
Pagi itu Hana bersama Arman melakukan apa yang tertunda kemarin, mereka berkunjung untuk melihat Tantri di tahanan. Wanita itu jelas nampak tak seperti sebelumnya, wajahnya tirus dengan rambut yang tak terurus. Hana duduk bersebelahan dengan Arman, dibatasi oleh dinding pemisah dengan Tantri.
Meski sangat membenci dan bahkan perbuatan Tantri yang berniat melenyapkan nyawa Kelana sungguh keterlaluan, tapi tetap saja ada sedikit rasa iba di hati Hana. Setiap manusia di dunia ini pasti punya naluri untuk mengasihi, begitu juga dengan Hana yang datang ke sana membawakan beberapa baju dan juga makanan untuk Tantri.
Vonis penjara sudah dijatuhkan baik Tantri, Bunga dan Bagas dikenai beberapa pasal dan harus mendekam di balik jeruji besi dalam waktu yang tidak sebentar. Sebenarnya Hana datang hanya ingin memastikan sesuatu. Fakta yang baru dia ketahui dari Arman sungguh mencengangkan.
Hana tahu bahawa Tantri masih saudara jauh ibundanya, tapi yang dia tidak tahu adalah fakta bahwa wanita itu sempat berniat mendonorkan ginjal saat sang ibunda sakit. Hana kini baru mengerti kenapa Arman bisa menikahi wanita sekejam Tantri, mungkin karena rasa simpati dan balas budi.
“Untuk apa datang ke sini,” ketus Tantri.
“Karena kamu tidak punya keluarga lagi selain kami,” jawab Hana dengan mata terus menatap ke Tantri. “Aku ke sini karena ingin menanyakan beberapa pertanyaan.”
“Aku tidak akan menjawabnya biar kamu mati penasaran.” Tantri menarik sudut bibir, dia membuang muka seolah tidak sudi menatap Hana.
“Seberapa besar rasa sayangmu ke Bunga, sampai kamu membiakan dan malah mendukungnya merebut suami kakaknya sendiri? lalu tidak ‘kah pernah kamu berpikir bahwa aku sangat ingin kita bisa menjadi ibu dan anak tiri yang saling mengasihi?” Pertanyaan Hana membuat Tantri tersentak, urat di wajahnya nampak mengendur dan perlahan wanita itu menatap ke arahnya.
“Kamu sedang hamil ‘kan? nanti saat kamu tengah berjuang melahirkan anakmu ke dunia, kamu akan merasakan apa itu yang disebut bertaruh nyawa. Saat pertama kali kamu melihat wajah dan mendengar tangisan anakmu, aku ingin lihat apa kamu bisa untuk tidak berjanji menjaganya seumur hidupmu. Kamu tahu Hana apa yang paling ditakuti semua ibu?” tanya Tantri, netra wanita itu nampak berkaca-kaca.
“Lalu apa alasan itu bisa membenarkan tindakanmu? Apa kamu tidak berpikir? kamu tidak ingin anakmu disakiti tapi kamu menyakiti anak dari ibu lain,” kata Hana. “Aku ke sini hanya ingin mengucapkan terima kasih, terima kasih karena sudah pernah berniat menolong ibuku. Aku membawakanmu banyak barang dan makanan, semoga semua itu bisa membayar niatan baikmu di masa lalu. Dan semoga apa yang kamu dapat di penjara bisa membuatmu berpikir, akan jadi seperti apa anak tergantung didikan orangtua. Kamu sangat mencintai Bunga tapi cintamu itu pada akhirnya malah menjerumuskannya.”
Setelah mengucapkan kalimat itu Hana berdiri, Arman yang sejak tadi berada di sampingnya pun sampai mendongak. Ia bahkan belum berbicara apa-apa pada Tantri tapi Hana sepertinya sudah berniat untuk pergi.
“Yang menghancurkan Bunga adalah kamu – ibunya sendiri.”
_
_
_
Geng karena novelku di sini yang dapat bayaran cuma Hana, maka aku panjangin mungkin sampai akhir bulan ini. Semoga kalian maklum. Aku ada 3 novel on going di sini tapi yang lain nggak menghasilkan. Aku realistis aja, nggak bisa nulis tanpa dapat gaji.
untuk GA cincin emas aku akan share hari ini di IG aku @nasyamahila jadi silahkan follow