Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 152 : Buru-buru


Hana terbeku, dia memandangi ponsel dan tak berniat membalas pesan itu lagi. Namun, rasa penasaran menggelitik dadanya, hingga akhirnya dia mengetikkan satu pesan lagi untuk membalas Amanda.


[ Apa ada masalah?]


[ Aku tidak tahu harus mulai dari mana, yang jelas aku punya hutang ke Kelana. Dia tidak mau menemui atau bahkan membalas pesanku, jadi tolong katakan padanya aku ingin membayar hutang]


“Apa dia pikir suamiku tukang kredit? untuk apa dan kapan mereka terlibat hutang piutang?” gerutu Hana.


[Baiklah, nanti akan aku sampaikan, tapi jika boleh tahu dari mana kamu mendapatkan nomor kontakku? ]


Balas Hana, dia tak sabar menunggu jawaban wanita yang pernah sangat Kelana cintai itu. Bibirnya mengatup, menunggu balasan yang hanya beberapa detik itu terasa lama untukknya.


[ Dari Bu Ayu]


“Nenek?”


Hana tertegun, dia tak menyangka Ayu dengan gampangnya memberitahu nomornya ke Amanda. “Kenapa nenek melakukan ini?” Hana memilih tak berspekulasi, dia meletakkan benda pipih miliknya ke nakas dan setelah itu berjalan menuju depan pintu kamar mandi.


"Bajumu!"


“Taruh saja di ranjang Hunny, aku ganti baju di luar saja,” ucap Kelana.


Hana mematung beberapa detik, dia berpikir dulu agar bisa memutuskan menyampaikan pesan Amanda ke Kelana atau tidak.


“Mantanmu baru saja mengirimiku pesan, dia minta kamu membalas pesannya.” Hana akhirnya memilih jujur.


Ucapannya barusan membuat Kelana yang sedang keramas memilih mematikan shower dan melongok ke luar, “Mantanku? Siapa?” tanyanya dengan wajah kebingungan.


Hana tersenyum miring, pertanyaan Kelana itu dia artikan seperti ini ‘Mantanku banyak Hunny, sebutkan nama yang spesifik’.


“Memang ada berapa mantanmu," ketus Hana. "Mantan terindahmu,” imbuhnya.


“Oh … Manda,” jawab Kelana dengan entengnya, terang saja Hana melotot, dia bahkan memukul lengan sang suami lalu menghentakkan kedua kaki ke lantai sambil bersungut-sungut.


“Kamu mengakuinya, dasar jelek.” Hana merajuk seperti anak TK. Ia bahkan langsung merebah ke ranjang dan meringkuk setelah melempar baju Kelana ke ranjang.


“Astaga, apa aku salah?” Kelana menggaruk rambutnya sampai berbusa lebih banyak. “Mantan terindahku memang hanya Manda, yang lain hanya cinta monyet,” imbuhnya menolak peka dengan rasa kecemburuan Hana.


Kelana buru-buru masuk kembali untuk membilas rambut dan badan. Ia ingin segera menyelesaikan kegiatan mandinya agar bisa bermesraan dan membujuk sang istri, dia juga ingin menjelaskan apa yang terjadi, karena dia sudah tahu dengan pasti apa yang disampaikan oleh Amanda.


_


_


Bunga yang seharusnya sekamar dengan Yeni, tapi staff Bagas itu lebih memilih untuk tidur berdesakan dengan dua temannya yang lain, dari pada harus bersama Bunga.


“Tidak usah, aku bisa pesan makanan kalau lapar,” ketus Bunga di depan pintu kamarnya. Ia bersedekap dan tak mau menatap Bagas. Suaminya itu mengerjab, tapi bukannya pergi setelah dia tolak, Bagas malah mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan ke Dewi untuk ditinggal saja, dia akan menyusul nanti.


“Sudah? sana pergi aku mau … “


Kalimat Bunga terjeda, dia yang sudah masuk dan hampir menutup pintu dibuat kaget karena Bagas menahan dan menatap wajahnya tajam.


“Bunga, kenapa kamu ketus padaku?” tanyanya dengan nada merayu.


“Aku? aku biasa saja, lagi pula bukankah kamu memang menginginkan ini? seolah kita tidak saling mengenal?” sindir Bunga. Namun, dia merasakan ada sinyal-sinyal Bagas ingin belaian darinya malam itu.


“Bunga, ini membuatku hornaiiiiii,” ucap Bagas dengan suara berat dan gerakan tangan seperti macan mencakar, sepertinya birahi sudah menguasai diri pria itu.


“Apa?”


“Sensasi bercinta denganmu diam-diam agar tidak ada satu orang pun orang yang tahu membuat teripangku ngiungiu.”


Bagas minirukan suara ambulan, dia menyeringai lalu buru-buru menerobos masuk. Ia tutup pintu kamar itu dan tak lupa menguncinya. Bagas merengkuh pinggang Bunga dan menyeruduk bagaikan soang.


_


_


_


Bersambung dulu ya


Nitijen : soang itu nyosor Markonah bukan nyruduk


Markonah cantik julita : nyosor itu cuma di luar nyruduk sampai dalem ehhhh begimana 🤣🤣