Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 64 : Hana Buka Praktik


“A-apa? obat apa?”


“Obat untuk membuatmu menjerit-jerit,” ucap Hana dengan mimik wajah kesal, sebenarnya dia malu harus menjelaskan ke sang suami tentang ramuan Mak War yang digadang akan membuatnya seperti perawan lagi.


“Ternyata selain Mak Perot ada juga mak-mak lain.” Kelana terkekeh, dia bahkan masih terus tertawa meski satu kakinya sudah menginjak lantai kamar mandi. “Ada lagi Hana, mak-mak julid dan itu menakutkan, contohnya Tante Tata.”


Hana hanya mencebikkan bibir kesal, dia pun memilih merapikan baju suaminya yang tidak masuk sempurna ke keranjang cucian sebelum keluar dari kamar. Ia benar-benar merasa gerah, tak menyangka juga kalau Dinar bisa memikirkan memberikan kesenangan kepada sang putra sampai urusan ranjang.


Kelana menutup pintu kamar mandi, dia seketika mengusap wajah dengan kasar karena penjelasan Hana tadi, dia bahkan menatap ke arah alat tempurnya yang paling berharga, “Awas kalau kamu sampai tidak bisa bekerja dengan benar saat berhadapan dengan Hana nanti,” ucapnya sedikit memaki.


***


Membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral, Hana masih tak mengerti apa mungkin hanya itu tujuan Dinar memberikan ramuan itu, atau jangan-jangan ramuan itu memiliki efek samping semisal mematikan kecebong-kecebong Kelana agar tidak bisa menghamilinya.


“Tidak … tidak!” Hana menggeleng menolak pikiran buruknya. Ia harus positive thinking ke Dinar, wanita itu tidak mungkin memiliki motif jahat.


Namun, berprasangka baik ternyata tidak mudah. Akhirnya Hana memilih untuk mencari keberadaan Dinar untuk menanyakan hal itu sendiri. Hingga, tiba-tiba saja keberaniannya menguar saat melihat wanita itu keluar dari ruang kerjanya.


“Mama.”


“Hem … ada apa? apa Kelana sudah pulang?” tanya Dinar sambil membenarkan letak kacamata baca yang bertengger di hidung.


“Sudah, dia sedang mandi.”


“Bagus lah, kamu beri dia makan setelah itu masuk dan kunci kamar, tenang saja kamar sudah aku renov dan kedap suara,” ucap Dinar dengan santai. Ia berniat melangkah pergi, tapi melihat raut wajah Hana yang seperti ingin menyampaikan sesuatu, Dinar pun bertanya kembali-


“Ada apa? apa ada masalah?”


“Sebenarnya aku sedang palang merah Ma,” ucap Hana malu.


“Ya sudah pakai saja setelah itu, terserah kamu,” jawab Dinar dengan santai. “Mama mau ke kamar,” imbuhnya sembari melangkah pergi.


“Ma, sebenarnya aku ingin tanya sesuatu.” Hana kaget sendiri dengan keberaniannya, sampai Dinar menoleh dan menatapnya curiga.


“Tanya apa?”


“Ramuan itu, apa efek sampingnya? Aku – “


“Tidak ada efek samping selain tiga E, enak, enak dan enak,” potong Dinar cepat. “Kenapa? apa kamu pikir itu beracun?”


“Ah … tidak.” Wajah Hana berubah bak maling yang tertangkap basah. Ia menggoyangkan ke dua telapak tangan ke arah sang mertua.


“Lebih baik kamu berpikir bagaimana cara memberikan cicit secepatnya ke mamaku, aku tidak ingin sampai istri Rafli yang hamil lebih dulu.”


Hana merasa syok dengan ucapan Dinar barusan, mungkinkah wanita itu bersikap baik karena menginginkan Kelana segera memiliki anak, lalu dengan begitu posisi anaknya tidak akan tergeser oleh anak sang adik?


Hana menggeleng mencoba menepis pikiran buruk. Ia masih terbeku melihat punggung Dinar yang menjauh dan hilang saat masuk ke kamar.


“Apa yang kamu lakukan?”


Hana memutar kepala kaget, dia melihat Kelana menyembulkan kepala dari pintu kamar mereka - dengan bagian tubuh atas yang terlihat terbuka. Ujung rambut bagian depan Kelana bahkan terlihat masih meneteskan air.


“Ke sini! cepat!” pinta pria itu dan membuat Hana setengah berlari mendekat.


Saat berada di depan pintu, Kelana yang hanya menutup bagian bawah tubuh dengan selembar handuk berwarna putih pun menarik tangan Hana. Pria itu menutup pintu cepat-cepat dan mengurung Hana dengan dua tangan di sisi kepala.


“Ganti baju dulu, lalu makan. Apa kamu tidak kedinginan?” tanya Hana. Ia menatap manik mata Kelana yang nampak memindai wajahnya.


“Hana, bisakah kamu memberiku itu?” tanya Kelana dengan nada suara sangat lembut. “Ini malam Jumat.”


“Me-me-memang kenapa kalau malam Jumat, kamu tahu aku sedang tidak bisa melakukan itu,” jawab Hana terbata.


“tapi ini bisa melakukannya.” Kelana meraih pergelangan tangan Hana dan mengangkatnya ke depan muka sang istri, lalu dengan sebelah tangan Kelana mengetuk bibir Hana yang selalu cerewet saat menjadi sekretarisnya. “Ini juga bisa melakukannya.”


Tanpa Hana duga, Kelana menyambar bibir dan melumaatnya. Hana pun hanya bisa mengimbangi perlakuan suaminya itu, aroma mint dan bau sabun yang menguar dari tubuh Kelana membuat Hana benar-benar terbuai. Hingga dia takluk dan menikmati permainan pria itu. Hana bahkan melakukan apa yang Kelana minta, memanjakan rudal milik suaminya itu dengan jari-jari sakti dan jurus yang pernah dia sebutkan ‘lidah tornado’.


Wajah kelana benar-benar berubah merah, dia terlentang di atas ranjang menikmati perlakuan Hana dan bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan suara lain selain ******* nikmat.


Selang beberapa menit kemudian Hana memundurkan kepala dan menyambar handuk miliknya yang tergolek di sisi ranjang, karena lahar dingin Kelana menyembur dan hampir mengenai mukanya. Lidah tornado sukses menyebabkan tsunami.


Otot-otot tegang Kelana seketika mengendur, dan dengan nakalnya pria itu berkata bahwa Hana memang sekretaris plus-plus untuknya.


Setelah membasuh tubuh lagi di kamar mandi, Kelana pun keluar dengan wajah berseri. Ia menatap Hana yang duduk di tepian ranjang sambil memutar-mutar pergelangan tangan dan sesekali membuka tutup mulutnya. Kelana yakin rahang Hana pasti terasa sedikit sakit karena beberapa menit menjadi tempar parkir rudalnya.


“Apa kamu sudah makan malam?” tanya Kelana, dia dekati Hana dan berdiri tepat di depan wanita itu.


Hana pun mendongak, dengan wajah memerah menahan malu dia menggeleng.


“Oh … hunny kenapa belum makan? Ayo kita makan dan berikan aku satu servis lagi nanti.”


“Apa lagi?”


Pundak Hana terjatuh, dia benar-benar tak menyangka Kelana memintanya melakukan praktik lagi.