Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 56 : Panas Dingin


Hana panas dingin, dia tak menyangka Kelana akan agresif seperti ini. Ia mengerjab hingga wajahnya nampak begitu menggemaskan. Wanita itu pun memilih untuk bangkit dari posisi, dia memeluk bantal dan hendak menarik selimut, tapi Kelana sengaja memegang erat salah satu sisi selimut itu dan membuat Hana kesusahan.


“Kelana, berhenti bermain-main! Aku masih belum siap untuk itu,” ucap Hana malu-malu, pipinya menghangat karena tanpa sadar dia membahas masalah bercinta dengan sang suami.


“Lihat! kamu bertingkah seperti remaja yang baru saja pacaran. Hei … Hana kamu itu sudah tua, harusnya kamu memikirkan untuk segera berkembang biak.”


Kalimat Kelana membuat Hana gemas dan melempar bantal di pelukan ke muka pria itu. Ia tak menyangka hubungannya dan Kelana bisa mencair seperti ini. Namun, Hana tengah meragukan sesuatu. Ia pernah gagal dalam pernikahan, dia juga tidak ingin terlalu berharap ke Kelana. Untuk sampai ke tahap percaya dan memasrahkan hidup dan hati ke pria itu, Hana masih belum mau. Ia takut terluka dan kecewa lagi. Jika Bagas yang kelasnya di bawah Kelana saja bisa menyia-nyiakannya tanpa memikirkan betapa hancur perasaannya, maka Hana pikir Kelana mungkin saja bisa menyakiti lebih dari itu, seperti membuangnya seperti sampah jika perasaan pria itu berubah.


Hana terbeku, hingga Kelana menarik selimut yang masih dia pegang dan membuat Hana terjerembab ke dalam pelukannya. Wajah mereka begitu dekat, detak jantung keduanya bahkan sudah tidak bisa dikendalikan. Kelana perlahan menyentuhkan bibir, sedangkan Hana hanya pasrah dan memejamkan mata. Bibir atasan sekaligus suaminya itu benar-benar hangat dan lembut, hingga lumaatan halus dari Kelana membuat Hana terbuai, pria itu menangkup pipi dan mengangkat tubuhnya hingga duduk di pangkuan.


Hana merasa benar-benar sudah gila, dia menikmati ciuman itu hingga tak ragu balas melumaat bibir Kelana. Ia jelas sudah sangat berpengalaman dalam hal ini, hingga untuk mengimbangi Kelana bukan lah hal yang sulit, Hana menahan bagian belakang kepala Kelana seolah tak ingin mengakhiri ciuman itu.


Keduanya masih saling mengecap dan menyesap bibir, hingga Kelana menjauhkan kepala dan menatap sayu Hana yang masih ada di pangkuan. Pria itu menyematkan helaian rambut Hana. Bibirnya menipis melihat bagaimana cantiknya mantan janda yang berusia jauh lebih muda darinya itu.


Ya, mantan janda. Karena Hana sekarang sudah menjadi istrinya.


Kelana sejatinya ingin memulai sesuatu yang memang sudah biasa dilakukan oleh pasangan yang sudah resmi menikah, tapi dia ragu. Ia takut karena kurangnya pengalaman, bagaimana jika dia tidak bisa memuaskan Hana. Kelana tiba-tiba takut jika Hana nanti membandingkan goyangan ranjangnya dengan Bagas. Hingga Kelana memilih mengangsurkan bibir ke telinga Hana dan berbisik.


“Hana, aku akan belajar dulu. Aku tidak ingin kamu melihatku seperti seorang amatiran.”


Hana pun membuka mata dan menatap lekat wajah Kelana, dia bertanya, “ Apa maksudmu? Jangan bilang kamu mau menonton video mesum sebelum melakukannya.”


“Hei … sabar!” Kelana tersenyum lebar, dia sukses membuat Hana merasa malu karena seolah wanita itu lah yang tak sabaran.


“Aku yakin bercinta sudah menjadi keahlianmu, tapi ini jelas hal yang baru untukku,” ucap Kelana.


“Aku sudah tidak perjaka, aku sudah melepaskan keperjakaanku dengan ini!” Kelana menunjukkan kelima jemari tangannya dan tertawa, Hana yang gemas pun spontan meraih telunjuk suaminya itu dan menggigitnya.


“Auch … ini sakit, apa kamu drakula?” pekik Kelana dan Hana pun langsung melompat dari pangkuannya. Hana berlari menuju kamar dan hendak mengunci pintu, tapi Kelana lebih dulu mengganjal dengan kaki dan mereka pun tertawa.


“Jangan lakukan apa-apa padaku! ingat kita baru saja jadian,” goda Hana.


“Lihat saja besok atau lusa, kamu pasti akan merintih kenikmatan di bawah tubuhku.”


“Kelana! kamu!”


Hana langsung melompat ke atas ranjang, dia tutup kepalanya dengan bantal karena merasa sangat malu.


***


Sementara berbeda dengan mereka. Bagas dan Bunga nampak menikmati apa yang mereka lakukan sekarang. Meski cinta sedikit pudar, keraguan dan pikiran jelek terhadap diri masing-masing memenuhi kepala, tapi bercinta bisa dengan mudah mengesampingkan itu semua.


Bunga berkali-kali mendesah kenikmatan saat teripang Bagas yang sudah menggembung menusuk miliknya yang menggigit erat di bawah sana. Pria itu meracau bahkan meremas dadanya dengan sedikit brutal.


“Bagas kamu sialan!” pekik Bunga yang merasa dirinya dibuat terbang melayang-layang. Ia bahkan menjerit nikmat saat teripang tak berahklak itu membuatnya mendapat banjir bandang. Bunga tahu hati Bagas terbagi, tapi entah kenapa dia tidak bisa menolak sentuhan pria itu.


Belum juga Bunga bisa mengendalikan napas setelah mendapat pelepasan, Bagas sudah menggempurnya lagi. Kali ini pria itu memainkan daging tak bertulangnya di bawah sana. Membuat Bunga sampai menarik rambutnya sambil mendesau nikmat.


“Diam! atau aku akan membuatmu menjerit lebih dari ini!” ancam Bagas.