Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 146 : Itu Efek Obat


“Hah …. Hah… Hah …. “


Hana megap-megap, badannya bahkan sudah menyandar hampir tertidur di sofa. Ia melihat dengan jelas suaminya tertawa puas sambil mengusap bibir yang basah. Kelana baru saja menyerangnya dengan lidah tornado andalannya. Ternyata diam-diam selama ini pria itu selain menikmati juga mempelajari apa yang dia lakukan.


“Bagaimana Hunny? Aku sudah bisa melakukan jurus itu ‘kan?” tanya Kelana mesum. Ia kaget karena Hana malah memukul dadanya.


“Papa bangun tahu, sudah aku bilang.”


“Apa?” Kelana menoleh, dan seketika jantungnya hampir melompat keluar kerana Arman sudah menatap ke arahnya dengan seringai dan tatapan seolah ingin berkata 'ketahuan kau'.


“Hunny, bantu aku menyembunyikan muka, aku malu.”


Kelana mengatupkan bibir sedangkan Hana bergegas bangun untuk mendekat ke arah ranjang sang papa. Wanita itu bertanya apa yang dirasakan Arman dan berpamitan keluar untuk memanggil perawat.


“A-a-aku saja yang panggil perawat,” ucap Kelana, dia terburu-buru seperti orang yang hampir kabur sampai lututnya terbentur meja. “Aduh!” pekiknya, meski begitu dia tetap tersenyum dan sempat berkata ke Hana, “Temani saja papa Hunny, temani!”


Hana menyembunyikan rasa geli yang menggelitik rongga perut. Ia bahkan ikut malu saat Arman menatapnya dengan kening yang terlipat.


“Hana, tadi papa berhalusinasi sepertinya, papa melihat Kelana nindih kamu di sofa itu,” ucap Arman.


“Ah … iya Pa, papa berhalusinasi, itu mungkin efek dari bius, aku dan suamiku tadi memang duduk di situ, tapi kami sedang minum kopi, lihat! cup-nya saja masih.” Meski berbohong tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin Hana berkata dia ditindih dan dicium dengan membabi buta oleh Kelana.


_


_


“Hunny, Papa tidak bertanya apa-apa ‘kan?” Kelana berbisik di telinga Hana yang berdiri dengannya agak jauh dari ranjang Arman.


“Sebentar aku ambilkan tisu,” ucap Hana, dia hampir berdiri dan meletakkan piring ke nakas untuk mengambil tisu tapi Kelana menyodorkannya lebih dulu.


Hana tersenyum, dia usap bibir papanya yang belepotan. Kelana pun balas melempar senyum, tapi seketika syok saat mertuanya berkata, “Aku tadi waktu setengah sadar seperti melihatmu dan Hana sedang begituan.”


Bahu Hana mengedik, sedangkan Kelana menggaruk-garuk pantatnya yang tidak gatal. Ia bingung harus memberi respon seperti apa, beruntung Hana menimpali.


“Iya, Papa pasti masih berada di bawah pengaruh obat bius, kami berdua tadi duduk dan makan di sofa, jadi jelas tidak melakukan hal yang seperti papa lihat.”


“Benar Pa. Mana mungkin hal begitu kami lakukan? ini rumah sakit! iya ‘kan Hunny.” Kelana meminta dukungan ke sang istri. Namun, sayang Hana hanya tertawa dan tak mau berkata ‘iya’.


Arman pun tersenyum, pria itu lantas menjelaskan ke Hana dan Kelana bahwa semua biaya operasi dan perawatannya akan dia ganti setelah keluar dari rumah sakit. Hana pun menggeleng menolak ucapan sang papa. Ia meyakinkan bahwa dia dan Kelana ikhlas membiayai pengobatannya.


“Papa punya uang kok, tapi memang papa sembunyikan, karena kalau tidak Mamamu pasti akan menggunakannya untuk keperluan yang tidak penting,” kata Arman. “Papa menyimpannya di tempat aman, dia pasti tidak bisa menemukannya.”


 


_


_


_


Scroll ke bawah 👇