Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 158 : Terlambat Datang


“Aku hanya ingin dia menyesal dan mengakui kejahatannya. Apa yang mereka lakukan itu bukankah sudah bisa dikategorikan tindakan kriminal, aku dihajar habis-habisan, dipukuli dan bahkan … “


Tepat setelah menoleh Hana terdiam, Kelana memberikan kecupan di bibirnya meski sekilas. Beruntung tidak ada pengunjung yang melihat. Hana terkekeh, dia pukul lengan suaminya sambil menunduk malu.


“Apa kamu sudah gila? Sayang, bagaimana jika ada yang melihat? Kita bisa ditangkap dengan dakwaan melakukan adegan plus plus di tempat umum.” Hana mengomel. Ia sampai menggeser badan karena Kelana merengkuh pinggang dan merapatkan posisi mereka.


“Aku akan menunjukkan kalau kita suami istri, kita itu halal lho!”


Hana menganggukkan kepala masih dengan tawa renyah, dia balas melingkarkan tangannya ke pinggang Kelana dari belakang. Mereka duduk menikmati honeymoon berkedok gathering itu.


_


_


Puas dan lelah berjalan-jalan, kini saatnya mengisi perut. Sebuah rumah makan gudeg terkenal mereka sambangi, beberapa ada yang cocok dengan makanan khas kota Jogja itu, tapi beberapa juga merasa kalau makanan itu aneh dan bahkan tidak masuk ke lidah mereka.


Bunga salah satunya, dia tidak menghabiskan makanannya karena merasa tidak cocok di lidah, putri Tantri itu hanya menyantap ayam dan membiarkan kondimen lain yang ada di piring. Untungnya Bagas tahu dan tanpa rasa malu meminta makanan yang tak dihabiskan sang istri.


Bagas cuek, dia seolah tidak terganggu pasal hubungan mereka yang sudah terbongkar ke semua orang. Dengan lahap dia menyantap makanan itu dan bahkan berniat membeli untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.


“Malam ini apa benar kita akan berpesta di private room hotel itu, Pak?” Alden Bertanya pada Kelana. Atasannya itu mengangguk bahkan berkata sudah memesan makanan dan minuman mahal dari hotel.


“Bagaimana pak kalau kita semua teler?” tanya pemuda itu lagi.


“Ya sudah tidur sampai pagi,” jawab Kelana tanpa berpikir. Semua bawahannya pun tergelak.


***


Kelana memberikan pesan ke Hana sebelum keluar dari kamar mereka, agak takut juga Hana jika sampai Bagas mengetahui rencana ini. Mantan suaminya jelas sangat licik. Namun, tanpa Hana tahu, ada satu hal yang membuat Kelana percaya diri. Ia bisa membaca itu dari sifat dan tingkah Bagas yang sudah dia amati sejauh ini. Ya, uang dan pangkat. Kelana berencana menggunakan dua hal itu untuk memancing Bagas agar merasa nyaman dulu berbincang dengannya, setelah itu baru melancarkan aksi.


Hana mengangguk, dia juga berencana memakai uang untuk membuat Bunga fokus padanya dan melupakan Bagas yang sedang bersama Kelana.


“Kamu tahu ‘kan, sayang? Bunga sebenarnya ingin meminta uang yang sudah dibayarkan Bagas untuk DP biaya rumah sakit papa kemarin, tapi aku memintanya untuk menagih langsung ke kamu, apa dia sudah menagih?”


Kelana malah terkekeh, “Luar biasa, tidak emak tidak anak sama saja mata duitannya, tapi dia belum mengatakan apa-apa padaku, mungkin dia tidak berani.”


“Hem … maka dari itu aku akan membahas uang itu dan membicarakan beberapa hal yang memang ingin aku sampaikan, salah satunya soal ibunya yang seperti terus merongrong papa.” Hana berkata dengan sedikit geram. “Tapi sebelum itu, aku tetap ingin ikut berpesta dulu, aku ingin mencoba minum cocktail.”


“Jangan! tidak usah macam-macam! Kamu minum air mineral saja, bagaimana kalau ternyata sudah ada calon anak kita di situ.” Kelana menatap perut Hana, kedipan matanya menunjuk tepat di sana. “Hunny apa kamu tidak menghitung? Sepertinya palang merahmu sudah dua minggu lebih terlambat datang.


“Apa kamu menghitungnya?” tanya Hana yang syok, padahal dia sendiri lupa.


“Haish …. Kamu pikir?”


_


_


_


Scroll ke bawah 👇