Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 78 : Rem Blong


Dan pemanasan sebelum pertempuran di medan perang pun di mulai. Hana tak lagi malu untuk bersikap agresif. Baru saja masuk dan menutup pintu kamar, dia sudah melepas kausnya hingga menunjukkan bra berwana nude yang membalut dada indahnya.


Senyum Kelana pun merekah bak kucing yang diberi umpan ikan asin. Pria itu merengkuh pinggang Hana dan mulai melumaat bibir istrinya dengan rakus. Tak hanya itu, perpotongan leher Hana pun menjadi incarannya, dia begitu bersemangat tatkala melihat wanita itu menggelengkan leher ke kiri dan ke kanan karena kegelian. Mereka benar-benar menikmati sesi pemanasan, ranjang yang akan menjadi tempat pertempuran mereka pun nampak seperti memanggil-manggil agar mereka segera datang.


Hana bahkan tak segan memukul dan meremas pantat Kelana dari balik celana chinos pendek yang pria itu kenakan.


“Hancurkan aku!” ucap Kelana dengan bahasa yang sangat dimengerti oleh Hana. Istrinya itu menggigit bibir bawah sensual, sebelum menjawab permintaannya itu dengan tak kalah nakal.


“Aku akan menghancurkanmu dalam kubangan kenikmatan, rasakan seranganku kali ini. Aku tidak akan mau kalah darimu lagi.”


Bergidik bulu kuduk Kelana, darahnya serasa mendidih sampai ubun kepala. Tangannya kini nakal mencoba membuka pengait bra Hana. Namun, sebuah suara membuat mereka seketika saling pandang.


“Hana …. Kelana! Mama pulang, kalian belum makan ‘kan?”


“Mama,” ucap Hana.


Kelana yang tangannya masih memegang bagian pengait bra Hana pun menggeleng, “Biarkan saja! salah sendiri pulang malam, dia tidak boleh mengganggu bisnis kita.”


Hana tersenyum malu, dia mengangguk. Kedua belah tangan dia kalungkan ke leher Kelana, tapi suara Dinar membuat mereka terdiam lagi.


“Ayo cepat! Mama sudah kelaparan, aduh kalian itu.”


“Berisik sekali.”


Kelana mulai emosi jiwa. Ia yang masih menggunakan pakaian lengkap pun memilih membuka pintu dan melongokkan kepala. Nampak jelas di matanya Dinar sedang berdiri di dekat anak tangga sambil sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


“Mama makan saja dulu, aku dan Hana masih ada urusan. Mama ingin cucu tidak?”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Kelana menutup pintu bahkan menguncinya. Dinar melongo begitu juga dengan Hana. Pipinya bersemu merah karena pria terkasihnya ini secara terang-terangan berkata ke sang mertua bahwa mereka hendak melakukan perkembangbiakan.


“Kelana, kamu keterlaluan,” kata Hana sambil memukul dada sang suami.


“Biarkan! di situasi genting seperti ini jujur adalah jalan terbaik, pegang ini! dia sudah keras seperti perseneling.”


Mulut Hana mengaga lebar, tidak adakah bahasa yang bisa digunakan selain itu? jelas mulai besok dia akan membayangkan hohohehe jika sedang berada di mobil, apa lagi saat memegang …. Ah sudahlah. Hana pasrah saja menikmati sentuhan Kelana.


***


Pagi itu, Bagas terlihat sarapan sambil sesekali menatap ke arah Bunga. Wanita itu tidak banyak bicara sejak semalam, terang saja Bagas merasa ada yang aneh. Apa mungkin ini hanya trik yang dilakukan Bunga agar dia kembali memberikan kartu kredit dan uang belanja?


Bagas masih terus mengawasi, hingga sebuah ide yang lumayan gila terlintas di dalam pikirannya. Ya, ide gila. Namun, sepertinya bagus dan patut untuk dicoba.


“Bunga, apa kamu tidak ingin bekerja?”


“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? apa kamu ingin berhenti memberiku uang makanya bertanya seperti itu?” Bunga melempar balik pertanyaan dan terdengar sangat ketus.


Bagas malah tersenyum, dia memilih meletakkan sendok dan garpu lantas menyatukan kedua telapak tangan dengan siku bertumpu pada meja makan.


“A-a-apa? coba ulangi lagi!” pinta Bunga.


“Kamu lulusan administrasi ‘kan?” tanya Bagas sebelum melanjutkan penjelasannya. “Begini, karena menjadi istri dari pemilik perusahaan, Hana tidak mungkin lagi bekerja sebagai sekretaris. Jadi kami akan membuka lowongan untuk posisi yang akan dia tinggalkan.”


“Lalu?”


“Bagaimana kalau kamu melamar menjadi sekretaris Pak Kelana?”


Entah apa rencana Bagas, tapi dia sukses membuat Bunga bingung. Mungkinkah dia ingin sang istri merayu Kelana agar dia bisa kembali lagi pada Hana.


_


_


Dengan tergesa-gesa Bagas menuju ruangannya setelah sampai di kantor. Ia berbicara pada sang bawahan untuk segera menyiapkan proses perekrutan sekretaris baru Kelana. Tak lupa satu kalimat dia ucapkan dan tegaskan berkali-kali.


“Siapa saja boleh melamar, mau itu keluarga dekat atau bahkan adiknya sekalipun, karena posisi sekretaris Pak Kelana sangat krusial. Posisi itu tidak boleh lama-lama kosong, jadi sebelum Hana keluar, sudah harus ada sekretaris baru yang siap bekerja menggantikan.”


Senyum licik Bagas sunggingkan, seolah dia manusia paling pintar dan bisa membodohi Hana bahkan Kelana.


Pria itu berjalan cepat masuk ke dalam ruangannya. Segera dia memasang earphone setelah menyalakan laptop. Bagas ingin tahu apa yang dilakukan Hana pagi-pagi melalui kamera yang sudah dia pasang di bawah meja kerja mantan istrinya itu.


Namun, sepertinya dia harus merasakan kepahitan. Ia melihat betis Hana menjuntai dari atas meja dan juga kaki pria yang dia yakini pasti Kelana berada tepat di depannya. Samar terdengar suara decapan lidah disertai erangan yang terdengar sangat erotis.


Bagas mengeram, tangannya mengepal. Ia sudah bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh kedua mahkluk itu. Mereka pasti sedang berciuman dengan posisi Hana duduk di atas meja kerja.


“Ah … “ Kelana mengerang lagi.


Tanpa Bagas tahu sebenarnya Hana sedang mengoleskan obat ke bibir Kelana, karena peperangan semalam, Hana tanpa sengaja menggigit bibir bawah suaminya dalam-dalam saat mendapat pelepasan.


“Makanya jangan memompa kencang sambil mencium bibir, jadinya begini kan?” amuk Hana padahal dia juga senang-senang saja dipompa bahkan beberapa kali meminta Kelana melakukannya lebih cepat lagi.


“Rem blong komandan,” jawab Kelana.


Mulut Bagas pun mengaga, dia bahkan melongo mendengar percakapan yang jelas sangat menjurus ke dua satu plus itu.


_


_


_


duh jangan sampai tangan Markonah blong terus bikin adegan vanas vanas vanas