hana untuk menutupi hal yang sebenarnya.


Tak ingin menjadi tontonan bawahannya yang mulai kepo dengan apa yang terjadi, Kelana pun meraih tangan Hana dan berucap, “Sebaiknya Anda bicarakan masalah ini di rumah, tidak baik datang ke kantor orang dan membuat keributan.”


Sontak Tantri pun merasa tertampar, sedangkan Hana hanya bisa tertegun dan mengikuti langkah kaki Kelana yang menariknya pergi.


Bertepatan dengan itu, jam makan siang para pekerja pun tiba. Bagas yang kebetulan baru berjalan keluar dari lift sama kagetnya dengan pekerja yang lain, karena melihat sang CEO menggandeng tangan Hana. Pria itu bertambah syok saat melihat mertuanya masih berdiri di dekat pintu sambil dipegangi oleh satpam.


“Pak Bagas nggak makan?” tanya staffnya dan membuat Bagas kaget.


“Ah … kalian saja dulu, aku lupa ada yang ketinggalan,” dustanya.


***


“Sampai kapan Anda mau pegang tangan saya Pak?" tanya Hana.


Kelana menghentikan ayunan kaki dan menoleh, pria itu menatap tangannya sendiri yang masih menggenggam erat tangan sang sekretaris. Secepat kilat Kelana pun melepaskan, tapi kini tangannya menyambar kuping Hana dan menariknya.


“Aduh … Pak Kel!” pekik Hana.


Ketiga orang yang mengikutinya pun sampai kaget karena Kelana benar-benar menarik kuping Hana.


“Jangan berlebihan, itu tidak sakit! aku melakukannya pelan, tidak benar-benar menariknya.” Kelana mendorong kening Hana dan memasang wajah geram.


Namun, siapa sangka Hana malah balas menarik kuping Kelana, hingga kepala pria itu sampai miring ke kiri.


“Berani-beraninya!” amuk Kelana dengan muka merah padam.


“Yang sopan sama calon istri!” ucap Hana dengan berani, dia sadar ada tiga mahkluk yang mengawasi mereka. “Anda tahu? saya bahkan tadi meninggikan derajat Anda di depan ibu tiri saya, sampai dia marah, sebesar itu saya menghargai Anda,” imbuhnya.


Kelana pun ingat dengan momen tadi, dimana Tantri sampai ingin menampar muka Hana. Pria itu pun bertanya, “Memang apa yang kamu katakan tentangku?”


“Saya bilang Anda memiliki size di atas rata-rata.”


“S-s-s-size, size apa maksudmu?” Kelana bingung dengan ucapan Hana yang ambigu.


_


_


_


_


Like + Komen + poin


Makasih 😛