Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 219 : Amit-Amit


“Amit-amit jabang bayi, amit-amit jabang bayi.” Hana berulang kali mengusap perut.


Hana perlahan berjalan menuju teras karena Dinar tidak mau melerai Kelana dan Rafli. Dia berjalan pelan dan merasa kembali seperti masa kecil dulu, bermain di kubangan sawah di kampung halaman sang ibu.


“Sayang! Hentikan!” Teriak Hana. Ia tidak mau terlalu dekat - takut terjengkang jika Kelana atau Rafli sampai terdorong dan tanpa sengaja menyenggolnya.


Kelana memukuli pantat Rafli bak anak kecil, sedangkan Tata masih saja bingung, wanita itu malah terlihat seperti wasit dari pada ingin melerai. Berputar-putar sambil meminta Kelana menghentikan aksi.


“Pak bantuin donk jangan diam aja!” Hana menoleh, mukanya masam ke arah dua petugas pemadam kebakaran, sopir Dinar dan penjaga rumah Rafli.


“Kalau sampai urusan ini panjang, kalian juga nantinya akan kerepotan sendiri karena harus menjadi saksi.”


Para pria itu mengangguk dan langsung mendekat, dua petugas damkar memegangi Rafli, sedangkan sopir Dinar dan satpam berusaha menarik Kelana karena suami Hana itu masih mengapit erat kepala sepupunya, mau tidak mau petugas damkar pun menarik pinggang Rafli.


“Pak! hati-hati, nanti kepala anak saya copot,” teriak Tata yang cemas. Matanya melotot saat Rafli berhasil ditarik oleh petugas karena ketiganya langsung terjengkang ke belakang. Rafli mengaduh sedangkan Kelana menghempaskan tangan dua pria yang memeganginya.


Dada Kelana naik turun menahan emosi, matanya nyalang menatap Rafli yang basah dan bahkan kotor terkena tanah yang becek.


“Kamu! pasti kamu ‘kan yang menyebarkan surat perjanjian itu lambe lumer. Rasakan sekarang halaman rumahmu kami buat lumer.” Kelana tertawa puas. Ia tak sadar ada Hana yang menatap tak percaya dirinya yang seperti ini.


Hana tahu kalau Kelana memang terkenal galak saat pertama kali dia menjadi sekretaris dulu, pria itu bahkan membuat sekretaris sebelumnya juga tidak betah karena sikap dan tingkahnya. Namun, semakin ke sini dia sadar bahwa yang cocok menjadi sekretaris Kelana adalah sekretaris yang memang tahan banting. Ia yang dulu pernah menderita jelas menganggap enteng penindasan yang dilakukan Kelana, kini Hana curiga mungkinkah Bunga juga menderita sampai bisa bertahan sejauh ini menjadi sekretaris Kelana?


“Katakan! Apa kamu iri denganku, Ha?” bentak Kelana ke Rafli.


Lamunan Hana pun ambyar bersamaan dengan Dinar yang berdiri tepat di sebelahnya sambil bersedekap. Mertuanya itu menatap penuh cibiran ke Tata. Meski dia memang sering berselisih dan bertengkar dengan sang adik, tapi tak sekalipun Dinar melakukan tindakan curang seperti ini, membayar pembantu untuk menjadi mata-mata.


"Cih...." Bahu dinar mengedik, dia tak percaya bahwa Tata akan selicik ini.


“Heh … Tatang! kalau mantan terong belandamu itu dulu tertarik kepadaku, itu bukan salahku. Apa sedendam itu kamu ke aku, Ha?" hardik Dinar.


Hana melotot, dia merasa tidak siap untuk mendengarkan fakta yang lagi-lagi pasti akan membuatnya tercengang. Wanita itu menyentuh bagian perut. Dari artikel yang dia baca, janin bisa mendengar suara dari luar, tak baik jika yang didengar jabang bayinya hanyalah pertengkaran dan makian.


Benar, suami Tata dulu menaruh hati ke Dinar, bahkan setelah papa Kelana meninggal suami Tata dengan terang-terangan melamar Dinar yang notabene kakak iparnya untuk menjadi istri kedua.


“Mana mau aku dengan terong jika sudah pernah merasakan kapal selam?” cibir Dinar.


Tata semakin tak bisa berkata-kata, wanita itu memagangi dada sambil megap-megap. Untuk meminta sang kakak berhenti membahas itu saja rasanya dia tidak sanggup.


Sorot mata semua orang tertuju pada dua wanita paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi nenek-nenek, tapi kelakuan masih kanak-kanak itu. Mereka semua tidak sadar bahwa keributan itu membuat tetangga Rafli terusik dan terganggu, salah satunya bahkan melapor pak RT.


Dan di saat semua orang itu masih bersitegang, Pak RT bersama beberapa warga pun datang, suara seorang pria pun memecah perdebatan di antara keluarga itu.


“Haduh … haduh, kalian ini ngapain?”


Dinar dan Hana menoleh, Hana jelas tidak kenal siapa pria itu, tapi mertuanya merasa sangat familiar. Dinar pun berseloroh, “Oh … si terong belanda, ngapain ke sini?”


“Aku pak RT di sini tahu.”


_


_


_


 


geng komen kalian kemarin bikin aku bengek 😂 makasih ya, Bab selanjutnya nyusul


Kerja dulu aku 🤗