Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 116 : Selimut Hidup


Ingin rasanya Hana menjambak rambutnya sendiri. Ia bukannya lupa tapi memang sengaja. Masa begitu saja Kelana tidak peka. Atau mungkin karena konsultasi dengan androlog tadi Kelana seketika berubah seperti ini?


Hana mencoba mengesampingan perasaan itu dan terus melancarkan aksi. Ah.. pemeriksaan kesuburan ini ternyata cukup mengganggu juga. Ia tidak ingin Kelana sampai berubah tak seperti sedia kala.


“Aku memang sengaja tidak memakainya sayang,” jawab Hana, suaranya sudah dibuat seseksi mungkin agar Kelana terpancing. Ya, dia akan berubah menjadi ikan asin agar si kucing mendekat, mengendus lalu – Hem …. sudah bayangkan sendiri. Tidak perlu juga kita menyanyi 'Hap... hap... lalu ditangkap'.


“Apa kamu tidak takut masuk angin?” tanya Kelana, pria itu juga melihat belahan dada sang istri. Ia tahu dengan jelas wanita itu tidak memakai kain penutup bukitnya.


“Aku tidak mungkin masuk angin, ‘kan ada kamu. Selimut hidup.” Hana masih terus menggoda, dia bahkan merasa seperti jaalang nakal sekarang, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus mengembalikan suasana hati Kelana seperti sedia kala, dan hohohehe adalah penawarnya.


“Ingat kata dokter kita tidak boleh sering melakukan itu, aku sedang memikirkannya sekarang. Haruskah kita membuat jadwal,” kata Kelana.


“Apa? apa dia bilang barusan? Apa dia sedang menolak pesonaku yang aduhai ini? Ah … celaka, apa bisa hal seperti itu dijadwal? Aku sudah bernapsu ini,” gumam Hana di dalam hati. Ia duduk di tepian ranjang dan sejenak berpikir untuk menjawab ucapan sang suami barusan.


“Mana bisa dijadwal?”


Akhirnya suara rengekan terdengar dari bibir Hana. Wanita itu bahkan menggoyangkan dua pundak dan membuat dadanya ikut bergetar-getar.


Menelan ludah juga Kelana pada akhirnya. Pria itu mengulurkan tangan meminta sang pujaan hati untuk mendekat. Hana pun menggeleng, merajuk dia karena merasa niatnya untuk hohohehe ditolak. Patah hati padahal sudah wangi, seksi dan secolek ramuan ibu perang sudah dia pakai di nona Vi.


“Hunny, kemari! apa kamu menolak untuk berdekatan denganku?” bujuk Kelana, tapi Hana masih diam diposisinya.


“Cegah aku! ayo cegah aku! bilang ‘Hunny tidak usah pakai piyama itu’.” Hana bermonolog, tapi dia sepertinya harus kecewa. Wanita itu berhenti di depan pintu kamar mandi, dia menoleh Kelana yang sejak tadi ternyata mengawasi setiap gerak-geriknya.


“Astaga Kelana, jahat sekali!” gumam Hana lagi. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu.


Namun, tanpa dia duga ternyata Kelana sedang berpura-pura. Pria itu memang malu, kesal dan ingin sekali melepaskan rasa frustrasi setelah bertemu dokter andrologi. Namun, lebih dari itu Kelana ingin sesuatu dari sang istri. Ia ingin Hana berkata bahwa mereka tidak perlu memikirkan mendapat anak segera, Kelana ingin Hana berpikiran sama seperti dirinya, menikmati setiap proses di kehidupan rumah tangga mereka dan membiarkan sosok malaikat kecil pelengkap kebahagiaan datang dengan sendirinya nanti, di waktu yang tepat.


Dan sebagai langkah awal Kelana sengaja melakukan ini, membuat Hana berpikir dia tak napsu setelah menemui dokter, tapi bukan Hana namanya jika dengan mudah menyerah begitu saja. Amarahnya tadi hanya dia buat-buat, di dalam kamar mandi dia sedang berpikir membuat Kelana mau menyentuhnya malam ini.


“Sayang sekali kalau sampai berakhir seperti ini, ramuan ibu perang sudah aku pakai jika peperangan tidak terjadi rugi,” ujar Hana. Ia bersedekap dada dan memilih diam duduk di atas closet.


_


_


_


Scroll ke bawah 👇