Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 215 : Mengakui


Sementara Dinar sibuk dengan pembantunya yang satu persatu mencelupkan tangan, Kelana dan Hana sampai lah di kediaman Ayu. Keduanya disambut dengan tatapan sengit dan muka masam wanita tua itu. Kelana pasang kuda-kuda, takut karena Ayu masih memegang tongkat yang dia bawa ke kantornya tadi.


Sungguh, Hana tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi di hari ulangtahunnya. Keberkahan dan malapetaka di waktu yang bersamaan. Hana hanya bisa menunduk melihat sorot mata Ayu yang seperti sangat membenci. Namun, bukannya takut Kelana malah meraih tongkat Ayu dan membuangnya jauh.


“Apa Nenek pikir aku tidak berani melaporkan Nenek ke polisi kalau sampai memukul dan membuatku babak belur?”


“Kamu!” Ayu semakin melotot dan itu membuat Hana ingin menasehati agar dia tidak terlalu emosi. Hana takut Ayu collapse dan lewat.


“Surat perjanjian yang viral itu memang milikku dan Hana, asal Nenek tahu aku tidak pernah menyesali hal itu.”


“Dasar anak nakal!” Ayu melempar bantal sofa dan Kelana menangkapnya dengan sempurna. Pria itu tertawa dan memberikan bantal itu pada Hana.


“Tidak kena!” ledek Kelana.


“Kamu!”


“Ayolah Nek, kenapa Nenek sangat marah? bukankah jelas sekarang kami sudah saling mencintai? Hana sedang mengandung cicit Nenek, apa Nenek pikir kami berbohong? Hunny tunjukkan hasil USG dari dokter!” titah Kelana ke sang istri. Ia berjongkok di depan Ayu yang duduk di sofa untuk merayu.


Namun, bukannya luluh wanita tua itu malah memukulnya bertubi-tubi. Hingga Hana harus memohon agar Ayu menghentikan aksi brutalnya itu.


“Kamu tahu Nenek marah karena apa? karena kamu mempermainkan pernikahan! Kamu tak lebih brengsek dari penjahat!” amuk Ayu, dia masih memukul Kelana sampai Hana memegangi tangannya dan memohon.


“Kamu juga! Hanya demi uang yang bocah sableng ini tawarkan, kamu mau menjadi istri bohongannya. Apa kamu tidak takut dosa?”


Hana menggeleng, dia menolak semua ucapan Ayu dan berlutut di samping Kelana. Ia menjelaskan bahwa awalnya mereka memang berniat berpisah setelah jangka waktu yang ditentukan, tapi benih cinta mulai tumbuh dan mereka pun memutuskan untuk menjadi suami istri betulan. Hana berkata dia tulus mencintai Kelana.


“Baiklah kalau begitu kembalikan pabrik itu dan keuntungan yang kamu dapat selama pabrik itu menjadi milikmu!” bentak Ayu.


_


_


Malam harinya, Dinar masih terjaga. Ia sengaja ingin menunggu salah satu dari pembantunya mengaku. Wanita itu yakin sembilan puluh sembilan persen orang yang menyebarkan perjanjian putranya itu adalah Tata. Semua pasti akan lebih mudah baginya jika ada bukti CCTV, tapi kamar pribadi di rumahnya memang tidak memiliki alat itu untuk menjaga privasi.


Dinar membaca ulang pesan yang dikirimkan Hana, dia sempat bertanya tadi bagaiamana keadaan Kelana. Dinar bersyukur karena Kelana tidak babak belur dan hanya mendapat pukulan di lengan dari Ayu.


Sudah lama menunggu, jarum jam pun terus berputar tapi belum ada satu pun pembantu yang mengaku. Hingga saat Dinar beranjak dari kursinya terdengar suara ketukan pada daun pintu. Ia pun memerintahkan orang di baliknya masuk.


“Apa kamu ingin mengakui perbuatanmu?” tanyanya dengan sudut bibir sedikit tertarik.


_


_


_


Ketemu besok lagi ya 🤗


Makasih udah menunggu UP nya, aku selalu usahakan UP disela kesibukan RL jadi diharap maklum, tanganku Cuma 2 aku bukan siluman laba-laba wkwkkwkw