
“Apa doa yang kamu panjatkan setiap malam untuk Gala?”
Hana membelai rambut putranya yang sedang terlelap di antara dirinya dan Kelana. Pria itu menyanggah kepala dengan tangan sambil memandang penuh kagum putranya. Ia tak bisa memungkiri bahwa Hana memang sangat cantik, sehingga putranya juga memiliki wajah yang rupawan. Kelana menatap sang istri karena pertanyaannya tidak dijawab.
“Hunny, aku bertanya padamu.” Kelana memajukan bibir, kesal juga karena diabaikan.
“Hunny kamu terus saja mengabaikan aku semenjak Gala lahir.”
Hana tersenyum, dia memang merasakan hal itu sehingga tidak bisa mengelak mendengar ucapan Kelana. Ia menegakkan badan, berdiri di dekat sang suami lalu mengulurkan tangan.
“Ayo ke kamar tamu,” bujuk Hana.
Kelana pun langsung melompat kegirangan, dia bahkan tertawa senang lalu memeluk Hana dari belakang. Menyandarkan dagu ke pundak istrinya sambil berjalan keluar kamar.
“Apa kamu ingin mengajakku berperang?” goda Kelana.
Pikirannya sudah melayang hingga ke sana. Padahal Hana hanya ingin bercengkerama lalu menjawab pertanyaannya barusan.
“Aku sedang palang merah, tidak boleh.”
Kelana mendengkus kesal, pundaknya jatuh dan bibir sudah mengerucut. Ia tak bersemangat lagi mengikuti langkah Hana. Ia berhenti melangkahkan kaki sampai sang istri menoleh dan kembali mendekatinya.
“Kenapa mengajakku ke kamar tamu jika bukan untuk meluncurkan rudal?” sewot Kelana.
“Aku kan bilang tidak boleh berperang, aku masih bisa memberi servis lain. Kenapa kamu terlalu polos sih sekarang?”
Hana menyipitkan mata, dia menggeleng kecil seolah tak percaya jika suaminya tak terpikirkan untuk meminta servis yang lain.
“Kamu memang terbaik Hunny.”
Kelana kembali semangat enam sembilan. Ia bahkan mendorong Hana untuk bergegas masuk ke kamar tamu. Di sana Kelana langsung membuka baju, bahkan meloloskan celananya dari kaki. Tingkahnya membuat Hana menepuk jidatnya sendiri. Sungguh jika urusan yang satu itu, Kelana memang tidak bisa diminta untuk sabar.
“Kamu benar-benar ya!” Kelana menarik tubuh Hana, mendorong wanita itu hingga terjerembab ke kasur.
__
Beberapa menit kemudian, keduanya keluar dari kamar tamu dengan ekspresi yang berbeda. Hana namapak memegangi pipi dan memijatnya. Sedangkan Kelana semringah bahkan mengangkat tangannya tinggi.
“Kita pindahkan Gala ke kamarnya sendiri,” ucap Kelana. Ia berjalan cepat mendahului Hana agar bisa sampai ke kamar.
Hana membiarkan saja Kelana memindahkan putranya. Lagi pula kamar Gala hanya di sebelah kamar mereka dan ada pintu penghubung yang bisa dilewati dari dalam. Hana membuka ponsel dan membaca pesan yang dikirimkan oleh sang mertua.
Dinar berkata bahwa kondisi kesehatan Ayu semakin menurun. Hana pun bisa menduga kecemasan sang mertua, Dinar pasti memikirkan hal paling buruk yang akan dialami keluarganya dalam waktu dekat.
“Sebaiknya kita mulai memperhatikan kondisi nenek, sebagai cucu kesayangan berilah perhatian padanya,” ucap Hana sesaat setelah Kelana menutup pintu yang menghubungkan kamar mereka dan Gala.
“Besok aku akan datang menjenguknya, kata Amanda kondisinya memang sudah sangat tidak baik. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.”
“Kapan kamu bertemu mantan kekasihmu itu?”
Kelana tersentak, dia pikir membicarakan Amanda bukan hal penting, tapi sepertinya Hana tidak suka. Wajah wanita itu berubah masam.
“Dia dokter nenek, jadi mana mungkin tidak pernah bertemu. Nenek memang sudah pernah memintanya berhenti menjadi dokter pribadi, tapi tidak ada dokter yang sesabar Amanda menghadapi nenek.”
Hana memutar bola matanya malas setelah itu melompat ke atas ranjang dan menarik selimut. Kelana yang melihat hanya bisa garuk-garuk kepala apalagi saat Hana sudah berkata-
“Aku mau tidur, kalau Gala bangun hanya karena pup tolong ganti popoknya, bangunkan aku hanya kalau Gala ingin menyusu.”
“Hunny!” lirih Kelana. “Lalu bagaimana kalau aku yang ingin menyusu,” candanya.
“Ambil saja susu kotak dari kulkas.”