
“Happy birthday.”
Kelana berbisik mesra ke telinga Hana pagi itu. Ia sengaja tidak memberi kejutan di jam dua belas malam karena tidak ingin menganggu istirahat sang istri. Pria itu memberikan kecupan di bibir Hana dengan penuh cinta.
Hana menggeliat, matanya masih lengket dengan senyum tipis menghiasi bibir. Wanita itu mengangguk, mengusap rambut kepala Kelana kala suaminya itu mengasurkan wajah ke bagian perutnya.Kelana mendaratkan ciuman dan usapan lembut di sana.
“Terima kasih, aku mencintaimu,” ucap Hana.
Meski tak melihat suaminya menyiapkan hadiah dia tetap bahagia, apalagi seminggu ini dirinya terus saja mendapat kiriman bucket mawar merah dari pria itu.
Hana membuka lebar tangannya, membiarkan Kelana masuk ke dalam dekapannya dan lagi-lagi memejamkan mata.
“Hunny, aku bingung memberimu apa jadi aku tidak menyiapkan kado.” Kelana berdusta, mana mungkin dia tidak menyiapkan sesuatu yang spesial untuk belahan jiwanya, wanita yang sangat dia cintai, calon ibu dari anak-anaknya.
“Aku sudah bilang aku tidak ingin apa-apa, memelukmu seperti ini sudah menjadi hadiah terindah untukku.”
“Tapi tetap saja, aku tidak mau dikira pelit karena tidak memberikan kado pada istriku, apa kata dunia jika tahu Kelana Pramudya tidak memberi apa-apa saat ulangtahun istrinya.” Kelana menjauhkan kepala, dia tatap wajah bantal Hana yang tersenyum-senyum mendengar kalimatnya yang malah seperti keluhan.
“Belikan saja aku kue cokelat.”
“Itu saja?” Kelana benar-benar heran, dia sebagai suami super kaya ingin sekali rasanya diporoti dan dimanfaatkan. “Kenapa saat menjadi sekretarisku dulu kamu mata duitan tapi sekarang perhitungan?” tanyanya penasaran.
Hana terkekeh, dia akhirnya mengucek mata lalu memandangi Kelana yang sibuk membantu membersihkan sudut matanya.
“Karena dulu uangmu uangmu kalau sekarang uangmu uangku, aku tidak mungkin boros dengan uangku sendiri,” jawab Hana tanpa terlalu lama berpikir.
“Dasar! Boroslah seperti dulu! gunakan uangku, ATM dan kartu kredit yang aku berikan,” bujuk Kelana.
“Tidak, biaya anak kita nanti pasti mahal, aku ingin dia mendapat pendidikan terbaik, fasilitas terbaik, jadi kita harus bijak memakai uang.”
Kelana tak bisa membalas kata-kata Hana selain mengiyakan, apa yang dikatakan Hana tidak perlu dia debat karena semuanya menyangkut masa depan calon anak mereka. Sebagai orangtua, dia juga ingin anaknya kelak mendapat fasilitas nomor satu.
“Bukan pesta tambak buatan lagi ‘kan?” Hana terkekeh, dia mengaduh saat cubitan mendarat di hidungnya yang mancung.
“Bukan, tapi semoga kamu suka.”
_
_
Hana mematung, dia bahkan menutup mulut dengan sebelah tangan saat melihat pemandangan di depannya. Setelah mandi dan sarapan, Kelana mengajaknya berkendara tapi tak terlalu jauh dari apartemen yang mereka tinggali. Dada Hana sudah berdebar sejak mobil suaminya memasuki sebuah komplek perumahan mewah. Hingga Kelana berucap kepadanya-
“Ini hadiah ulangtahun dariku untukmu dan anak kita, semoga kamu suka.”
Hana tak bisa berkata-kata, beberapa kali dia hanya bisa menarik dan membuang napasnya. Netra Hana mulai berkca-kaca, tidak pernah terbayangkan Kelana akan memberinya sebuah hunian mewah yang sangat terkenal di seluruh Wakanda. Sebuah perumahan dengan komplek yang jarang orang biasa bisa tinggal di sana, selain mahal kebanyakan tidak kuat dengan warga lain yang tinggal.
“Om sama tante warga baru?”
Suara seorang anak membuat momen romantis Kelana dan Hana buyar. Mereka yang masih berdiri di luar pagar rumah pun menoleh, keduanya terkejut mendapati seorang siswi berseragam SMA sudah berada tak jauh dari mereka.
“Hati-hati, warga di sini kebanyakan memiliki pekerjaan rahasia sebagai mata-mata.”
_
_
_
Bersambung dulu 🥰