
“Apa sih?”
Bagas yang ditarik-tarik oleh Bunga terus menggerutu. Semua staffnya memang sudah tahu hubungan apa yang terjalin di antara mereka, tapi diperlakukan seperti ini, Bagas juga agak kesal karena seperti tak memiliki wibawa. Pria itu menghempaskan tangan Bunga saat mereka berada di koridor yang sepi.
“Apa-apaan sih kamu? belum puas bikin kepalaku mau meledak?” Bagas murka.
Bagaimana kepala pria itu tidak mau meledak, kalau sang mertua yang aduhai bawelnya sekarang tinggal bersama dia dan Bunga. Bagas sempat berpikir ingin protes pada Hana dan Kelana soal menampung Tantri, tapi mana mungkin dia melakukan itu?
Secara garis keturunan Hana dan Kelana hanya anak dan menantu tiri. Bunga lah yang memang harus bertanggungjawab pada wanita itu, meski sebagai orang yang sudah tua, Tantri seharusnya bisa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.
Kepala Bagas pusing tujuh keliling, jika tidak malu karena akan merusak ketampanannya, pria itu ingin sekali menempelkan koyo panas di pilipis.
“Haduh … marahnya nanti saja bisa nggak sih Mas Bagas, ini ada sesuatu yang penting.” Bunga mengeram, dia bahkan mengepalkan tangan sambil *******-***** angin di depan muka sang suami.
“Apa? apa yang penting? Mamamu mau pergi dari rumah kita? Rujuk dia sama papanya Hana?” ketus Bagas.
Bunga sebal, dia memutar bola mata sebelum mengehentakkan kaki beberapa kali ke lantai lalu menolak semua dugaan Bagas.
“Bukan, ini lebih penting! Lebih mencurigakan dan feelingku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres antara Pak Kelana dan Hana.” Bunga mengangguk, matanya menyipit dan Bagas pun terpengaruh. Pria itu menahan emosinya untuk mendengarkan apa maksud sang istri.
“Kamu tahu?”
“Tidak,” potong Bagas cepat.
Bunga pun mengeram, dia kembali meremas udara di depan muka sang suami. “Makanya aku beri tahu.”
“Ya sudah kenapa tanya.”
“Meja kerjaku tiba-tiba saja ganti,” ucap Bunga. Ia mundur ke belakang karena Bagas memajukan badan seperti menggertak dengan gesture seperti orang yang ingin memukul.
“Lalu apa yang aneh dengan hal itu, Ha?” Bagas emosi, kini gilaran pria itu yang mengepalkan tangan. “Haish … Bunga, kamu itu memang menyusahkan saja, menyebalkan. Aku masih banyak pekerjaan.”
Bagas memutar badan, dia berniat meninggalkan Bunga karena berpikir istrinya itu hanya mengada-ada. Namun, langkahnya terhenti, dia seketika memutar tumit kembali saat Bunga menjelaskan lebih jauh lagi.
“Ada sesuatu yang disembunyikan Hana di laci meja itu, aku yakin. Dan dia pasti ketakutan aku akan menemukannya.” Bunga mengangguk dengan penuh keyakinan.
“Dia pasti meminta OB menukar meja kerja itu. jika kamu tidak mau mengecek bersamaku, bagaimana kalau kamu tunjukkan saja di mana kemungkinan meja itu diletakkan, aku akan mengeceknya sendiri.”
Bunga sempat berpikir bahwa suaminya antusias, tapi nyatanya tidak. Ia malah ditertawai oleh Bagas. Bahkan sebelum pergi pria itu sempat berkata padanya-
“Kamu bisa mencarinya di gudang, atau tanyakan saja ke bagian sarana prasarana kantor. Jika kamu menemukan apa yang kamu duga beritahu aku.”
“Memberitahumu? Enak saja! jika aku menemukan alat yang bisa aku pakai untuk menjatuhkan Hana, tentu aku akan menyimpannya sendiri, kamu bahkan tidak peduli dan memintaku mengecek sendiri. “ Bunga bersungut-sungut. Wanita itu berjalan menuju bagian sarpras. Ia menggulung lengan kemeja bergantian dan melangkah lebar-lebar.
“Aku yakin bisa menemukan petunjuk di sana, sesuatu yang bisa membuat Hana jatuh, lihat saja!”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇