Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 6 : De Javu


Duduk di tepi pantai menikmati sebutir kelapa muda, Kelana dan Rafli sama-sama sibuk memperhatikan istri masing-masing yang berjalan bersama di tepi pantai. Kehamilan yang selisih beberapa bulan saja membuat anak-anak mereka nanti pasti juga memiliki jarak umur yang tak jauh berbeda.


Kelana meluruskan kaki sambil bersedekap di kursi malas, begitu juga dengan Rafli. Mereka sama-sama terlihat keren, tipikal papa muda hot yang akan menjadi incaran mata genit wanita saat mengantar anak sekolah.


“Hei … Rafli, ini sudah dua hari. Jadi katakan apa niatmu mengajakku sampai jauh-jauh menyebrangi Samudra,” ucap Kelana, dia tak menoleh sang sepupu.


Begitu juga dengan Rafli, dia menjawab pertanyaan Kelana tanpa menoleh juga. “Menyogokmu lah apa lagi? kartu AS yang pernah kamu sebutkan sebelumnya saat membuat huru-hara di rumahku, aku harap kamu tidak benar-benar mengeluarkannya untuk menjatuhkan aku.”


“Cih … aku suka gayamu yang seperti ini, tapi maaf aku hanya asal sebut saja. Rafli … Rafli, seharusnya kamu paham. Aku tidak punya banyak waktu untuk memata-mataimu seperti mamamu yang memata-matai mamaku, tapi karena kamu sampai ketakutan sepertinya akan aku selidiki dan cari tahu kesalahanmu.” Kelana menoleh, dia menyeringai nakal dan itu membuat Rafli sangat kesal.


“Sialan kau!” Rafli hendak mengambil sesuatu untuk bisa dilempar ke Kelana tapi dia tidak melihat benda semacam itu di dekatnya. Dan mana mungkin dia melempar kelapa muda di meja, bisa-bisa sepupunya itu benjol segede bakpao.


Akhirnya Rafli memilih untuk bangun, dia tarik lengan Kelana dan langsung mengapit kepala suami Hana itu seperti apa yang pernah Kelana lakukan dulu kepadanya.


“Woi … lepaskan! Apa kamu bocah?” teriak Kelana.


Namun, Rafli tak mau berhenti dan malah memukuli pantat Kelana, dia membalas persis seperti apa yang sepupunya buat ke dia dulu.


Hana dan Rita masih sibuk memandangi laut, kedua wanita itu tidak tahu apa yang terjadi sampai suara ribut-ribut membuat mereka menoleh. Dua ibu hamil itu tak percaya, mereka juga melihat Lucky tunggang langgang mendekat untuk memisah suami mereka.


“Sepertinya kamu juga harus melakukan hal yang sama,” jawab Rita. Dia yang saat kejadian huru-hara memang sedang berada di rumah orangtuanya tidak tahu bahwa Hana saat ini sedang merasakan apa yang disebut de javu.


“Mereka benar-benar melakukan reka ulang adegan.”


Rita yang bingung menoleh Hana, dia tak paham dengan maksud ucapan Hana sampai istri Kelana itu menceritakan kejadian yang membuat rumah tinggalnya berubah seperti baru saja terkena banjir bandang.


“Suami kita? Mereka memang benar-benar sangat konyol,” ujar Rita dengan nada tak percaya.


Sementara itu, kini Rafli dan Kelana sudah berguling-guling di atas pasir. Lucky yang berniat melerai malah terjengkang, beberapa penghuni pulau ikut mendekat berniat untuk membantu tanpi dua pria itu seperti kuda lumping kesurupan. Akhirnya Hana dan Rita mendekat, keduanya meneriakkan nama suami masing-masing. Mendengar betina mereka sudah mengaum bak macan, Kelana dan Rafli akhirnya melepaskan cengkeraman satu sama lain.


“Kali …. “


Belum juga Hana meluapkan amarahnya ke sang suami, tiba-tiba suara deru mesih helikopter terdengar sangat cepat mendekat. Rambut mereka terangkat ke atas - berantakan dan hanya bisa diam karena tiupan angin baling-baling yang begitu kuat.


Hana memakai talapak tangan kirinya untuk memayungi dua indera penglihatan. Dia melihat helikopter itu menuju helipad yang memang ada di sisi barat pulau. Hana menyipitkan mata, sepertinya dia baru saja melihat dua sosok yang dikenalnya berada di kursi penumpang, satu wanita bersedekap dan yang satunya melongok melambaikan tangan kegirangan.


“Mama! tante Tata?”