
Mendidih darah Bagas mendapat hinaan dari Tantri, mertuanya itu seperti tak tahu diuntung. Sudah baik dia mau datang saat ditelepon berkali-kali tadi. Bagaimana pun juga Bagas masih memikirkan Arman sebagai mertua yang baik, pria itu tidak memperlakukannya berbeda baik saat dia dulu menjadi suami Hana atau pun saat menjadi suami Bunga.
“Baik lah aku besok pagi aku akan langsung urus semua, jam segini bagian adiministrasi pasti sudah tutup. Kami akan menginap di rumah sakit menemani papa jadi kalian bisa pulang dan beristirahat jika mau,” ucap Kelana.
Tantri bingung, meski sebenarnya dia lelah juga tapi tidak mungkin mengiyakan ucapan Kelana. Ada gengsi dan rasa tak enak juga di dalam hatinya. Wanita itu akhirnya basa-basi menolak dan memutuskan dia yang menginap di sana.
“Ya sudah kalau begitu kami pulang saja, tidak baik banyak orang yang menungui pasien, kita pasti akan mengobrol dan mengganggu,” tukas Kelana.
Hana dan Bagas pun seperti kompak, mereka menahan tawa melihat ekspresi wajah Tantri yang sudah berubah, apa lagi saat Kelana menepuk pundak wanita itu dan berkata akan kembali besok untuk membawakan makanan sekaligus mengurus administrasi.
“Tapi …. “
Ucapan Tantri terjeda saat menantunya itu mengeluarkan semua lembaran bergambar proklamasi dari dalam dompet dan mengulurkannya. “Semoga cukup sampai besok kami datang lagi,” ujar Kelana.
Melihat uang tentu saja Tantri girang, pupil matanya bahkan sudah berubah warna menjadi hijau karena uang yang diberikan Kelana.
Pada akhirnya wanita itu girang dan dengan senang hati membiarkan Kelana dan Hana pergi. anak tiri dan suaminya itu pergi setelah menengok Arman di dalam kamar.
***
“Kenapa mukamu seperti itu Hunny? Apa kamu berpikir aku tidak sayang Papa karena memilih pulang?” tanya Kelana, belum juga pertanyaannya dijawab oleh sang istri, Kelana sudah berujar lagi,” Kamu lelah, bahkan kamu sudah hampir tidur jika kita tidak pergi ke rumah sakit, aku tidak ingin kamu sakit. Jadi lebih baik beristirahat dulu, besok pagi-pagi sekali kita kembali ke sana. Lagi pula rumah sakit bukan tempat yang baik untuk orang yang sehat, tidak ada ranjang lain juga di sana. Besok aku akan upgrade kamar Papa ke yang jauh lebih nyaman.”
Kelana yang mendengar keluhan istrinya pun tidak bisa menjawab langsung, dia tidak ingin menjawabnya dengan sebuah spekulasi dan lebih memilih dengan bijak menjawab, “Mungkin papa punya alasan sendiri, jika kamu ingin tahu sebaiknya bertanya pada Papa langsung saat dia sudah keluar dari rumah sakit nanti, jangan berpikir yang tidak-tidak, aku tidak mau kamu stress, kasihan bibitku nanti.”
Hana tergelak, dia menoleh Kelana dengan senyuman lebar. Jika dugaannya tidak meleset, suaminya itu sepertinya sudah berubah pikiran dan ingin segera mendapat anak. Hana pun merasa bahagia, pasti akan sangat membahagiakan memiliki soorang putra setampan Kelana.
“Tapi aku heran.”
“Heran kenapa?” Dahi Hana mengernyit, dia masih memperhatikan wajah Kelana dari samping.
“Bagas dengan entengnya mengatai istrinya babi, sungguh tidak pantas. Bukankah istri itu pakaian suami? Jika ada yang berani menghina bahkan merendahkanmu dengan ucapan, aku berjanji akan menampar mulutnya dengan tanganku sendiri.” Kelana berkata dengan ketegasan dan bahkan mengeram gemas.
“Dia memang seperti itu, aku saja dulu dia katai badak.”
_
_
Scroll ke bawah 👇