
Bunga duduk sambil sesekali melihat pada layar ponselnya. Ia merasa bosan saat ikut rapat bersama tim HRD untuk membahas gathering yang dicetuskan oleh Kelana. Beberapa kali dia diminta mengutarakan pendapat oleh Bagas.
“Lebih baik memilih penginapan yang bernuansa back to nature, Pak Kelana pasti suka, apa lagi dia pasti akan mengajak istrinya.” Bunga tersenyum manis, padahal di dalam hati dongkol. Idenya diamini oleh beberapa orang, dan tak lama Bagas juga ikut mengiyakan.
“Baiklah bagaimana kalau kamu yang mencari hotelnya,” ucap Bagas.
“Tidak masalah, berapa budgetnya?” tanya Bunga. Ia membuat semua orang mengernyitkan dahi karena masalah besaran dana penginapan sudah disebutkan, ini menunjukkan bahwa Bunga tidak mendengarkannya tadi.
“Tadi sudah disebutkan.” Bagas mewakili menjawab.
“Aku mau mencatatnya, tadi lupa Pak.” Dengan jelas Bunga memutar mata. Ia membuat beberapa orang sampai heran, beraninya wanita yang baru beberapa hari bekerja menjadi sekretaris Kelana itu bersikap tidak sopan.
“Yeni, beri tahu dia!” titah Bagas.
Staff HRD Bernama Yeni itu pun mengulangi penjelasannya, dengan kode mata dia melirik temannya yang bernama Dewi. Mereka berdua memang sejak kemarin sudah menggunjingkan Bunga, dan sekarang dugaan mereka sepertinya terbukti bahwa wanita itu memang hanya banyak gaya.
“Budgetnya untuk lima belas orang ditambah Bu Hana, satu kamar dua orang jadi butuh delapan kamar. Alokasi dana dua belas juta untuk penginapan,” jawab Yeni.
“Tenang saja, aku akan mencarikan penginapan yang affordable di aplikasi jelong-jelong,” jawab Bunga dengan sombongnya. “Sudah selesai ini rapatnya? Aku masih banyak pekerjaan.” Tatapan bunga tertuju pada Bagas, suaminya itu pun mengangguk dengan kode mata kemudian menutup rapat mereka.
“Dua belas juta, lumayan bisa ambil keuntungan di sana,” gumam Bunga dalam hati. Tentu saja karena di dalam tubuhnya mengalir darah yang sama, dia menjadi sebelas dua belas dengan Tantri, di dalam otaknya berisi cara curang untuk menghasilkan uang yang tidak halal.
***
“Sudah berangkat saja liburan, tidak perlu ditunda.”
Arman angkat bicara saat mendengar Kelana dan Hana - yang sore itu menjenguknya kembali di rumah sakit membicarakan perihal acara ke luar kota.
Kelana dan Hana saling melempar pandang, dan pada akhirnya mereka berpamitan dan meminta izin tidak bisa mengantar Arman pulang dari rumah sakit.
“Tenang saja ada Mama, yang penting ada fulusnya,” ucap Tantri yang sejak tadi berada di sana sambil menikmati buah-buahan yang dibawa orang yang membesuk Arman.
Kelana pun mengangguk, dia merogoh sesuatu dari kantong celananya, bukan uang tapi ponsel. Ia kehabisan uang tunai karena semuanya sudah diberikan ke Tantri.
“Berikan nomor go-back Mama aku isikan saldo untuk naik taksi besok,” ujar Kelana.
“Tidak perlu. Aku akan mengantar Pak Arman pulang besok.”
Semua orang seketika menoleh ke arah pintu, ternyata Dinar sudah berada di sana. Wanita itu datang membawa dua orang pembantu. Dinar tidak membawa bunga lagi tapi makanan. Tak hanya itu dia ternyata mengajak Ayu.
Melihat besannya sangat perhatian, Arman pun merasa terharu. Namun, tidak dengan Tantri yang langsung berdiri dengan senyum lebar. Ia sok kenal dan sok dekat meraih lengan Ayu dan menggandeng wanita itu masuk ke dalam.
“Ah …. Nenek besan,” ucap Tantri kegirangan, seolah tahu bahwa Ayu pasti akan memberikan banyak uang.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
kalau belum muncul tunggu aja ya geng, reviewnya memang agak lama