
Bagas menatap nyalang istrinya, dia bahkan tanpa bicara meninggalkan Bunga dan Tantri. Sudah cukup satu beban hidup yang harus dia tanggung, Bagas tidak ingin menanggung satu beban hidup lagi yang dirasanya jauh lebih parah dari beban hidup yang sudah dia miliki. Ya, bagi Bagas Tantri jauh lebih parah dari Bunga. Jika Bunga masih bisa bekerja, Tantri bisa apa? tidak mungkin juga wanita yang sudah nyaman menjadi seorang nyonya besar diminta mengerjakan urusan rumah tangga, belum lagi jika nanti dia dikatai memperbabukan mertua.
“Agh …”
Bagas menghempaskan koper dan berteriak frustrasi. Ia mondar-mandir di kamar, sebelum mengingat sang mantan istri.
“Hana …. Ya, aku haru bicara pada Hana untuk membujuk papanya agar tidak menceraikan mamanya Bunga.”
Bagas dengan cepat menghubungi Hana, tapi ponsel mantan istrinya itu mati, Ia pun bertambah murka dan membanting ponsel di tangan ke atas ranjang.
***
Meski masih lelah karena liburan mereka. Ke esokan paginya Hana datang ke rumah Arman. Ia datang ke sana setelah Kelana berangkat kerja, tentu saja dia berpamitan ke sang suami dan bahkan setelah dari rumah sang papa, Hana meminta izin pergi ke rumah Dinar. Ia bahkan sudah membawa baju ganti untuk suaminya. Berjaga-jaga saja, siapa tahu Dinar meminta mereka menginap malam nanti.
Hana merasa aneh, pembantu bilang Arman sedang mandi, tapi dia tidak mendapati keberadaan Tantri. Setelah meletakkan oleh-oleh di meja makan, Hana pun bertanya.
“Mama ke mana?” Hana basa-basi.
“Em … itu.” Pembantu Arman menjeda kata, bingung menggunakan kata yang tepat untuk menggambarkan.
“Sudah tidak usah dijawab aku tahu.” Hana tersenyum canggung, dia sudah membaca pesan dari Bagas kemarin, dia sengaja menolak panggilan dari mantan suaminya itu dengan alasan sibuk, jadi Bagas pun mengirim unek-unek via pesan.
_
_
“Papa yakin, mau bercerai?”
“Coba Papa pikirkan lagi, usia Papa tidak lagi muda, aku jelas tidak bisa menemani Papa sepanjang waktu karena harus mengabdi pada suami, aku paling hanya bisa datang di pagi dan pulang sore hari, itu pun saat akhir pekan karena Papa juga bekerja,” ucap Hana.
“Dia itu keterlaluan Hana, bahkan uang yang mau Papa gunakan untuk membayar pinjaman darimu dan Kelana dia permasalahkan, padahal itu uang untuk operasi bukan untuk foya-foya.” Arman menggebu.
Hana menyodorkan cangkir teh di meja agar papanya minum dan sedikit rileks.
“Pa, kami tidak meminjamkan apa-apa, kami ikhlas kok karena Papa orangtua kami.” Hana merasa sedih karena Arman mengira dia meminjamkan uang untuk biaya rumah sakitnya itu.
“Papa bukan tanpa alasan berpikir seperti itu, karena Tantri bilang Bagas dan Bunga meminta kembali uang yang dipakai sebagai DP rumah sakit Papa.”
“Apa?”
Hana bingung, tapi dia tidak mau mengungkapkan dugaannya kepada Arman, otaknya mulai berpikir, dia bermonolog di dalam hati.
“Mungkinkah Tantri mencoba meminta uang itu dari Papa karena berpikir Bagas dan Bunga tidak memintanya kembali? Hah … keluarga gila, kalau hal seperti ini sampai luput dariku, bukankah mereka akan seperti menang lotre. Si Tantri bisa mendapat uang dari Papa dan Bunga mendapat uang dari aku dan suamiku? Licik sekali.”
“Papa tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit, percaya padaku! Dan soal perceraian Papa, ya sudah sih cerai aja. Banyak wanita yang masih mau sama Papa, aku yakin!” ujar Hana pada akhirnya.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇