
Hana cemberut, dia bangkit dan bahkan merampas selang shower dari tangan Kelana. Wanita itu balas menyiramkan air ke tubuh suaminya dan membuat Kelana terjingkat karena kaget.
“Kamu!”
“Sini kamu! sini! berani-beraninya kamu mengganggu tidurku, aku sedang bermimpi bertemu aktor kesayanganku tahu!” amuk Hana. “Mimpi indahku sepertinya akan selalu berakhir karena kamu!”
Kelana berpikir tak bisa terus-terusan menghindar atau berdiam diri dengan perlakuan Hana, dia pun merampas shower dari tangan wanita itu, dan terjadi lah perebutan di antara mereka. Hingga Hana tanpa sengaja memeluk Kelana dari belakang. Mereka pun seketika diam. Dada Hana terasa aneh, dia memilih untuk menghentikan kelakuan yang kekanak-kanakan itu.
Kelana salah tingkah, dia pun berbalik dengan selang yang airnya masih memancar dari shower yang tengah dia pegang.
“Aku sudah mandi dan kamu membuatku basah lagi,” bentak Kelana menutupi perasaan yang sebenarnya.
Tubuh Hana tercetak jelas di piyama basah yang dikenakan. Kelana pun menelan saliva, tipis imannya melihat bagaimana seksi dan sintalnya dada sekretaris yang sudah menjadi istrinya itu.
“Lalu kenapa kamu iseng membawaku ke kamar mandi dan menyiram air, dingin tahu!” Hana ingin marah lagi, tapi melihat sorot mata Kelana dia memilih menunduk. Keduanya sedang menahan perasaan aneh yang bergejolak di dada.
“Kenapa dia menatapku seperti itu?”
“Sampai kapan aku harus bertahan? Dia benar-benar bisa membuatku gila.”
“Sudah cepat mandi, jangan sampai kamu membuat acara resepsi kita berantakan.” Kelana melempar shower ke dalam bathtub dan membuat Hana sampai terjingkat kaget.
“Kenapa dia seperti itu? tidak memiliki rasa empati sama sekali,” gerutu Hana.
Sambil membuka bajunya yang basah Kelana berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan lagi menghindar, jika sampai kejadian seperti ini terulang, maka dia akan langsung menerkam Hana tak peduli di mana dan dalam kondisi apa, mau wanita itu marah bahkan meronta dia tidak akan peduli.
***
Diam seribu bahasa, Kelana dan Hana memasuki ball room resepsi pernikahan mereka dengan senyuman palsu. Meski di dalam hati Hana berharap semua ini nyata.
Siapa yang tidak menginginkan dinikahi pria kaya dan menggelar pesta semegah ini? Namun, sayangnya semua ini hanya fatamorgana bagi Hana, sedih hatinya karena banyak uang yang harus dikeluarkan hanya untuk sakadar berpura-pura.
Sebuah kue berukuran besar pun menjadi pusat perhatian Hana sejak tadi, dia menebak berapa harga gue bertingkat lima dengan bentuk istana itu. Saat acara pemotongan kue pengantin dimulai,
Hana terbeku, dia bahkan tidak mendengar ucapan MC yang memintanya dan Kelana saling berpegangan tangan.
Mereka pun melakukan perintah MC, bahkan saling menyuapi setelah berhasil memotong kue itu, tapi ada yang aneh, Hana meneteskan air mata. Wanita itu mendongak karena takut merusak make up yang terlukis di wajah – yang membuat dirinya semakin terlihat cantik bak putri raja.
“Kenapa? ada apa denganmu?” bisik Kelana yang sengaja memeluk Hana. Ia tidak mungkin bertingkah seperti tak peduli pada sang istri di depan banyak orang, tapi sebenarnya dia sengaja mengambil kesempatan agar bisa sedekat itu dengan Hana.
“Berapa harga kue ini? kenapa harus ada kue sebesar ini? sayangkan jika tidak habis dimakan?”
Kelana tersenyum, Hana memang aneh, untuk apa dia menangisi kue yang jelas-jelas tidak dibeli menggunakan uangnya.
“Dasar wanita aneh,” cibir Kelana.
Namun, ternyata tidak semua orang bahagia. Bagas panas melihat kemesraan Hana dan Kelana. Di mata Bagas, Kelana lah yang seperti lintah, pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu nampak terus memeluk dan menggandeng Hana seolah tidak ingin lepas.
“Apa ini tidak berlebihan Pak?” tanya Hana saat MC meminta mereka melakukan ciuman sebelum melempar bucket bunga pengantin.
Mereka sudah berdiri di sebuah panggung di depan pelaminan dan terus tersenyum ke arah tamu undangan.
“Bagaimana? Apa aku harus menolak di depan semua orang? Bukankah malah aneh?” Kelana malah melempar pertanyaan untuk menjawab ucapan Hana.
“Lagi pula tidak dosa, kamu istriku.”
“Apa? kamu bilang apa?” tanya Hana.
“Aku tidak bilang apa-apa.” Kelana memalingkan muka menyembunyikan senyuman di wajah. “Sudah lakukan saja! anggap saja ini bagian dari sandiwara.”
Mereka pun berhadap-hadapan, Hana bahkan perlahan memejamkan mata. “Jangan salahkan aku kalau setelah ini aku jatuh cinta padamu, kamu sudah mengambil ciumanku yang berharga, meski bibirku sudah tidak perawan, tapi tetap saja seharusnya tidak berciuman denganmu yang sama sekali tidak memiliki rasa padaku,” gumam Hana di dalam hati.
“Dia sangat cantik, masa bodoh! aku tidak peduli!”
Kelana menangkup pipi Hana lantas mencium bibir dengan polesan lipstick berwarna merah muda milik istri palsunya itu. Cukup dalam dan lama, hingga Hana seketika menjauhkan kelopak dan melebarkan bola mata.
“Sial! ini manis.”
Kelana memulas senyum di bibir, begitu juga dengan Hana, meski senyumannya nampak sangat aneh karena dia kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, dadanya bergejolak parah karena merasakan kelembutan yang diberikan oleh atasannya itu.
Hana mengerjab, dia harus kembali sadar bahwa semua ini hanya sandiwara. Meraka pun mengikuti arahan MC lagi untuk melempar bucket bunga pengantin, meski dengan tatapan penuh kedengkian dari Bunga yang sejak tadi mengepalkan tangan. Wanita itu iri dengan pesta mewah Hana dan Kelana, dia merasa janda seperti Hana tidak pantas mendapat perjaka setampan dan sekaya Kelana.
“Apa aku biarkan saja mas Bagas mendekati Hana lagi? dan aku akan mendekati Pak Kelana,” tanya Bunga pada dirinya sendiri. “Tidak … tidak, aku mencintai mas Bagas.”
Bunga tersenyum menoleh suaminya. Ia mengekori arah pandangan Bagas yang sorot matanya nampak kesal. Bunga pun seketika naik darah, suaminya itu ternyata sedang menatap Hana yang digandeng mesra oleh Kelana.
"Mas Bagas!"
_
_
_
_
Like Komen 🤗